"Omah Ilmu Arek Suroboyo", Jalan Baru Pendidikan untuk Anak Surabaya Kurang Mampu
MERAHPUTIH I SURABAYA — Sejak diluncurkan pada Agustus 2024, program “Omah Ilmu Arek Suroboyo” menjadi angin segar bagi anak-anak Surabaya yang berprestasi namun terhalang keterbatasan ekonomi. Digagas oleh Pemerintah Kota Surabaya, program ini mengadopsi semangat “Sekolah Rakyat” yang sebelumnya diperkenalkan oleh Presiden Prabowo Subianto, dengan penekanan pada akses pendidikan tinggi gratis bagi kelompok rentan.
Di sebuah kamar sederhana di Asrama Kalijudan, Zadvara Dima Al Dzaky (19) duduk mengulas materi keperawatan. Anak seorang pelayan toko ini kini berkuliah di Universitas Hang Tuah Surabaya berkat beasiswa dari Dinas Sosial Kota Surabaya.
“Kesempatan ini sangat berarti. Saya ingin membalas pengorbanan orang tua dan memberi manfaat bagi banyak orang melalui dunia kesehatan,” ujar Zaky, Jumat (25/4/2025).
Program ini bukan sekadar menyekolahkan. Di asrama, para penerima manfaat dibekali keterampilan dan pembinaan karakter melalui pelatihan Bahasa Inggris, seni, olahraga hingga tinju. "Saya merasa berkembang tidak hanya sebagai mahasiswa, tapi juga sebagai individu,” tambah Zaky.
Kisah serupa datang dari Retno Ayu Maharani (19). Lulusan SMKN 20 Surabaya ini juga sedang menempuh pendidikan D3 Keperawatan di kampus yang sama. Retno berasal dari keluarga sederhana di Klampis Ngasem. "Dulu sempat pesimis bisa kuliah. Tapi ternyata kesempatan itu datang dari sini," ucapnya.
Retno menggambarkan rutinitas asrama sebagai pembentukan disiplin. Pagi dimulai dari Salat Subuh berjamaah, olahraga, lalu berangkat kuliah dengan bus kampus. Sarana pendukung seperti komputer, printer, hingga kebutuhan logistik disediakan.
Sementara itu, Muhammad Rizky Saputra Subroto (19), siswa SMKN 10 yang sebentar lagi akan kuliah di Universitas Airlangga jurusan Ekonomi Syariah, sudah mengenal program ini sejak lama. Ia dibesarkan Pemkot Surabaya sejak usia 7 tahun di Kampung Anak Negeri Wonorejo. “Omah Ilmu ini seperti rumah kedua. Tempat saya tumbuh, belajar, dan bermimpi,” tuturnya.
Rizky menyampaikan harapannya agar lebih banyak anak-anak kurang beruntung mendapatkan akses serupa. “Semua bisa dicapai kalau kita tidak menyerah. Pemkot hadir sebagai jembatan menuju masa depan,” ujarnya.
Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi mengakui, program ini lahir sebagai respons atas keterbatasan lahan di kota dalam merealisasikan Sekolah Rakyat yang mensyaratkan area minimal 5 hingga 7 hektar. Sebagai gantinya, pendidikan difokuskan ke jenjang perguruan tinggi dengan dukungan fasilitas asrama dan pembinaan holistik.
“Kami punya kendala soal lahan, tapi semangatnya sama. Di Kalijudan, anak-anak kuliah sambil tinggal di asrama. Makan, transportasi, hingga pendidikan karakter ditanggung Pemkot,” jelas Eri.
Ia menambahkan, saat ini pihaknya tengah menyusun format pendidikan untuk jenjang SD hingga SMA agar tetap bisa diakses masyarakat perkotaan tanpa syarat lahan luas. Diskusi dengan Kementerian Sosial dan sejumlah wali kota lain sudah dilakukan untuk mencari model adaptif Sekolah Rakyat di wilayah perkotaan.
“Ini soal kemauan dan kolaborasi. Kita ingin memastikan tak ada anak Surabaya yang kehilangan masa depan hanya karena masalah ekonomi,” pungkasnya. (red)
Editor : Redaksi
Harian Merah Putih