Bikin Lupa Gadget! KKNT 113 Kelurahan Simomulyo Hadirkan Dolanan Tradisional yang Buat Anak Gembira

Anak Anak Kelurahan Simomulyo Mengikuti Gelar Dolanan Tradisional yang Diadakan oleh Mahasiswa KKN UPN Veteran Jawa Timur
Anak Anak Kelurahan Simomulyo Mengikuti Gelar Dolanan Tradisional yang Diadakan oleh Mahasiswa KKN UPN Veteran Jawa Timur

MERAHPUTIH I SURABAYA — Di sebuah sore yang hangat di Kelurahan Simomulyo, Surabaya, tawa anak-anak membahana di halaman terbuka tak jauh dari sudut baca kelurahan. Bukan berasal dari suara permainan digital atau video TikTok yang berderai dari ponsel pintar, melainkan dari irama loncatan di atas garis engklek, denting bola bekel, dan gulungan tali karet yang melambung tinggi. Sejenak, waktu seperti berputar kembali.

Di balik keriuhan itu, sekelompok mahasiswa dari Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jawa Timur tengah menjalankan misi kecil namun penting: memperkenalkan kembali permainan tradisional kepada generasi yang kian larut dalam dunia digital. Melalui program Kuliah Kerja Nyata (KKN) Kelompok 113, mereka menyasar anak-anak usia 6 hingga 16 tahun di lingkungan tersebut untuk merasakan langsung sensasi dolanan yang menjadi bagian dari warisan budaya Indonesia.

"Permainan tradisional adalah cara anak-anak zaman dulu membangun imajinasi dan kebersamaan. Hari ini, kami ingin menghidupkannya kembali," ujar Ilham, mahasiswa KKN.

Kegiatan ini bukan sekadar nostalgia. Di tengah meningkatnya kekhawatiran terhadap kecanduan gawai dan menurunnya interaksi sosial anak, inisiatif ini menjadi angin segar. Anak-anak diajak bermain engklek, lompat tali karet, congklak, hingga bola bekel, permainan yang menuntut gerak, fokus, dan kerja sama.

"Selama ini, dengan adanya gadget, anak-anak jadi mager, ya, malas gerak," tutur Bunda Ami, Ketua Pengurus Sudut Baca Kelurahan Simomulyo. "Tapi dengan kegiatan dolanan dari adik-adik mahasiswa ini, mereka jadi aktif lagi dan tahu ada permainan seru tanpa perlu layar."

Bagi Bunda Ami, yang hampir setiap hari mendampingi aktivitas anak-anak di kelurahan, perubahan itu sangat terasa. Anak-anak yang biasanya berkutat di pojokan dengan ponsel kini sibuk menghafal urutan angka engklek dan saling berlomba menjadi pemenang congklak.

Lebih dari sekadar bermain, para mahasiswa juga menyisipkan edukasi mengenai nilai-nilai budaya yang terkandung dalam permainan tradisional. Nilai seperti sportivitas, kesabaran, gotong royong, dan strategi sederhana menjadi bagian tak terpisahkan dari proses belajar melalui permainan.

Digitalisasi memang tak bisa dihindari, namun bukan berarti budaya lokal harus menjadi tumbalnya. Dolanan tradisional bukan hanya sekumpulan aktivitas fisik, melainkan cermin dari cara hidup masyarakat masa lalu, penuh kebersamaan, spontanitas, dan kedekatan emosional. Ketika permainan itu memudar, bukan hanya anak-anak yang kehilangan ragam hiburan murah meriah, tetapi juga cerita dan kearifan yang menyertainya.

"Kegiatan ini membuka ruang dialog antara generasi," ujar salah satu mahasiswa. "Ketika anak-anak bertanya tentang asal-usul permainan, para orang tua pun ikut berbagi cerita masa kecil mereka. Ada koneksi yang terbangun, yang selama ini mungkin hilang karena jarak digital."

Efek domino dari kegiatan ini pun dirasakan langsung oleh warga. Orang tua yang semula hanya menjadi pengamat, perlahan terlibat dalam permainan, bahkan memberi masukan tentang versi permainan yang mereka kenal. Kegiatan bermain itu pun menjelma menjadi momen intergenerasi anak belajar dari orang tua, dan orang tua mengenang kembali masa kecil mereka.

Bagi mahasiswa KKN Kelompok 113, kegiatan ini bukan sekadar program sebulan yang akan selesai begitu masa pengabdian berakhir. Mereka menaruh harapan bahwa kegiatan ini akan berlanjut, ditumbuhkan dan dirawat oleh komunitas setempat. Harapan itu juga disambut positif oleh warga.

"Insyaallah kegiatan ini akan kami lanjutkan. Karang taruna dan pengurus kelurahan sudah membicarakan agar dolanan tradisional ini bisa jadi agenda mingguan," ujar Bunda Ami.

Upaya pelestarian permainan tradisional ini, sesungguhnya, merupakan upaya merawat identitas. Di tengah derasnya arus globalisasi dan serbuan konten digital, permainan tradisional bisa menjadi jangkar budaya, yang menjaga anak-anak tetap berpijak pada akar sambil melangkah ke masa depan.

Dan pada sore itu, di tanah lapang kecil Simomulyo, para mahasiswa dan anak-anak menuliskan cerita yang sederhana namun berarti tentang dolanan, tentang kebersamaan, dan tentang sebuah ingatan kolektif yang tidak ingin dilupakan.(red)

Editor : Redaksi