Kartini PMK, Tegar di Tengah Pandemi Covid-19

harianmerahputih.id
Perempuan di PMK yang tetap bertugas ditengah pandemi. Foto: Zul/HMP

MERAHPUTIH | SURABAYA - Siapapun wajib tinggal dirumah selama lockdown seperti saat ini. Namun, para perempuan ini seperti tak kenal lelah. Mereka tetap berjuang  untuk membantu masyarakat ketika terjadi kebakaran. Mereka adalah 'Kartini' petugas pemadam kebakaran. Mereka bertugas bersama tim yang kebanyakan laki-laki, namun semangatnya tak bisa diremehkan.

Siang itu, kantor PMK di Jalan Pasar Turi , Surabaya tampak berbeda, di halaman depan sejumlah petugas perempuan dan beberapa lelaki mempersiapkan diri. Mereka yang berjuluk Srikandi itu juga ikut membantu persiapan mobil PMK. Mereka adalah Cindy Arista, Wahyu Puspita Sari, Ayu Sulistyowati dan Anita Darmayanti. Kartini cantik ini bertugas di garis depan memadamkan api.

Baca juga: Hadiri Peringatan Hari Kartini 2024, Pj. Sekdaprov Bobby: Ini Momentum Perkuat dan Tingkatkan Kapasitas Perempuan Di Jatim

Meski satu tim dan berteman akrab, tapi mereka memiliki motivasi yang berbeda-beda satu dengan lainnya. Ada yang sering dapat cibiran dengan kalimat-kalimat “wedok iku isok opo,” (perempuan itu bisa apa/red) atau “Lho wedok-wedok kok melok nang Kebakaran (perempuan kok ikut-ikut di pemadam kebakaran) dan sebagainya.

Semua omongan miring dan cemoohan seperti itu tak membuat nyali mereka ciut. Atau kekhawatiran keluarga mereka, seperti yang dialami Ayu dan Anita yang bergabung setelah berkeluarga. “Suami saya sempat cemas dan gelisah ketika saya bergbung, tapi saya berhasil meyakinkan, bahwa saya baik-baik,” jelas Ayu yang siang itu mengenakan masker berwarna cokelat.

Sementara Cindy dan Puspita bergabung sebelum berkeluarga, meski demikian bukan berarti mereka tidak dikhawatirkan. Orangtua mereka sempat melarang, namun Cindy dan Puspita mampu membuat orangtua mereka bangga dengan kinerjanya.

 


Harus Ada Sentuhan Perempuan

Baca juga: Hari Kartini 2024, Momen Berdayakan Akses Ekonomi Perempuan

PMK yang identik dengan dunia laki-laki seolah tidak membutuhkan perempuan, padahal tidak sepenuhnya benar. Justru di dunia laki-laki yang sangat keras, butuh sentuhan perempuan. Di antaranya untuk memberikan edukasi kepada masyarakat tentang tugas-tugas PMK.

Setelah berganti pimpinan, Srikandi tidak lagi diturunkan saat terjadi kebakaran. Meski demikian mereka mengaku sangat menikmatinya, karena ini alasan keamanan dan kebijakan dari pimpinan.

“Kami di garda depan untuk mengedukasi masyarakat tentang wahana edukasi, dan diklat tentang penyelamatan dan edukasi  pemadaman untuk umum,” sambung Cindy.
Bukan hanya itu, penyelamatan hewan seperti kucing, ular liar yang masuk ke rumah warga, atau mobil yang terperosok juga menjadi bagian tugas dari PMK.

Baca juga: Peran Perempuan dalam Kepemimpinan Kota Mojokerto: Inspirasi bagi Generasi Penerus

Bagi para Srikandi ini, yang jumlahnya hanya 30 personal dari 800 pegawai laki-laki, kemampuan mereka tetap dilatih. Pembagian tugasnya pun sudah jelas, Anita dan Cindy, menjadi ajudan Kadin dan pemandu acara wisata edukasi. Sementara Puspita bertanggung jawab dengan sarana dan prasarana serta ikut inspeksi ke gedung-gedung, hotel dan mall. Sedangkan Ayu fokus untuk kegiatan diklat dan edukasi ke masyarakat.

“Apapun kegiatan PMK, wanita tetap diperlukan. Kami sudah terlatih karena memang dilatih sehingga mampu sejajar dengan laki-laki dengan skill yang sama. Dengan begitu kami tidak diremehkan,” jelas Anita.

Tambahnya, perempuan di lingkungan PMK memiliki tekad dan semangat kuat. “Wanita harus memiliki keseimbangan antara brain, beauty, and behavior,” pungkasnya dan diaminkan teman-temannya. Mereka pun bersiap untuk membantu pelaksanaan PSBB, yang dipastinya akan diterapkan. Srikandi ini akan bertahan ditengah pandemi. Bravo! (zul/ayn)

Editor : Ayun Rahmawati

Politik
Berita Populer
Berita Terbaru