Jalan Tunjungan Tanpa Parkir: Surabaya Kembali ke Romansa yang Sesungguhnya
MERAHPUTIH I SURABAYA - Jalan Tunjungan, ikon bersejarah Kota Surabaya yang dikenal dengan pesona lampu-lampu temaram dan arsitektur kolonialnya, kini hadir dengan wajah baru. Mulai hari ini, parkir di tepi jalan kawasan wisata Tunjungan Romansa resmi ditiadakan.
Langkah ini bukan hanya sekadar kebijakan lalu lintas. Di baliknya, ada semangat untuk menghidupkan kembali denyut pariwisata kota dan memberi ruang nyaman bagi para pejalan kaki, wisatawan, serta seniman jalanan yang menjadi bagian dari jiwa Jalan Tunjungan.
“Bayangkan, tanpa mobil-mobil parkir di tepi jalan, para pengunjung bisa berjalan santai, berfoto, menikmati pertunjukan seni tanpa terganggu kemacetan,” kata Wali Kota Surabaya, Eri Cahyadi, yang akrab disapa Cak Eri, saat meninjau kawasan tersebut pada Jumat (1/8).
Keputusan untuk meniadakan parkir tepi jalan umum (TJU) ini merupakan hasil koordinasi antara Pemerintah Kota Surabaya, Dinas Perhubungan, dan Satlantas Polrestabes Surabaya dalam Rapat Koordinasi Forum Lalu Lintas dan Angkutan Jalan.
Langkah tersebut tidak diambil sembarangan. Evaluasi menunjukkan bahwa kemacetan di simpang Jalan Gemblongan, Praban, Genteng Kali, dan Tunjungan kerap terjadi akibat mobil-mobil yang parkir sembarangan. Hal ini bahkan berdampak pada menurunnya jumlah pengunjung saat event seni atau festival digelar.
Dengan penataan ini, pemerintah tidak hanya menghapus parkir, tetapi juga membangun ulang kenyamanan kawasan. Jalur pejalan kaki diperluas, marka sepeda dicat ulang, lampu jalan diperiksa, dan titik penyeberangan dievaluasi. Di beberapa titik, rambu petunjuk arah parkir dan larangan parkir mulai terpasang.
“Ini tentang menciptakan suasana yang layak untuk wisata kota. Tempat ini seharusnya jadi ruang hidup, bukan sekadar jalan yang dilalui kendaraan,” ujar Trio Wahyu Bowo, Plt Kepala Dishub Surabaya.
Tidak lupa, pemkot juga sudah menyiapkan titik parkir alternatif di lokasi-lokasi strategis: Gedung Siola, TEC, Tanjung Anom, Pasar Tunjungan, dan halaman Kantor BPN.
Cak Eri berharap penataan ini bukan hanya soal lalu lintas. Ia melihat potensi peningkatan omzet bagi pelaku UMKM, seniman, dan pengusaha kuliner yang menggantungkan nasib pada geliat wisata di Jalan Tunjungan.
“Romansa Tunjungan ini milik semua warga Surabaya. Dengan lalu lintas yang lancar dan suasana yang tertata, saya yakin pengunjung akan semakin banyak, dan itu akan membawa dampak positif untuk semua,” imbuhnya.
Pemkot juga menggandeng Disbudporapar untuk menentukan lokasi drop point wisatawan, serta memastikan kawasan tetap steril dari PKL liar dan gangguan ketertiban umum lainnya, melalui koordinasi bersama Satpol PP.
Kini, Jalan Tunjungan tidak hanya sekadar jalan bersejarah, tapi menjadi ruang hidup di mana seni, sejarah, dan masyarakat bisa berinteraksi tanpa terhalang oleh deretan kendaraan. (red)
Editor : Redaksi
Harian Merah Putih