MERAHPUTIH| MALUKU- Persidangan Sinode GPM ke-38 yang dibuka oleh Sekjen Kemenag RI, Minggu(7/2) berjalan dengan baik, namun dibalik itu ada saja hal yang sangat tidak etis yang dilakukan oleh beberapa panitia Satgas Persidangan Sidang Sinode GPM, yang bertugas pada pintu depan Halaman Kompleks Gereja Maranatha.
Panitia Satgas yang tidak dibekali dengan aturan serta prosedure protokoler, kurang memahami fungsi dan tugasnya dengan baik.
Pantauan harianmerahputih.id di Arena Kompleks Gedung Gereja Maranatha, terdapat beberapa panitia satgas yang tidak mengerti dengan "Orang yang di Undang atau Undangan, bahkan mereka mempertanyakan hasil test rapid antigen kepada para Undangan.
Sekitar pukul 10.30 WIT, rombongan Sekjen dan Gubernur tiba di pintu masuk, dan diterima oleh Walikota Ambon serta beberapa Bupati yang sudah menunggu dan Ketua MPH Sinode GPM.
Setelah rombongan masuk, pintu kemudian ditutup oleh petugas Satgas, tidak berselang lama datang satu pejabat yang diutus dari Lantamal XI Ambon tiba di pintu masuk dengan membawa undangan, namun tidak di izinkan masuk oleh Satgas, karena kesal dirinya meminta Satgas untuk masuk dan mengambil gambar dengan telepon genggamnya.
Selang lima menit kemudian, datang Bupati Maluku Tenggara bersama ajudannya, di pintu masuk dengan membawa undangan, dirinya bahkan tidak diizinkan masuk dengan alasan harus berkordinasi dulu dengan panitia didalam.
Sekitar 10 menit berdiri, barulah muncul Roy Mongi sambil menanyakan Bupati yang mana, setelah dikenalkan barulah Bupati Malra dan utusan dari lantamal XI diizinkan masuk.
Sempat juga terjadi adu mulut antara pemain keyboard Gubernur dengan panitia satgas, bahkan dia sudah menjelaskan secara baik - baik kepada panitia, namun ditolak bahkan protokol setda maluku pun sudah melakukan negosiasi kepada panitia, setelah berdebat cukup lama, akhirnya pemain keyboard Gubernur diizinkan masuk.
Baca juga: Pelapor Kecewa, Terduga Pemalsu Identitas Ang Merry Tak Ditahan dengan Alasan Sakit
"Kami ini Ajudan, bukan peserta kalau mau surat rapid, kami punya ada tapi tetap tidak diizinkan masuk, coba kalau sewaktu - waktu Bupati mau minta handphone, tissu atau apalah, pasti kami dimarahi," tutur beberapa ajudan bupati dan walikota yang tidak diizinkan masuk oleh panitia Satgas.
Sekitar pukul 11.00 WIT, Kadis Kehutanan dan staff Ahli Gubernur Maluku bidang Hukum dan Politik juga nengalami nasib yang naas juga, mereka harus berdiri dipintu masuk sampai panitia satgas melakukan koordinasi dengan panitia "didalam.
Hal ini sangat memalukan dan mencoreng acara pembukaan Sidang Sinode,
Tidak Pantas untuk dilakukan cara - cara seperti itu,
Bahkan seluruh satgas yang ditempatkan pada pintu masuk utama kompleks persidangan, tidak satupun yang mengenal Pejabat daerah Maluku yang diundang tadi.(boy)
Baca juga: Perkuat Sinergi dengan Media, Bandara Internasional Pattimura Ambon Gelar Media Gathering 2025
Editor : Eko Yudiono