Ratusan Mahasiswa Kepung Grahadi, Kritik Demokrasi hingga Program Pemerintah

MERAHPUTIH I SURABAYA – Gelombang aksi mahasiswa kembali mewarnai Kota Surabaya. Ratusan mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi turun ke jalan dan menggelar demonstrasi di depan Gedung Negara Grahadi, Jalan Gubernur Suryo, Rabu (17/6), sebagai bentuk protes terhadap sejumlah kebijakan pemerintah yang dinilai tidak berpihak kepada rakyat.

Aksi yang berlangsung sejak siang hari itu diikuti mahasiswa dari berbagai kampus, di antaranya UPN Veteran Jawa Timur, Universitas Airlangga (Unair), Universitas Negeri Surabaya (Unesa), Universitas Muhammadiyah Surabaya (UMSurabaya), Aliansi BEM Surabaya, serta sejumlah elemen mahasiswa lainnya.

Dengan membawa spanduk, poster, dan berbagai atribut aksi, massa menyampaikan kritik terhadap kondisi politik, demokrasi, hingga kebijakan nasional yang saat ini menjadi sorotan publik. Suasana demonstrasi berlangsung dinamis dengan orasi yang disampaikan secara bergantian dari atas mobil komando.

Dalam salah satu orasinya, perwakilan mahasiswa menegaskan bahwa aksi turun ke jalan merupakan bentuk kepedulian generasi muda terhadap kondisi bangsa yang mereka nilai tengah menghadapi berbagai persoalan serius.

"Besok beberapa dari kita akan melaksanakan Salat Jumat, besok Hari Minggu beberapa dari kita akan melaksanakan ibadah mingguan, tetapi hari ini kita melaksanakan ibadah perlawanan," seru seorang orator yang langsung disambut tepuk tangan dan sorakan peserta aksi.

Mahasiswa menilai ruang demokrasi di Indonesia saat ini semakin mengalami kemunduran. Mereka menyampaikan kekhawatiran terhadap berbagai kebijakan yang dianggap mengurangi partisipasi publik serta melemahkan fungsi kontrol masyarakat terhadap pemerintah.

Selain menyoroti persoalan demokrasi, massa juga mengkritisi keterlibatan institusi tertentu dalam program-program sipil pemerintah. Dalam orasinya, mahasiswa menyinggung pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang belakangan menjadi perhatian publik.

"Hari ini kita melihat pemerintah semakin merongrong demokrasi. Tentara kita tidak menjaga perbatasan tetapi malah mengurus MBG. Indonesia sedang sakit parah," ujar salah satu peserta aksi melalui pengeras suara.

Sepanjang aksi berlangsung, mahasiswa terus menyuarakan tuntutan agar pemerintah lebih terbuka terhadap kritik dan mengedepankan prinsip-prinsip demokrasi dalam setiap pengambilan kebijakan. Mereka juga meminta agar fungsi lembaga negara dijalankan sesuai tugas dan kewenangan masing-masing.

Di sisi lain, aparat keamanan tampak bersiaga mengawal jalannya demonstrasi. Sejumlah personel kepolisian ditempatkan di sekitar kawasan Gedung Negara Grahadi untuk mengantisipasi potensi gangguan keamanan dan menjaga agar aksi tetap berlangsung tertib.

Pengamanan di kawasan objek vital milik Pemerintah Provinsi Jawa Timur itu juga diperketat. Pagar kawat berduri terlihat terpasang membentang di depan gerbang Grahadi sebagai langkah antisipatif. Sementara puluhan petugas keamanan berjaga di area dalam kompleks gedung.

Dampak dari aksi tersebut turut dirasakan pengguna jalan. Arus lalu lintas di kawasan sekitar Grahadi mengalami perubahan karena adanya penutupan sejumlah ruas jalan. Jalan Yos Sudarso ditutup total selama demonstrasi berlangsung sehingga kendaraan dialihkan ke jalur alternatif yang telah disiapkan petugas.

Kemacetan sempat terjadi di beberapa titik sekitar pusat Kota Surabaya akibat pengalihan arus lalu lintas. Meski demikian, petugas kepolisian dan Dinas Perhubungan terus melakukan pengaturan kendaraan untuk meminimalkan kepadatan.

Hingga sore hari, aksi demonstrasi masih berlangsung dengan berbagai agenda penyampaian aspirasi. Mahasiswa menegaskan akan terus mengawal berbagai kebijakan pemerintah dan memastikan suara masyarakat tetap mendapat ruang dalam proses demokrasi.(sub)

Editor : Redaksi