Dugaan Limbah Pabrik SIER, Benarkah Ada Kejahatan Korporasinya?


Air Waduk SIER di Rungkut Surabaya yang diduga tercemar limbah pabrik.

MERAH PUTIH | Surabaya – Kepastian penyebab ribuan ikan mati di Waduk SIER (Surabaya Industrial Estate Rungkut) Surabaya, apakah akibat limbah pabrik atau anomali cuaca masih menjadi perdebatan. Namun publik meyakini air waduk tercemar limbah industri. Jika nantinya terungkap ada keterlibatan pabrik dalam pencemaran lingkungan di SIER, maka tindakan itu dikategorikan sebagai kejahatan korporasi. Lantas, bagaimana dengan kasus di Waduk SIER?

Kondisi warna air di waduk PT SIER mulai berangsur normal, meski Senin (8/6/2020), masih terlihat kehitam-hitaman. Salah satu anggota Polsek Tenggilis ketika berbincang dengan Harian Merah Putih mengatakan sudah tidak ada lagi ikan mati. Namun, bau busuk akibat bangkai ikan masih tetap tercium hingga saat ini.

"Kalau ikan mati sudah tidak ada mas, cuma bau busuknya masih menyengat hingga saat ini," kata perwira polisi yang bertugas di Polsek Tenggilis ini.

Lain halnya dengan pengakuan Ahmad Syukur yang berjualan di sekitaran area Rungkut Industri. Menurutnya, kakaknya pagi tadi masih membersihkan bangkai ikan yang mengapung di pinggiran Waduk PT SIER.

"Sampai pagi tadi masih ada mas, meskipun sudah tidak sebanyak kemarin. Soalnya kakak saya tadi pagi masih membersihkan bangkai ikan yang berada di pinggiran waduk PT SIER, kemungkinan ikan itu sudah mati dari kemarin, karena posisi bangkainya ditengah waduk makanya baru ditemukan pagi tadi di pinggiran waduk," ungkap pria yang akrab disapa Cak Mat itu.

Cak Mat menjelaskan kemungkinan ribuan ikan mati di Waduk PT SIER karena adanya limbah pabrik di kawasan Rungkut Industri yang terbawa banjir akibat hujan deras pada Kamis, 28 Mei lalu. “Waktu hujan deras pada Kamis akhir bulan kemarin disini banjir mas, mungkin pas banjir itu ada limbah di salah satu pabrik disini yang entah disengaja atau tidak disengaja terbawa arus banjir hingga menyebabkan ikan mati di Waduk PT SIER, karena tidak lama setelah banjir itu ada kejadian banyaknya ikan mati di Waduk SIER," ungkapnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Surabaya Eko Agus Supiandi ketika dikonfirmasi terkait hasil uji laboratorium air di Waduk PT SIER mengatakan jika hasilnya baru keluar minggu depan. "Nunggu lab dulu mas, hasilnya baru keluar minggu depan," ucap Agus dihubungi, Senin (8/6).

Ditanya terkait kemungkinan adanya limbah bocor yang menyebabkan banyaknya ikan mati di Waduk PT SIER, Agus tidak yakin. Menurutnya, PT SIER memiliki sistem pengolahan limbah yang bagus. Ketika ditanyakan kemungkinan kebocoran limbah dari pabrik lain, Agus menyatakan jika sampai saat ini belum menemukan indikasi tersebut.

Sementara itu beredar info dari masyarakat yang mengatakan ada bocornya pipa PDAM di daerah Rungkut Industri. Harian Merah Putih pun menghubungi Humas PDAM Surabaya. Fitri selaku Humas PDAM Surabaya sempat  menyatakan ada kebocoran pipa PDAM di daerah Rungkut Industri pada hari Rabu 28 Mei, akhir bulan lalu.

"Ya benar ada kebocoran pipa PDAM di daerah Rungkut Industri mas, tapi kayaknya sudah diperbaiki, saya cek dulu nggih," kata Fitri dihubungi melalui selulernya, Senin (8/6).

Namun anehnya, Fitri meralat pernyataanya. "Mohon maaf setelah saya info ke spv (Supervisor) terkait kok blm ada yg bocor ngih," kata Fitri yang mengirim ralatnya melalui Whatsapp.

