MERAHPUTIH I SURABAYA – Anggota DPR RI Lia Istifhama mengajak generasi muda, perempuan, dan pemerintah memperkuat kolaborasi untuk menjaga lingkungan sekaligus mendorong pembangunan berkelanjutan. Ia menilai demokrasi harus menjadi ruang lahirnya kebijakan yang tidak hanya berorientasi pada kepentingan manusia, tetapi juga menjaga keseimbangan ekologis.
Pesan tersebut disampaikan Lia yang akrab disapa Ning Lia dalam talk show bertajuk “Masa Depan Green Democracy: Kolaborasi Pemuda, Perempuan, dan Pemerintah dalam Pembangunan Berkelanjutan” yang digelar Gerakan Aksi Sosial Pemuda (GAS Pemuda) di EXO Mangrove Surabaya, Minggu (25/10).
Ning Lia mengapresiasi keterlibatan generasi muda, termasuk Gen Alpha, yang mulai menunjukkan kepedulian terhadap ancaman perubahan iklim. Menurutnya, kesadaran tersebut perlu diwujudkan melalui tindakan nyata untuk melindungi alam.
Ia juga mengingatkan bahaya greedy economics atau ekonomi yang berorientasi pada keserakahan, termasuk praktik eksploitasi sumber daya alam yang dapat memicu kerusakan lingkungan.
“Generasi muda harus menjadi tonggak untuk melawan greedy economics. Kita perlu merawat kelestarian dan keberlanjutan, salah satunya dengan menjaga mangrove,” tegasnya.
Ning Lia menambahkan, konsep green integrity harus diperkuat melalui kerja sama lintas sektor. Ia mendorong perubahan paradigma bisnis dan politik agar tidak lagi berjalan dengan pola biasa, melainkan mempertimbangkan keberlanjutan lingkungan dalam setiap keputusan.
Menurutnya, demokrasi hijau harus mampu melahirkan kebijakan yang menyeimbangkan kebutuhan masyarakat dengan perlindungan ekosistem, termasuk memastikan keberlanjutan pangan dan ketersediaan air bersih bagi generasi mendatang.
Sementara itu, Kepala Dinas Lingkungan Hidup Provinsi Jawa Timur menegaskan, generasi muda bukan sekadar pewaris masa depan, tetapi juga penggerak perubahan lingkungan saat ini.
Berdasarkan Peta Mangrove Nasional 2025, luas mangrove di Jawa Timur tercatat sekitar 31.667,5 hektare, menjadikannya salah satu kawasan mangrove penting di Pulau Jawa. Ekosistem ini berperan menahan abrasi, menjadi habitat biota, menyerap karbon biru, serta menopang kehidupan masyarakat pesisir.
Pemerintah Provinsi Jawa Timur, lanjutnya, terus memperkuat perlindungan dan pengelolaan mangrove melalui kebijakan, Kelompok Kerja Mangrove Daerah, Festival Mangrove, serta program Sagara Kita yang mengintegrasikan pemulihan pesisir dengan pemberdayaan masyarakat dan pengembangan ekonomi sirkular.
Ia menekankan, keberhasilan rehabilitasi mangrove tidak cukup diukur dari jumlah bibit yang ditanam, tetapi dari seberapa banyak tanaman mampu tumbuh dan bertahan.
“Menanam dengan benar, merawat secara rutin, dan memantau pertumbuhan menjadi bagian penting dari keberhasilan pemulihan mangrove,” ujarnya.
Talk show tersebut sekaligus menjadi bagian dari peringatan satu tahun GAS Pemuda. Pendiri sekaligus Ketua Umum GAS Pemuda, Charly Haryono Teguh, mengatakan organisasinya berdiri di Surabaya pada 28 Oktober 2025 dengan semangat menjadikan pemuda sebagai penggerak perubahan sosial.
Mengusung tema HUT pertama “Merajut Kepedulian, Menggerakkan Kebaikan”, GAS Pemuda selama setahun terakhir menjalankan berbagai kegiatan sosial, mulai dari penyaluran sembako hingga pembagian 1.000 paket makanan gratis bagi warga prasejahtera di Surabaya.
Pada momentum ulang tahun tersebut, GAS Pemuda memperluas pengabdiannya melalui penanaman mangrove dan seminar literasi lingkungan bagi generasi muda.
Charly berharap dukungan berbagai pihak terus menguatkan langkah organisasinya dalam menjalankan aksi sosial dan pelestarian alam. Baginya, kepedulian terhadap sesama harus berjalan beriringan dengan tanggung jawab menjaga lingkungan demi masa depan yang berkelanjutan.(pps)
Editor : Redaksi