Ancaman Lama yang Kembali Mengintai: Indonesia Tingkatkan Kewaspadaan terhadap Virus Nipah
MERAHPUTIH I SURABAYA - Wabah Virus Nipah (Nipah Virus/NiV) yang pernah mengguncang Malaysia pada 1999 menjadi pengingat pahit betapa berbahayanya penyakit zoonotik yang berpindah dari hewan ke manusia. Kala itu, virus mematikan tersebut tidak hanya merenggut nyawa manusia, tetapi juga memaksa pemusnahan jutaan ternak babi, menghantam perekonomian, serta memicu krisis sosial di wilayah terdampak.
Meski hingga saat ini Indonesia belum mencatatkan kasus konfirmasi Virus Nipah pada manusia, pemerintah memilih untuk tidak lengah. Sejumlah langkah antisipatif dan peringatan dini telah dikeluarkan sebagai respons atas dinamika penyebaran penyakit menular di kawasan Asia Tenggara. Kebijakan tersebut sekaligus menjadi bagian dari upaya memperkuat sistem kewaspadaan dini dan kesiapsiagaan kesehatan nasional agar potensi masuknya virus berbahaya ke Tanah Air dapat dicegah sejak dini.
Pemerintah menegaskan bahwa kewaspadaan tidak boleh diartikan sebagai kepanikan. Namun, dengan tingkat fatalitas Virus Nipah yang tergolong tinggi serta sumber penularannya yang berasal dari hewan liar, penyakit ini tetap dipandang sebagai ancaman serius yang berpotensi berkembang menjadi masalah kesehatan global apabila tidak ditangani secara komprehensif.
Virus Nipah diketahui pertama kali teridentifikasi pada akhir 1990-an dan memiliki karakteristik penularan yang kompleks. Vella Rohmayani, Dosen Teknologi Laboratorium Medis (TLM) Universitas Muhammadiyah Surabaya (UMSURA), menjelaskan bahwa virus ini secara alami hidup pada kelelawar buah dari genus Pteropus, yang berperan sebagai reservoir utama.
“Penularan ke manusia dapat terjadi melalui kontak langsung dengan cairan tubuh hewan yang terinfeksi, seperti air liur, urin, atau darah,” ujar Vella. Ia menambahkan, risiko penularan juga muncul melalui konsumsi pangan yang terkontaminasi sekresi kelelawar, misalnya buah yang telah tergigit atau tidak dicuci dengan baik sebelum dikonsumsi.
Tak hanya itu, dalam kondisi tertentu, Virus Nipah juga dapat menular antarmanusia. Penularan ini biasanya terjadi melalui kontak erat dengan pasien yang terinfeksi, baik di lingkungan keluarga maupun di fasilitas pelayanan kesehatan. Oleh karena itu, aspek perlindungan tenaga medis dan pengendalian infeksi menjadi faktor krusial dalam pencegahan.
Dari sisi klinis, infeksi Virus Nipah sering kali diawali dengan gejala yang tampak ringan dan menyerupai influenza. Penderita umumnya mengalami demam tinggi, nyeri otot, sakit kepala, serta gangguan pernapasan. Namun, pada kasus yang lebih berat, virus dapat menyerang sistem saraf pusat dan menyebabkan ensefalitis atau peradangan otak. Kondisi ini ditandai dengan pusing berat, kejang, hingga penurunan kesadaran yang membutuhkan penanganan medis segera dan intensif.
Melihat karakteristik tersebut, pemerintah menekankan pentingnya langkah pencegahan berbasis perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS). Masyarakat diimbau untuk membiasakan mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir, memastikan bahan makanan dicuci bersih serta dimasak hingga matang, dan menghindari konsumsi buah-buahan yang menunjukkan bekas gigitan hewan.
Di sektor peternakan, khususnya peternak babi, kewaspadaan juga perlu ditingkatkan. Penggunaan alat pelindung diri seperti masker dan sarung tangan saat berinteraksi dengan ternak dianjurkan guna meminimalkan risiko paparan. Selain itu, masyarakat diminta untuk tidak melakukan kontak langsung dengan kelelawar atau hewan liar lain yang terlihat sakit atau mati secara tidak wajar.
Para ahli menilai bahwa kunci utama dalam menghadapi potensi ancaman Virus Nipah adalah kombinasi antara edukasi publik, disiplin menjaga kebersihan, serta kesiapan sistem kesehatan. Dengan langkah preventif yang konsisten dan informasi yang akurat dari otoritas resmi, risiko penyebaran virus mematikan ini dapat ditekan sedini mungkin.
Kewaspadaan hari ini, menjadi benteng penting agar Indonesia tidak mengulang krisis kesehatan yang pernah dialami negara lain di masa lalu.(sub)
Editor : Redaksi
Harian Merah Putih