Harian Merah Putih juga berusaha mengkonfirmasi ke Manajemen PT SIER. Namun, Agung Adji salah satu Security yang berjaga di pintu masuk mengatakan jika Manajemen PT SIER sedang tidak ada di tempat. "Seluruh jajaran PT SIER semuanya Work Form Home (WFH) 100 persen mas," kata Agung.

Agung menambahkan jika pagi tadi sempat ada Manajemen PT SIER yang masuk, namun hanya mengikuti rapid test. "Tadi pagi sempat ada Manajemen masuk mas, ikut rapid test, tapi setelah itu langsung pulang semua," ucap Agung.

Didik Prasetiono, Komisaris PT SIER ketika dikonfirmasi melalui ponselnya terkait informasi adanya limbah pabrik yang ikut terbuang ke saluran Waduk SIER, ia mengarahkan wartawan agar menghubungi Sekretaris PT SIER Tuaji. "Jadi gini mas, yang bertugas memberikan informasi perusahaan keluar adalah Pak Tuaji selaku Sekretaris. Jadi langsung hubungi Pak Tuaji saja nggih," kata Didik.

Sementara itu, Pakar Hukum Lingkungan dari Universitas Airlangga (Unair) Surabaya Prof. Dr. Suparto Wijoyo, menyatakan jika memang ada pidana lingkungan yang ditemukan dalam insiden matinya ribuan ikan di Waduk PT SIER maka pihak kepolisian harus segera melakukan tindakan penegakan hukum.

"Intinya kalau kejahatan ya diproses hukum dan kalau melibatkan perusahaan maka tindakan itu masuk kualifikasi kejahatan korporasi," jelas Prof Suparto kepada Harian Merah Putih, Senin (8/6).

Ia menguatkan analisa yang dilakukan Direktur Lembaga Ecoton (Ecological Observation and Wetlands Conservation) Prigi Arisandi dan Wahyu Eka, Manajer Kampanye Walhi (Wahana Lingkungan Hidup Indonesia) Jatim. Prigi meminta agar pihak Kepolisian turun tangan untuk melakukan penyelidikan terkait kejadian matinya ribuan ikan di Waduk SIER. Menurut Prigi, dalam kasus matinya ribuan ikan itu ada indikasi pidana lingkungan.

"Seharusnya Polrestabes Surabaya turun juga untuk melakukan penyelidikan, karena jelas ada indikasi pidana lingkungan dalam kasus ribuan ikan yang mati di Waduk SIER," tegas Prigi.

Prigi menjelaskan dalam kasus matinya ikan di Waduk SIER bisa dikategorikan pencemaran lingkungan. "Kasus matinya ikan bisa dikategorikan pencemaran lingkungan. Dan masuk delik biasa, sehingga dengan info di Harian Merah Putih, Polrestabes Surabaya harusnya langsung menurunkan tim untuk melakukan penyidikan," terang Prigi yang pernah mendapatkan penghargaan internasional Goldman Environmental Prize 2011.

Sedang Wahyu Eka mengatakan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Surabaya harus berkordinasi dengan pihak kepolisian untuk melakukan riset yang lebih mendalam. Jika ditemukan indikasi kejahatan pencemaran lingkungan terkait kasus matinya ribuan ikan di Waduk SIER, maka pelaku bisa dijerat dengan UU RI Nomor 32 Tahun 2009 Pasal 98 ayat (1) tentang Perlindungan dan Pengelolahan Lingkungan Hidup.

"Kalau berkaca pada Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 32 Tahun 2009 Tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup Pasal 98 ayat (1) bahwa setiap orang yang dengan sengaja melakukan perbuatan yang mengakibatkan dilampauinya baku mutu udara ambien, baku mutu air, baku mutu air laut, atau kriteria baku kerusakan lingkungan hidup, dipidana dengan pidana penjara paling singkat tiga tahun dan paling lama sepuluh tahun. Dan denda paling sedikit Rp 3 miliar dan paling banyak Rp 10 miliar," ungkap Wahyu. (her/jim)