Ini Bahaya Terlalu Sering Konsumsi Ceker Ayam


Ilustrasi gambar (Shutterstock)

MERAHPUTIH I SURABAYA - Ceker ayam merupakan sisa pemotongan ayam setelah diambil karkasnya. Ceker ayam merupakan hasil samping dari pemotongan ayam yang memiliki nilai ekonomi lebih rendah dibandingkan dengan hasil pemotongan lain seperti kepala, jeroan dan leher.

Ceker ayam yang akhir-akhir ini popular di kalangan  anak muda, yang diolah dengan berbagai jenis olahan. Banyak franchise yang juga menwarkan menu ceker ayam. Ceker ayam dapat pula diolah menjadi camian misalnya keripik ceker dan ceker crispy yang digunakan sebagai camilan.

Ahli Gizi UM Surabaya Tri Kurniawati menjelaskan ceker ayam memiliki kadar air sebesar 65,08 %, lemak sebesar 3,90 %, protein sebesar 20,10 %, dan kadar abu sebesar 8,16 %. Ceker ayam diketahui mengandung 19 asam amino diantaranya yaitu asam aspartat, glutamin, hidroksiprolin, serin, glisin, histidin, arginin, treonin, alanine, prolin, tirosin, valin, metionin, sistin, ileusin, fenilalanin, triptofan dan lisin.

“Komponen terbesar penyusun ceker ayam adalah kolagen yaitu sebesar 5,64 % - 31,39 % atau sebesar 28,73 - 36,83 % dari total protein,”tutur Tri Senin (19/9/22)

Ceker ayam diketahui memiliki 29 jenis kolagen yang berbeda dari kolagen dengan bentuk polimerik yang berbeda. Tipe kolagen yang menonjol dari kaki ayam yaitu kolegen tipe 1 yang memiliki 3 rantai polipeptida. Karena hal tersebut ceker ayam memiliki beberapa manfaat bika dikonsusmi dalam jumlah yang wajar. Maksudnya wajar disini adalah tidak terlalu sering dan tidak terlalu banyak.

“Dikatakan sering apabila konsumsi lebih dari tiga kali dalam satu minggu dan dalam jumlah yang lebih dari satu porsi dan secara terus menerus,”imbuhnya.

Ceker ayam mengandung lemak tak jenuh sebesar 5,5 gram per 100 gram atau 60 % dari kebutuhan orang dewasa dan 100 gram ceker mengandung kolesterol sebanyak 84 mg atau 20 % dari kebutuhan harian orang dewasa.

“Jadi bila konsumsi ceker ayam dalam jumlah banyak atau sering akan menyebabkan peningakatan kolestrol yang bila terjadi secara terus-menerus akan menyebabakan badan mudah lelah bahkan pada akhirnya dapat menyebabkan gagal gantung atau stroke.”tutup Tri. (red)