Persebaya Bertolak ke Perth, Menjalin Persaudaraan Lewat Sepak Bola

Seluruh pemain dan jajaran pelatih Persebaya Surabaya bertolak ke Perth, Australia, Minggu pagi (6/7/2025)
Seluruh pemain dan jajaran pelatih Persebaya Surabaya bertolak ke Perth, Australia, Minggu pagi (6/7/2025)

MERAHPUTIH I SURABAYA - Klub sepak bola Persebaya Surabaya resmi bertolak ke Perth, Australia, Minggu (6/7/2025) pagi. Agenda lawatan ini bukan sekadar latihan maupun pertandingan persahabatan, tetapi menjadi bagian dari upaya mempererat hubungan budaya dan kerja sama antara Jawa Timur dan Australia Barat yang telah terjalin selama 35 tahun sebagai sister province.

Rombongan Persebaya, yang terdiri dari seluruh pemain dan jajaran pelatih, dijadwalkan menjalani pemusatan latihan (mini training camp) di Sam Kerr Football Centre, salah satu fasilitas sepak bola paling modern di Australia. Selain berlatih intensif dua kali sehari, tim berjuluk Bajul Ijo ini juga akan melakoni laga uji coba melawan Western Australia Football Team pada 9 Juli mendatang.

Tidak hanya klub, suporter fanatik Persebaya, Bonek, juga turut berangkat ke Perth. Beberapa di antaranya terbang langsung dari Surabaya, sementara sebagian besar lainnya adalah diaspora Indonesia yang telah lama bermukim di Australia Barat. Mereka akan memadati stadion dan memberikan dukungan langsung, menunjukkan bahwa cinta kepada klub tak mengenal batas geografis.

“Mini training camp ini sebenarnya telah kami rancang sejak April 2024. Namun, karena keterbatasan waktu dan jadwal kompetisi, kami baru bisa melaksanakannya sekarang,” ujar Nanang Prianto, perwakilan manajemen Persebaya, saat ditemui sebelum keberangkatan.

Ia menambahkan, pemusatan latihan ini menjadi langkah strategis dalam menyambut Liga 1 musim 2025/2026. “Ini adalah bagian dari persiapan tim memasuki musim baru, sekaligus bertepatan dengan peringatan 35 tahun hubungan provinsi kembar antara Jawa Timur dan Western Australia,” imbuhnya.

Sam Kerr Football Centre dipilih sebagai lokasi latihan bukan tanpa alasan. Kompleks tersebut merupakan fasilitas baru milik Football West dan dinamai sesuai legenda sepak bola Australia, Sam Kerr. Di tempat ini, Persebaya dijadwalkan menjalani sesi latihan pagi dan sore, sebagaimana rutinitas mereka selama ini di Gelora Bung Tomo, Surabaya.

Laga uji coba melawan Western Australia Football Team pada 9 Juli pun diprediksi menjadi salah satu pertandingan yang ditunggu-tunggu masyarakat Indonesia di Australia. Tiket pertandingan bahkan diperkirakan akan habis terjual sebelum hari H.

“Dari informasi yang kami terima, mayoritas pembeli tiket adalah warga Indonesia. Baik yang tinggal di Perth maupun yang datang dari Indonesia secara khusus,” ujar Nanang.

Di lapangan, para pemain Persebaya menyambut kesempatan ini dengan antusias. Penjaga gawang utama sekaligus pemain tim nasional, Ernando Ari, menyebut pemusatan latihan ini sebagai pengalaman berharga yang tidak hanya memperkuat kebugaran dan kekompakan tim, tetapi juga membuka cakrawala baru bagi banyak pemain muda di skuad Bajul Ijo.

“Banyak di antara kami belum pernah bermain di luar negeri. Ini menjadi pelajaran penting, baik dalam hal adaptasi, atmosfer pertandingan, maupun persiapan mental,” ujarnya.

Ia menambahkan, laga uji coba ini juga akan menjadi tantangan tersendiri. “Kami akan menghadapi pemain-pemain yang punya kualitas, termasuk Aryn Williams yang pernah membela Persebaya. Ini bagus untuk mengukur sejauh mana kesiapan kami,” kata Ernando.

Kehadiran Persebaya di Perth tak bisa dilepaskan dari dimensi diplomasi olahraga dan budaya. Hubungan sister province antara Jawa Timur dan Western Australia telah lama menjadi jembatan dalam bidang pendidikan, ekonomi, dan kebudayaan. Kini, melalui sepak bola, hubungan itu diperluas dalam konteks yang lebih populer dan melibatkan kalangan muda.

Dinas Pemuda dan Olahraga Jawa Timur serta Konsulat Jenderal Republik Indonesia di Perth turut mendukung kegiatan ini. Sebagai bagian dari peringatan hubungan dua wilayah tersebut, pertandingan ini akan diliput secara luas oleh media lokal dan nasional, serta disiarkan secara langsung di televisi bagi pendukung Persebaya yang tidak dapat hadir langsung di stadion.

Dalam beberapa tahun terakhir, berbagai klub sepak bola di Indonesia mulai menjajaki pertandingan persahabatan internasional. Namun, langkah Persebaya ini terbilang istimewa karena dikemas dalam nuansa diplomasi budaya. Di tengah padatnya jadwal kompetisi domestik, tim asal Kota Pahlawan ini tetap mencari ruang untuk memperluas jangkauan dan pengalaman.

Sejarah panjang Persebaya sebagai salah satu klub tertua dan paling legendaris di Indonesia berpadu dengan semangat komunitas suporter yang kuat dan aktif. Di mana pun mereka berlaga, sorakan "Salam Satu Nyali!" akan terus menggema, termasuk di belahan selatan bumi.

Keterlibatan Bonek dalam tur ini menegaskan bahwa suporter bukan sekadar pelengkap dalam pertandingan. Mereka adalah bagian dari denyut nadi klub, yang membawa semangat kolektif dan loyalitas hingga ke ujung dunia.

“Bagi kami, mendukung Persebaya adalah bagian dari identitas. Di manapun mereka main, kami akan berusaha hadir,” kata salah satu Bonek yang terbang dari Surabaya.

Dengan semangat tersebut, Perth bukan hanya menjadi lokasi pemusatan latihan. Kota itu, selama sepekan, menjadi rumah kedua bagi Persebaya dan Bonek. Sepak bola, dalam konteks ini, menjadi lebih dari sekadar permainan. Ia menjelma menjadi bahasa persahabatan dan simbol pertemuan lintas budaya.(red)

Editor : Redaksi