Getar Megathrust Banyuwangi, Jawa Timur Kembali Diingatkan Soal Ancaman Gempa
MERAHPUTIH I SIDOARJO – Getaran kuat terasa di sebagian wilayah selatan Jawa Timur pada Kamis (25/9) sore. Sekitar pukul 16.04 WIB, Kabupaten Banyuwangi menjadi episentrum gempa bumi tektonik berkekuatan magnitudo 5,7 yang tercatat oleh Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG). Guncangan tersebut sempat membuat warga panik dan berhamburan keluar rumah, namun otoritas memastikan tidak ada potensi tsunami.
Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jawa Timur, Gatot Soebroto, menjelaskan bahwa wilayah selatan Jatim memang termasuk dalam jalur rawan gempa karena berada di atas lempeng aktif.
“Jawa Timur kita tahu beberapa wilayahnya merupakan lintasan dari lempeng yang punya potensi pergerakan. Ada sejumlah patahan yang dulunya sudah ada dan kini kembali aktif,” ujar Gatot di Sidoarjo, Jumat (26/9).
Menurut analisa BMKG, pergerakan lempeng yang terjadi di Banyuwangi merupakan aktivitas alamiah dari sistem tektonik di wilayah selatan Jawa Timur yang dikenal dengan potensi Megathrust Banyuwangi. Megathrust ini merupakan salah satu segmen dari zona subduksi yang membentang dari selatan Pulau Jawa hingga Bali.
Meski sempat menimbulkan kepanikan, Gatot memastikan gempa tersebut tidak memicu potensi tsunami. Ia pun meminta masyarakat untuk tetap tenang dan tidak mudah percaya pada informasi yang beredar di media sosial tanpa sumber resmi.
“Tidak ada potensi tsunami dari gempa yang terjadi kemarin. Kami imbau masyarakat tetap tenang dan selalu merujuk pada informasi resmi dari BMKG dan BPBD. Aktivitas harian bisa tetap berjalan seperti biasa,” tegasnya.
Gempa Banyuwangi tidak hanya dirasakan di titik episentrum, tetapi juga mengguncang wilayah sekitarnya seperti Situbondo, Bondowoso, dan Jember. Data sementara BPBD Jatim mencatat, terdapat 85 bangunan rusak dengan tingkat kerusakan bervariasi.
“Tim kami bersama stakeholder terkait sedang melakukan peninjauan di lapangan. Hingga pukul 13.00 WIB hari ini, tercatat 85 bangunan terdampak dan satu warga mengalami luka ringan di Jember,” kata Gatot.
Kerusakan paling parah ditemukan di Situbondo, khususnya di wilayah Banyuputih, yang mencatat 11 rumah rusak berat. Pemerintah Provinsi Jawa Timur langsung menginstruksikan langkah cepat tanggap bencana untuk membantu para korban.
“Ibu Gubernur Khofifah telah memberikan instruksi langsung agar bantuan segera disalurkan. Besok beliau juga akan turun langsung ke lokasi terdampak di Situbondo,” ungkap Gatot.
Bantuan yang akan disalurkan meliputi material bangunan, bahan kebutuhan pokok, serta paket bantuan anak-anak. Langkah ini menjadi bagian dari komitmen Pemprov Jatim dalam memberikan perlindungan dan pemulihan pascabencana.
BPBD Jatim memastikan pemantauan terhadap aktivitas seismik di wilayah selatan Jawa Timur terus dilakukan. Koordinasi dengan BMKG dan lembaga teknis lain juga diperkuat untuk mendeteksi potensi pergerakan lempeng yang bisa memicu gempa di masa mendatang.
“Kami tidak hanya bergerak dalam tanggap darurat, tapi juga mitigasi. Pemantauan dan edukasi kepada masyarakat terus kami lakukan agar masyarakat paham apa yang harus dilakukan saat gempa terjadi,” tandas Gatot.
Pihaknya juga mengingatkan pentingnya edukasi kesiapsiagaan di tingkat desa dan sekolah, mengingat sebagian besar wilayah pesisir selatan Jatim merupakan kawasan dengan tingkat risiko gempa cukup tinggi.
Gempa Banyuwangi kali ini menjadi pengingat bahwa kesiapsiagaan adalah kunci utama menghadapi bencana alam. Pemerintah dan masyarakat diharapkan terus bergandeng tangan untuk memperkuat ketahanan daerah terhadap ancaman geologi yang sewaktu-waktu bisa terjadi.(red)
Editor : Redaksi
Harian Merah Putih