Selama Penerapan WFH, Angka Drop Out KB Naik
MERAH PUTIH | Surabaya – Perwakilan Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Provinsi Jawa Timur merilis dalam dua bulan terakhir terjadi kenaikan jumlah drop out KB di Jawa Timur. Kenaikan jumlah akseptor yang menghentikan penggunaan alat kontrasepsi ini mencapai 277.348 orang pada bulan maret naik hampir dua kali lipat pada April 2020 kemarin.
Kepala Perwakilan BKKBN Provinsi Jawa Timur, Sukaryo Teguh Santoso mengatakan pihaknya tidak tahu apakah ada kaitannya dengan Kebijakan pemerintah yang meminta rakyat Indonesia stay at home atau work from home (WFH) dalam rangka pencegahan penyebaran Corona Virus Disease (Covid) 19 dengan kenaikan jumlah drop out KB di Jawa Timur.
“Pada Februari jumlah drop out KB sebanyak 1,32 %, namun pada bulan Maret angka tersebut naik menjadi 4,63n naik menjadi 7,07% pada April 2020 ini,” kata Teguh ditemui di Kantor Perwakilan BKKBN Provinsi Jawa Timur, di Surabaya, Kamis (14/5).
Teguh menjelaskan artinya pada Maret 2020, ada 277.348 akseptor KB yang berhenti menggunakan KB dan angka ini meningkat ada April 2020 sejumlah 414.708 akseptor yang berhenti menggunakan KB. Tingginya angka drop out KB ini perlu mendapatkan perhatian sebab bisa berpotensi terjadinya kehamilan.
“Angka ini memang tidak bisa dilihat saat ini, namun akan terlihat sembilan bulan ke depan, apakah terdapat kenaikan jumlah kelahiran?,” imbuhnya.
Teguh juga mengungkapkan jangan tingginya angka drop out KB ini membuat kenaikan jumlah kehamilan yang tidak diinginkan oleh pasangan usia subur di Jatim. Sebab, semakin tinggi jumlah kehamilan yang tidak diinginkan maka berpotensi terjadinya stunting.
Sesuai data Statistik Rutin (SR) BKKBN, drop out peserta KB paling tinggi pada bulan Maret adalah Kota Madiun sebesar 44,71%, di ikuti dengan kabupaten Jombang 22,17%, dan kota Mojokerto 16,61 %. Pada bulan April tertinggi Kota Madiun 46,31 %, kabupaten Jombang 30,29%, dan Kota Surabaya 27,77 %. Dan terendah di Kota Malang sebesar 2,98%. Sedangkan pada bulan April 2020, di Surabaya Raya meliputi Kota Surabaya, Sidoarjo, Gresik, selain kota Surabaya, Drop out pada bulan April 2020 dikabupaten Gresik 4,39%, dan kabupaten Sidoarjo 16,32%,"
“Untuk Kota Malang adalah wilayah dengan angka drop out KB paling kecil yaitu 2,98% namun hal ini berbalik, angka drop out di Kabupaten Malang sangat tinggi mencapai 14,34%,” sebutnya.
Saat disinggung soal jenis layanan alat kontrasepsi yang tinggi drop out, Teguh menyebutkan jenis kontrasepsi jangka pendek, yaitu suntik, pil dan kondom. Tingginya angka drop out disinyalir adanya ketakutan masyarakat untuk mendatangi fasilitas kesehatan tingkat 1 dengan adanya pandemi Covid 19 ini.
“Untuk itu, kami pun menjemput bola dengan mengirim pil atau kondom melalui penyuluh KB (PLKB) dan kader ke akseptor. Sedang untuk kontrasepsi suntik, kami menggandeng bidan sebab bidanlah yang boleh melakukannya. Pil, Kondom dan Suntik ini gratis dari BKKBN,” ujarnya.
Teguh mengharapkan agar seluruh pemerintah kabupaten/kota juga memperhatikan tingginya angka drop out KB di wilayahnya masing-masing. Jangan sampai angka ini terus meningkat dan sembilan bulan kedepan terjadi lonjakan jumlah kelahiran. Bila ini terjadi maka baby boom di Indonesia terulang kembali. (Sis/rga)
Editor : Tukiman Sarmijan
Harian Merah Putih