Ribuan Warga Padati Puncak Bulan Bung Karno di Magetan, Rocky Gerung Ajak Gen Z Memahami Marhaenisme sebagai Jalan Pikir

pengamat politik Rocky Gerung saat menghadiri acara Diskusi yang digelar di Gedung Wisma DPC PDI Perjuangan Kabupaten Magetan
pengamat politik Rocky Gerung saat menghadiri acara Diskusi yang digelar di Gedung Wisma DPC PDI Perjuangan Kabupaten Magetan

MERAHPUTIH I MAGETAN – Puncak peringatan Bulan Bung Karno yang diselenggarakan DPC PDI Perjuangan Kabupaten Magetan berlangsung semarak pada Minggu (28/6/2026). Sejak siang hingga malam, ribuan masyarakat memadati lokasi kegiatan untuk mengikuti berbagai rangkaian acara yang menjadi bagian dari peringatan bulan kelahiran Proklamator RI, Soekarno.

Salah satu agenda yang paling menyedot perhatian publik adalah Soekarno Talk-In bertajuk "Bedah Buku Marhaenisme: Dalil Baru untuk Gen Z" yang menghadirkan pengamat politik Rocky Gerung sebagai pembicara. Diskusi yang digelar di Gedung Wisma DPC PDI Perjuangan Kabupaten Magetan itu dijadwalkan berlangsung pada pukul 19.00 WIB dan diikuti kader partai, mahasiswa, pelajar, hingga masyarakat umum.

Sebelum acara dimulai, Rocky Gerung yang tiba di lokasi sekitar pukul 16.30 WIB menyempatkan diri menyapa para pengunjung. Dalam perbincangan singkat tersebut, ia langsung melontarkan kalimat yang memancing perhatian.

"Magetan gregetan," ucap Rocky membuka pembicaraan.

Menurutnya, istilah "gregetan" tidak sekadar menggambarkan semangat atau antusiasme masyarakat. Lebih dari itu, kata tersebut mencerminkan keberanian untuk membangun tradisi berpikir secara kritis.

Ia menilai keberanian berpikir merupakan modal penting bagi generasi muda dalam memahami berbagai persoalan bangsa, termasuk ketika mempelajari ajaran Marhaenisme yang diwariskan Presiden pertama Republik Indonesia, Soekarno.

"Magetan gregetan. Gregetan itu artinya ada keberanian untuk menangkap teknik berpikir. Marhaenisme bukan sekadar slogan, melainkan jalan pikiran yang harus dipahami sebelum menjadi alat perjuangan politik," ujar Rocky.

Dalam pemaparannya, Rocky menekankan bahwa Marhaenisme selama ini lebih sering dipahami sebagai simbol politik daripada sebagai sebuah kerangka berpikir. Padahal, menurutnya, esensi ajaran tersebut terletak pada gagasan yang membahas kehidupan masyarakat, keadilan sosial, hingga kemandirian bangsa.

Karena itu, ia mengajak masyarakat untuk terlebih dahulu memahami fondasi pemikiran Bung Karno sebelum menjadikannya sebagai pijakan dalam aktivitas politik maupun sosial.

"Marhaenisme harus dikenali sebagai susunan pikiran sebelum menjadi alat untuk kampanye. Yang ingin kami dorong adalah agar masyarakat memahami ide-idenya terlebih dahulu," katanya.

Rocky juga menjelaskan bahwa buku Marhaenisme: Dalil Baru untuk Gen Z yang ia tulis bersama Airlangga Pribadi Kusman disusun sebagai upaya menghadirkan kembali pemikiran Bung Karno dengan bahasa yang lebih mudah dipahami kalangan muda.

Menurutnya, generasi saat ini membutuhkan referensi yang mampu menjembatani pemikiran klasik dengan tantangan zaman modern, sehingga nilai-nilai Marhaenisme tetap relevan untuk didiskusikan.

Ia berharap buku tersebut tidak berhenti sebagai bacaan semata, melainkan dapat menjadi bahan diskusi di berbagai daerah agar masyarakat memiliki pemahaman yang lebih utuh mengenai gagasan Bung Karno.

"Yang kami promosikan adalah ide dan jalan pikiran. Itu yang paling penting, sehingga masyarakat memiliki referensi untuk memahami gagasan Bung Karno," ujarnya.

Rocky menambahkan, isi buku mengulas beragam pemikiran Soekarno, mulai dari konsep kehidupan bermasyarakat, ekonomi kerakyatan, hingga pandangannya mengenai dinamika politik global. Seluruh pembahasan tersebut disajikan dengan pendekatan yang diharapkan lebih dekat dengan karakter generasi Z.

Menurutnya, pemikiran Bung Karno masih memiliki relevansi dalam menghadapi tantangan kebangsaan saat ini, terutama ketika masyarakat dihadapkan pada perubahan sosial, ekonomi, dan politik yang berlangsung sangat cepat.

Tak hanya menyampaikan materi, Rocky juga membuka sesi dialog interaktif bersama peserta. Mahasiswa, pelajar, hingga masyarakat diberikan kesempatan menyampaikan pertanyaan dan pandangan mengenai berbagai isu kebangsaan.

Diskusi berkembang tidak hanya pada konsep Marhaenisme, tetapi juga menyentuh persoalan demokrasi, kualitas kepemimpinan nasional, hingga pentingnya membangun budaya berpikir kritis di tengah kehidupan masyarakat.

Melalui forum tersebut, Rocky mendorong generasi muda agar tidak hanya menjadi konsumen informasi, melainkan mampu mengembangkan daya nalar serta keberanian menguji berbagai gagasan demi memperkuat kehidupan demokrasi di Indonesia.

Rangkaian Soekarno Talk-In menjadi salah satu agenda utama dalam puncak peringatan Bulan Bung Karno yang digelar DPC PDI Perjuangan Kabupaten Magetan. Antusiasme ribuan warga yang hadir menunjukkan tingginya minat masyarakat terhadap forum diskusi yang mengangkat pemikiran Bung Karno sebagai bagian dari refleksi kebangsaan sekaligus ruang bertukar gagasan lintas generasi.(pps)

Editor : prass prasetyo