Bedah Rumah Penjaga Sekolah, Khofifah Tegaskan Zakat ASN Harus Berdampak Nyata

MERAHPURIH I SURABAYA – Di balik peringatan Hari Pendidikan Nasional 2026, Pemerintah Provinsi Jawa Timur menghadirkan wujud kepedulian yang langsung menyentuh kehidupan insan pendidikan. Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa bersama Sekretaris Daerah Provinsi Jatim Adhy Karyono dan Kepala Dinas Pendidikan Jatim Aries Agung Paewai meninjau hasil renovasi rumah milik Wandhori, penjaga sekolah di SMA Negeri 2 Surabaya, Selasa (5/5).

Rumah yang berada di kawasan Jalan Dinoyo Baru, Surabaya itu kini telah berubah total. Dari kondisi sebelumnya yang tidak layak huni, bangunan tersebut kini berdiri kokoh dan nyaman untuk ditempati. Renovasi dilakukan melalui program “bedah rumah” yang diinisiasi Dinas Pendidikan Jawa Timur dengan dukungan dana zakat yang dihimpun melalui BAZNAS.

Gubernur Khofifah menjelaskan bahwa program ini merupakan bagian dari penyaluran zakat aparatur sipil negara (ASN) di lingkungan Dinas Pendidikan Jawa Timur yang ditasyarufkan untuk membantu masyarakat, khususnya kategori rumah tidak layak huni (Rutilahu).

“Proses penyaluran BAZNAS ini berasal dari keluarga besar Dinas Pendidikan Jawa Timur. Ada bagian yang memang bisa ditasyarufkan untuk berbagai kebutuhan sosial, termasuk pembangunan rumah layak huni,” ujar Khofifah.

Menurutnya, zakat yang dikumpulkan para staf tersebut tidak hanya disalurkan dalam bentuk bantuan konsumtif, tetapi juga diarahkan pada program produktif dan berkelanjutan, seperti bedah rumah dan program afirmasi pendidikan.

Khofifah menambahkan, setiap kabupaten/kota di Jawa Timur mendapatkan minimal satu titik program bedah rumah. Selain itu, terdapat pula program afirmasi berupa bantuan pendidikan sebesar Rp1 juta bagi keluarga kurang mampu yang juga bersumber dari zakat ASN.

“Ini bagian dari upaya kita agar zakat yang terkumpul bisa memberikan dampak luas, baik dalam aspek sosial maupun pendidikan,” tegasnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan Jatim Aries Agung Paewai menjelaskan bahwa pemilihan rumah Wandhori bukan tanpa alasan. Program ini secara khusus menyasar insan pendidikan non-guru yang selama ini jarang tersentuh bantuan.

“Momentum Hardiknas ini dimanfaatkan Ibu Gubernur untuk menunjukkan kepedulian kepada seluruh insan pendidikan, termasuk tenaga kependidikan seperti penjaga sekolah. Pak Wandhori ini sudah mengabdi selama 19 tahun,” jelas Aries.

Ia menambahkan, berdasarkan hasil survei di sejumlah daerah, rumah Wandhori dinilai layak mendapatkan bantuan karena kondisinya yang memprihatinkan. Program serupa juga dilakukan serentak di 38 kabupaten/kota di Jawa Timur.

“Total sejak tahun lalu hingga sekarang sudah ada sekitar 135 rumah yang dibedah melalui dana BAZNAS. Nilainya rata-rata antara Rp20 juta hingga Rp25 juta per rumah, dan itu cukup karena dikerjakan dengan gotong royong,” imbuhnya.

Proses pembangunan sendiri berlangsung relatif cepat, berkisar antara satu hingga dua bulan, tergantung kondisi awal rumah.

Bagi Wandhori, bantuan ini menjadi berkah besar bagi keluarganya. Selama lebih dari satu dekade, ia bersama keluarganya harus bertahan di rumah dengan kondisi memprihatinkan—tembok rembes, tanpa plafon, hingga kebocoran di berbagai sudut.

“Dulu rumahnya tidak layak huni. Kalau hujan bocor, temboknya rembes, bahkan saya tidur di ruang tamu karena kamar tidak bisa dipakai,” ungkapnya.

Kini, ia bersama istri, dua anak, serta anggota keluarga lain yang total berjumlah sekitar delapan orang dapat menikmati rumah yang lebih nyaman dan sehat.

“Alhamdulillah sekarang sudah bagus 100 persen. Terima kasih kepada Ibu Gubernur, semoga Jawa Timur semakin maju,” ucapnya haru.

Wandhori sendiri diketahui bekerja sebagai penjaga sekolah di SMA Negeri 2 Surabaya selama hampir dua dekade. Dengan penghasilan terbatas, ia kesulitan memperbaiki rumahnya secara mandiri.

Program bedah rumah ini menjadi bukti nyata bahwa perhatian pemerintah tidak hanya terfokus pada peningkatan kualitas pendidikan secara formal, tetapi juga kesejahteraan para pelaku di dalamnya.

Melalui langkah ini, Pemprov Jawa Timur ingin memastikan bahwa semangat Hari Pendidikan Nasional tidak berhenti pada seremoni, tetapi juga menghadirkan perubahan nyata bagi masyarakat, terutama mereka yang selama ini menjadi bagian penting dari ekosistem pendidikan.(pps)

Editor : Redaksi