Menghitung Hari: Siapa yang Berguguran di Pemerintahan Baru Hendrik-Vanath?
MERAHPUTIH| MALUKU- Gubernur dan Wakil Gubernur baru Hendrik Lewerissa dan Abdullah Vanath telah menjadi pemimpin baru di Maluku.
Namun banyak sekali pekerjaan rumah (PR) peninggalan rezim lama yang harus dibenahi. Salah satunya menata tata kelola birokrasi yang baik.
Saat ini, kedua pemimpin tersebut masih dikelilingi para pejabat rezim lama yang mana penempatan mereka berdasarkan, ‘Asal Bapak Senang’ alias ABS.
Bagi mereka pejabat eselon II yang ‘bersebelahan’ saat pilkada, saat ini mulai beramai-ramai menggunakan taktik mereka guna mendekati kedua pemimpin baru tersebut.
Namun, taktik PDKT mereka rupa sudah tercium oleh Hendrik-Vanath.
Dalam sambutannya saat apel akbar itu, Hendrik Lewerissa yang juga Gubernur Maluku mengatakan budaya memuji dan menjilat itu tidak penting.
"Jangan ada lagi budaya memuja-memuji kami. Jangan ada yang meng-entertaint kami, apalagi menjilat kami itu tidak penting bagi kami,” tegas Hendrik Lewerissa.
Selain itu, masih ada lagi ‘perampokan APBD’, secara berjemaah yang dilakukan oleh oknum-oknum tertentu dengan berbagai macam cara, baik itu lewat perjalanan dinas, sosialisasi, dan lain-lain sebagainya demi kepentingan mereka.
"Belum lagi publik dikejutkan dengan adanya pemberitaan dari kabar Maluku.id via akun tiktok dimana adanya biaya perawatan rumah jabatan gubernur yang terletak di kawasan mangga dua kota ambon sebesar Rp 17 miliar selama lima tahun. Padahal rumah jabatan itu tidak pernah ditempati oleh Gubernur sebelumnya Murad Ismail.
Akankah Dinas PUPR dan biro umum Setda Maluku yang sering melakukan pengadaan tender proyek untuk kebutuhan pendopo bertanggung jawab? Tanya saja kepada rumput yang bergoyang, itupun kalau bulan bisa ngomong.
Begitulah cara-cara ‘perampokan berjemaah yang dilakukan oleh oknum-oknum tertentu yang saat ini menduduki jabatan eselonII, belum lagi dengan tender-tender proyek yang sangat ‘memuakan’ pada sebagian besar Organisasi Perangkat Daerah (OPD) di lingkup Pemprov Maluku.
Pantauan media ini pada Senin (10/3) di kantor gubernur Maluku, terlihat beberapa ASN eselon II yang masuk kerja, pandangan matanya sayu dan terlihat kosong.
Ada juga yang berjalan sambil sesekali menatap ke atas langit-langit kantor. Apakah sedang melafalkan ayat suci atau hanya sekedar meluapkan keresahan yang dialami, wallahualam.
Apakah mereka lagi menghitung hari, seperti judul lagu "Menghitung Hari" yang dipopulerkan oleh Krisdayanti di era akhir 1990 an.
Begitulah fenomena yang terjadi di jajaran ASN eselon II. Bisik-bisik pun terdengar siapa yang bertahan siapa yang berguguran.
Irfan salah satu masyarakat yang ditemui media ini mengatakan, dia ingin mengingatkan gubernur dan wagub harus berhati-hati.
“Gubernur dan Wagub harusnya pintar dalam membaca alam semesta. Bicara soal penempatan pejabat eselon II kedepan dia sangat mengharapkan dari gubernur dan wagub, Hendrik Lewerissa dan Abdullah Vanath harus pandai membaca tanda-tanda alam,” pinta Irfan.
Hal yang sama juga diutarakan oleh Agus yang ditemui di salah-satu cafe bilangan kota Ambon.
Ia sangat mendukung pemerintahan pemprov yang baru, namun dia kembali mengingatkan pasangan dengan jargon " lawamena" ini agar tidak mengecewakan pendukung masyarakat Maluku yang ingin melihat perubahan.
Terutama penempatan jabatan eselon II,III,dan IV lingkup Pemprov Maluku.
Dirinya mengungkapan bila perlu seluruh jabatan eselon II ini harus di evaluasi dan harus di audit investigasi keuangan semua kadis, kepala biro dan pejabat pelaksana tugas yang memegang jabatan saat ini.
"Jangan ada main ‘rasa’ bagi Hendrik dan Vanath,pemprov saat ini lagi ‘Senin-Kamis’ keuangannya, akibat dari ulah oknum-oknum pejabat eselon II, III IV yang diduga dengan semena- mena mengikuti perintah ‘komandan’,” jelasnya.
“Harus ada efek jera buat mereka , akibat dari itu Maluku tetap menjadi Provinsi tertinggal dan termiskin,” ungkap Agus .
Kata dia, lima tahun lalu, Maluku jalan di tempat. Tidak ada perubahan dan kemajuan yang signifikan, pinjaman SMI pun tidak ada hasilnya.
“Sementara hutang itu harus ditanggung kepada pemerintahan yang baru. Penempatan pejabat yang ada sekarang ini pun tidak berdasar fit and proper-test, semuanya berdasarkan perintah ‘komandan’ beserta hulubalangnya,” tutup Agus.
Sementara itu, beberapa warga masyarakat yang ikut nimbrung dalam percakapan ini menambahkan, mereka sangat mendukung visi misi pasangan lawamena ini. Apalagi, dengan beberapa penegasan-penegasan yang disampaikan dalam apel akbar tersebut.
“Sekadar mengingatkan saja, agar keduanya harus berhati-hati , dengan ‘musang berbulu domba’ yang semakin berkeliaran dan biasanya, teori lain, praktek lain" pungkasnya.(boy)
Editor : Eko Yudiono
Harian Merah Putih