Jatim Mantapkan Diri sebagai Lumbung Ekspor Desa, 73 Desa Devisa Baru Diresmikan di TPS Surabaya
MERAHPUTIH I SURABAYA — Di tengah deru mesin dan hiruk-pikuk aktivitas Terminal Peti Kemas Surabaya (TPS), Pemerintah Provinsi Jawa Timur kembali menancapkan tonggak penting dalam penguatan ekonomi berbasis desa. Rabu (26/11/2025), Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa meresmikan 73 Desa Devisa baru dalam gelaran Festival Ekspor, sebuah agenda yang menjadi simbol ekspansi besar Jatim ke pasar global.
Dengan penambahan ini, Jawa Timur kini memiliki 293 Desa Devisa, jumlah terbanyak secara nasional. Capaian ini bukan sekadar angka, melainkan gambaran konkret bagaimana desa-desa di Jatim bergerak menjadi pusat produksi yang langsung terhubung dengan rantai pasok internasional.

Menggandeng Banyak Pihak, Menggerakkan Ekonomi dari Akar Rumput
Dalam sambutannya, Gubernur Khofifah menegaskan bahwa capaian ini lahir dari kerja kolektif yang melibatkan berbagai lembaga, mulai dari Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (LPEI), Pelindo III, PT TPS, Bank Jatim hingga asosiasi eksportir.
“Akses pasar seperti ini sangat penting untuk memperkuat produk-produk UKM dan IKM kita. Hari ini Jawa Timur telah mencapai 293 Desa Devisa. Ini kado bagi desa devisa, bagi pelaku IKM dan UKM di akhir 2025,” tutur Khofifah.
Ia menekankan bahwa sinergitas antarinstansi inilah yang membuat produk-produk lokal Jatim bisa menembus pasar Bangladesh, India, Korea Selatan, hingga Eropa. Jatim, kata Khofifah, bergerak bukan hanya menjadi penopang ekonomi nasional, tetapi juga menjadi model bagi daerah lain di Indonesia Timur yang mulai mengadopsi program serupa.
“Kita harus tumbuh bersama, berkembang bersama, maju bersama, dan sejahtera bersama. Inilah cara kita merajut Nusantara secara lebih substantif,” tegasnya.
Plt. Ketua Dewan Direktur sekaligus Direktur Eksekutif LPEI, Sukatmo Padmosukarso, menegaskan bahwa pihaknya sejak awal memposisikan Jawa Timur sebagai mitra strategis dalam penguatan ekspor berbasis desa.
“Desa Devisa memberikan peluang besar bagi petani dan warga desa yang memiliki potensi produk ekspor, mulai jahe, kerajinan tangan, kriya, hingga makanan olahan,” paparnya.
Ia mengungkapkan, sejak 2015 LPEI sudah berhasil melahirkan 73 eksportir baru dari Jatim, buah dari pendampingan, pelatihan, dan dukungan pembiayaan. Menurutnya, peningkatan kapasitas desa-desa itu terbukti mampu mengerek nilai tambah ekonomi di tingkat akar rumput.
Dengan 2.085 Desa Devisa yang terdaftar secara nasional, Jatim menjadi provinsi dengan jumlah terbanyak. “Ini menunjukkan kesiapan Jatim dalam memperkuat ekspor berbasis komunitas,” ujarnya.
Festival Ekspor ini juga menjadi ruang transaksi besar. Kepala Disperindag Jatim, Iwan, menyampaikan bahwa kegiatan tersebut menghasilkan Letter of Intent (LOI) senilai Rp3,95 triliun, belum termasuk pelepasan ekspor langsung senilai Rp5,8 miliar.
Produk-produk ekspor yang dikirim kali ini beragam: jahe segar, keripik, sepatu, hingga produk unggulan desa devisa lainnya.
“Total nilai yang tercapai hari ini Rp3,955 triliun. Ini menunjukkan minat pasar internasional yang sangat tinggi terhadap produk-produk Jatim,” kata Iwan.
Ekspor tersebut dilepas menuju berbagai negara, termasuk Bangladesh, India, Korea Selatan, hingga Belanda menjadi bukti bahwa produk desa tidak lagi berkutat pada pasar lokal, tetapi telah resmi menjadi bagian dari kompetisi global.
Festival Ekspor tidak hanya menjadi ajang seremoni, melainkan juga penegasan bahwa Jawa Timur memimpin gerakan baru: mengangkat potensi desa menjadi kekuatan ekspor nasional.
Dengan dukungan kuat dari Pemprov, LPEI, Pelindo, perbankan, dan pelaku industri, Jatim semakin mempertegas posisinya sebagai episentrum pertumbuhan ekspor berbasis UKM, IKM, dan komunitas desa.
Momentum ini menandai langkah besar, bahwa masa depan ekonomi nasional tidak hanya bertumpu pada industri besar, tetapi juga pada desa-desa yang mampu menghadirkan produk berdaya saing global. Jawa Timur, sekali lagi, menunjukkan jalannya. (red)
Editor : Redaksi
Harian Merah Putih