Gerak Sigap Media Jadi Ujung Tombak Pencegahan Perundungan


Dita Amalia, selaku Direktur Yayasan PLATO memaparkan hasil poling tentang perundungan di depan awak media.

MERAHPUTIH I SURABAYA - Maraknya perundungan di kalangan anak-anak hingga remaja terkadang tidak mendapat perhatian serius dari pemerintah maupun masyarakat. Padahal dari banyak bukti, perundungan mengakibatkan dampak serius dan bahkan fatal hingga kematian.

Sebuah sumber dari Ikhtisar Eksekutif Strategi Nasional Penghapusan Kekerasan Terhadap Anak 2016-2020 oleh Kemen-PPPA menyebutkan 84 persen siswa di Indonesia mengalami kekerasan di sekolah. Disusul negara lain, Vietnam dan Nepal sebanyak 79 persen. Fakta ini mengungkan betapa banyak kasus-kasus perundungan di sekolah yang menyebabkan anak-anak dan remaja mengalami gangguan psikis dalam pergaulan.

Terobosan program pencegahan perundungan berbasis sekolah dikenal sebagai “ROOTS” telah dikembangkan oleh UNICEF bersama Pemerintah Indonesia, akademisi, serta praktisi pendidikan dan perlindungan anak. Program ini telah berhasil menurunkan hingga 29,6% angka perundungan di sekolah tingkat SMP yang dijalankan di Jawa Tengah dan Sulawesi Selatan pada 2017.

Roots berfokus pada membangun iklim positif sekolah melalui kegiatan yang dipimpin oleh siswa sebagai agen perubahan untuk menyebarkan pesan dan perilaku positif di lingkungan sekolah. Pada 2021, Yayasan PLATO dengan dukungan UNICEF mendukung program Kemendikbudristek dalam pelaksanaan Program Roots Indonesia di Jawa dengan jangkauan wilayah meliputi Jawa Timur, Jawa Tengah, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Jawa Barat, DKI Jakarta dan Banten.

Untuk itu upaya penghentian dan pencegahan perundungan di dunia pendidikan harus dilakukan semua pihak, termasuk media massa. Sebagai bentuk peningkatan pemahaman dan peran media cetak dan elektronik dalam mendukung pelaksanaan Program Roots Indonesia digelarlah workshop serta diskusi bersama media.

Dengan mengambil tema “Penguatan Peran Media dalam Mendukung Program Roots Indonesia Wilayah Jawa” sebanyak 33 media yang hadir secara daring dan luring menghadirinya. Para awak media ini merupakan perwakilan dari enam provinsi di wilayah Jawa yang sudah mengikuti program Roots Indonesia.

Dalam kesempatan itu, Dita Amalia, selaku Direktur Yayasan PLATO menyampaikan paparan program Roots yang telah dilaksanakan.
Pada kesempatan ini, disampaikan sekilas mengenai gambaran umum mengenai Roots sebagai program pencegahan perundungan berbasis sekolah yang telah dikembangkan oleh UNICEF bersama mitra sejak tahun 2017 dan telah berhasil menurunkan hingga 29,6% angka perundungan di sekolah.

Selanjutnya program ini diselenggarakan kembali pada tahun 2021 di 6 provinsi di Pulau Jawa yang mana PLATO sebagai mitra UNICEF memiliki mandat dalam menyediakan sumber daya manusia yang mendukung terselenggaranya program tersebut.

Sebagai penguatan program tersebut, dilakukan polling sebanyak 2.458 responden. Mereka adalah siswa dari seluruh sekolah penggerak di 6 provinsi. Dari hasil polling tersebut menunjukkan bahwa 66,5% siswa mengungkapkan pernah mengalami perundungan di sekolah. Tidak hanya itu, dari polling tersebut juga diketahui bahwa sosialisasi melalui berbagai media dianggap metode yang paling efektif mencegah perundungan.

Acara ini juga dihadiri perwakilan Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur, Eka Ananda,ABR SH CN Msi, dalam kesempatan tersebut Eka menegaskan adanya tindakan konkrit di sekolah untuk pencegahan perundungan. “Jangan hanya di sekolah, perundungan juga banyak terjadi di lingkungan masyarakat. Untuk itu harus ada kolaborasi dengan semua pihak untuk menuntaskannya,” jelas Eka.

Selain itu dari Dinas DP3AK juga memberikan dukungan positipnya dalam program Roots tesebut. Hari Chandra N, S.E., M.M, Kasi Penguatan Kelembagaan Hak Anak DP3AK Provinsi Jawa Timur menyampaikan bahwa dalam kasus perundungan ini selain korban ada yang menjadi perundung.

“Nah, bagi mereka yang suka merundung sebaiknya diberikan sanksi positif sebagai bentuk konsekuensi perilaku yang salah. Melibatkan orangtua juga lebih efektif mengurangi dampak bullying,” urainya.

Candra juga menegaskan agar lebih cerdas bermedia sosial karena bullying juga kerap terjadi di media sosial.

Acara makin seru dengan diskusi dari para awak media tentang komitmen mereka dalam menyuarakan pencegahan perundungan. Sesi diskusi ini dipandu Aan Haryono dari JSA (Jurnalis Sahabat Anak) serta Asteria, Psikolog yang juga sebagai Fasilitator Nasional. Panji dari Suara Sidoarjo menyampaikan apresiasinya terhadap penyelenggaraan program Roots.

“Flyer, brosur atau foto perihal pencegahan bullying sebaiknya diperbanyak disekolah, jangan hanya sekedar foto pahlawan saja. Selain itu, perbanyak program ramah anak contohnya kunjungan ke radio oleh pelajar sekolah & dongeng sahabat cilik dengan muatan2 positif untuk anak,” usulnya.

Ermi Ndoen, sebagai Perwakilan Unicef Surabaya juga menyatakan dukungan positifnya tentang kegiatan bersama media tersbut. Ditutup dengan kalimat yang dikutip dari Najwa Shihab,

“Yang menjadi pena adalah kebaikan, dan yang menjadi tinta adalah rasa kemanusiaan kita” Ermi mengakhiri paparan singkatnya. (red)