Gelombang Kerusuhan di Surabaya Kian Meluas: Pos Polisi Dibakar, Jalan Protokol Porak Poranda

MERAHPUTIH I SURABAYA – Malam mencekam menyelimuti Kota Pahlawan. Demonstrasi yang sejak siang digelar di depan Gedung Negara Grahadi, Kamis (28/8), berujung ricuh dan terus meluas hingga ke berbagai sudut kota. Pusat kerusuhan yang semula hanya di jantung Surabaya, kini menjalar ke Surabaya Selatan.

Sekitar pukul 21.45 WIB, massa yang bergerak secara berombongan menuju Wonokromo melampiaskan kemarahan dengan merusak pos polisi di seberang Kebun Binatang Surabaya (KBS). Pos kecil berwarna putih biru itu luluh lantak. Kaca jendela pecah, tenda ambruk, dan bagian depan pos dilalap api. Kobaran api sempat menjulang, menyisakan bara merah yang menerangi kegelapan jalan raya.

Dari pantauan di lokasi, pembatas jalan berserakan. Kayu-kayu bekas dibuang begitu saja, sebagian hangus terbakar. Aroma plastik terbakar menyengat udara malam. Tak ada lagi aparat di sekitar pos ketika kerusakan terjadi. Massa yang datang secara bergerombol dengan sepeda motor sambil berkonvoi menuju arah selatan kota.

Kericuhan Wonokromo hanyalah salah satu rangkaian dari eskalasi aksi malam itu. Sebelumnya, Markas Polsek Tegalsari menjadi sasaran amuk massa. Kaca kantor pecah, sejumlah fasilitas rusak, meninggalkan jejak serangan brutal. Tak lama berselang, giliran pos polisi di kawasan Taman Bungkul, Jalan Darmo, yang dibakar. Api membubung tinggi, memicu kepanikan warga sekitar sebelum akhirnya berhasil dijinakkan oleh tim Damkar Pemkot Surabaya.

Amukan massa juga merembet ke jalan protokol. Sejumlah water barrier yang biasa digunakan untuk mengatur lalu lintas ditarik ke tengah jalan lalu dibakar. Ban bekas dilemparkan ke kobaran api, menciptakan asap hitam pekat yang menutupi pandangan di sepanjang Jalan Basuki Rahmat, Jalan Panglima Sudirman, hingga Jalan Pemuda. Jalan-jalan utama yang biasanya gemerlap oleh lampu kota berubah menjadi arena kerusuhan.

Awal mula kerusuhan terjadi ketika massa aksi berunjuk rasa di depan Gedung Negara Grahadi. Tuntutan yang disuarakan tak lagi jelas terdengar, karena situasi semakin tegang ketika aparat kepolisian mencoba membubarkan massa dengan tembakan gas air mata. Gas tersebut justru memicu kepanikan dan kemarahan.

Massa yang tidak menerima perlakuan aparat balik menyerang dengan lemparan batu dan benda tumpul lainnya. Situasi berubah kacau. Ribuan orang berhamburan ke berbagai arah, namun alih-alih membubarkan diri, sebagian justru melampiaskan kemarahan ke fasilitas umum, pos polisi, hingga infrastruktur kota.

Kondisi malam itu membuat warga sekitar lokasi kericuhan memilih menutup rumah dan toko lebih cepat. Di kawasan Darmo dan Wonokromo, suasana mencekam terasa jelas.

“Kami takut, soalnya massa lewat sini sambil teriak-teriak. Pos polisi sampai dibakar, apinya besar sekali,” ujar Rudi, salah seorang warga Wonokromo yang rumahnya hanya berjarak 200 meter dari lokasi.

Pedagang kecil di sekitar KBS juga buru-buru menutup lapaknya. Mereka khawatir massa yang melintas melampiaskan kemarahan pada kios dan warung warga. Jalanan lengang, hanya deru knalpot konvoi motor massa yang memecah keheningan malam.

Hingga menjelang tengah malam, aparat kepolisian bersama TNI mulai memperkuat penjagaan di titik-titik rawan, termasuk di sejumlah pos polisi, kantor pemerintahan, dan persimpangan jalan strategis. Mobil water cannon dan kendaraan taktis terlihat dikerahkan. Namun, meski kekuatan keamanan ditambah, Surabaya belum sepenuhnya kondusif.

“Personel sudah kita kerahkan ke seluruh titik. Fokus kita malam ini adalah mengamankan fasilitas umum dan mencegah massa melakukan perusakan lebih jauh,” ujar seorang perwira polisi di lokasi.

Kerusuhan Kamis malam meninggalkan jejak panjang. Pos polisi di Tegalsari, Taman Bungkul, hingga Wonokromo hancur. Jalanan protokol porak-poranda, dipenuhi sisa pembakaran. Beberapa fasilitas umum rusak parah, bahkan sejumlah kendaraan dinas dilaporkan ikut terbakar.

Kerugian material jelas tak sedikit, namun kerugian psikologis jauh lebih besar: rasa aman warga Surabaya runtuh malam itu. Kota yang biasanya menjadi simbol ketangguhan dan ketertiban, dipaksa menghadapi wajah kelam kerusuhan.

 

 

Editor : Redaksi