Pemkot Surabaya Tidak Betul-Betul Peduli Pada Pemuda


Pemerintah kota (Pemkot) Surabaya baru saja membuat Musyawarah Rencana Pembangunan (Musrenbang) Pemuda. Hanya saja, tidak semua unsur pemuda digandeng.

MERAHPUTIH I SURABAYA - Pemerintah kota (Pemkot) Surabaya baru saja membuat Musyawarah Rencana Pembangunan (Musrenbang) Pemuda. Hanya saja, tidak semua unsur pemuda digandeng. Hanya organisasi tertentu yang dilibatkan dalam kegiatan tersebut. Sontak kondisi itu direspon oleh pemuda lintas organisasi di Kota Pahlawan.

Ketua Bidang Pengembangan dan Pembinaan Pemuda Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia Wilayah Jawa Timur (P-PGIW Jatim) Wicaksana Isa Nugraha PH mengaku tidak mengetahui adanya musrembang kepemudaan itu. Karena itu, ia menyimpulkan bahwa musrembang itu pada dasarnya hanya formalitas semata. 

Agar, bisa mencerminkan bahwa pemimpin Kota Pahlawan peduli dengan pemuda. “Kalau memang beliau (Eri Cahyadi) melibatkan pemuda dalam pembangunan daerah, seharusnya ia melibatkan semua unsur kepemudaan. Buktinya kan tidak,” katanya, Jumat 21 Juni 2024.

Karena itu, ia sangat menyayangkan sikap pemerintah kota (Pemkot) Surabaya yang bisa merangkul pemuda secara utuh. Padahal menurutnya, pemuda merupakan generasi penerus bangsa. Melanjutkan pembangunan-pembangunan yang saat ini sedang dikerjakan.

Di samping itu, Isa menilai, kurangnya inisiatif dari pemkot Surabaya untuk mengajak organisasi-organisasi kepemudaan berdialog.

"Bagi saya, nilai budaya Arek Suroboyo yang patut dijaga adalah budaya Cangkruk,” ungkapnya.

“Dalam budaya Cangkruk tidak hanya sekedar nongkrong saja. Tapi bisa saling mengkritisi satu sama lain dan berdialog. Dimana ini kemudian bisa membangun setiap orang yang ada didalamnya. Nyangkruk ae gak tau, yoopo kate dirungokno utowo dijak melu?," Katanya lagi.

Melihat lebih jauh, dengan minimnya organisasi yang dilibatkan pada Musrenbang Pemuda kali ini, ia mengantisipasi adanya bias dan penggiringan opini dalam penjaringan aspirasi pemuda ini. 

"Kami mengkhawatirkan apabila dalam Musrenbang Pemuda ini bisa menjadi kurang komunikatif dan tidak tepat sasaran apabila kurang melibatkan partisipasi dari organisasi kepemudaan yang lain,” ucapnya.

Menurutnya, apabila musrembang kepemudaan itu untuk menjaring aspirasi, maka menjadi wajar bagi pemkot Surabaya juga membagikan visinya bagi anak-anak muda Surabaya.

Sehingga pembangunan kota bisa dijalankan lebih progresif. “Kita bisa belajar dari filsuf Habermas. Bahwa pentingnya tindakan komunikatif dan kelestarian ruang publik dalam hidup bermasyarakat,” tegasnya.

Hal senada disampaikan Ketua umum Dewan Pimpinan Cabang Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Surabaya Rizky Syahputra. Ia mengatakan, jika memang pemkot Surabaya ingin menjaring aspirasi anak-anak muda, maka seharusnya tidak hanya melibatkan organisasi kepemudaan yang berbasis territorial, namun juga ideologis dan akademis. 

"Perlu diingatkan bahwasanya secara historis, Kota Surabaya bukan hanya ruang perdagangan dan ruang tinggal. Namun juga ruang seni, kebudayaan, dan pemikiran. Di Surabaya-lah banyak kemudian muncul tokoh-tokoh pemikir bangsa seperti Haji Oemar Said (H.O.S) Tjokroaminoto dan Bung Karno," ungkapnya.

Lebih lanjut, dengan minimnya organisasi yang terlibat dalam Musrenbang Pemuda kali ini, ia mengkhawatirkan bahaya ruang gema atau echo chamber dalam penjaringan aspirasi pemuda di Kota Surabaya.

"Yang kami khawatirkan, jika Musrenbang Pemuda ini minim partisipasi organisasi kepemudaan lain, saya rasa sumbangsih perspektif dan gagasan juga akan sangat minim. Nanti akan berimbas kepada aspirasi yang diberikan kepada pemkot Surabaya. Hanya mendukung tanpa mengkritisi kebijakan," katanya.

Rizky juga menyatakan bahwa masih banyak organisasi kepemudaan yang peduli akan permasalahan di kota Surabaya. Tentunya dengan pisau analisis dan pendekatannya masing-masing.

"Masih banyak organisasi yang ingin berbagi aspirasi dan keresahan dengan pemkot Surabaya. Misalnya kami selaku mahasiswa, seperti BEM Universitas yang ada di Surabaya, kemudian organisasi-organisasi yang tergabung dalam Cipayung plus, organisasi kemasyarakatan seperti Karang Taruna, Gusdurian, dan organisasi keagamaan seperti Pemuda Katolik, dan Pemuda PGI," terangnya. (KEL)