Tradisi Ketupat Mini di Kampung Sukolilo Surabaya

Tradisi 'Riyoyo Kupat' di Kampung Sukolilo Surabaya (Foto: HMP/Zulfikar)
Tradisi 'Riyoyo Kupat' di Kampung Sukolilo Surabaya (Foto: HMP/Zulfikar)
MERAHPUTIH | SURABAYA - Satu minggu usai Hari Raya Idul Fitri, warga kampung nelayan Sukolilo, Surabaya menggelar tradisi khas yang unik.  Tradisi unik yang diadakan tahunan ini, adalah di hampir semua rumah di Sukolilo membuka lapak ketupat mini.  
 
Sebagai bentuk rasa syukur terhadap hasil laut, karena mayoritas warga Sukolilo bekerja sebagai nelayan. Rasa syukur itu digambarkan dengan membagikan ketupat dan lepet gratis di lebaran ketupat. Namun, di masa pandemi seperti ini hanya beberapa rumah saja yang membuka lapak, karena ada aturan jaga jarak (physical distancing). Warga setempat menyebut tradisi ini telah berjalan turun-temurun, dari nenek moyang mereka.
 
Salah satu tokoh masyarakat kampung Sukolilo Baru, Tri Eko Sulistiowati mengatakan, tradisi tahunan ini selalu dilakukan pasca seminggu Idul Fitri. Gelaran itu sebagai bentuk syukur sebagai nelayan meski saat ini tengah pandemi Covid-19.
 
"Lebaran ketupat ini warga membagikan lepet secara gratis. Namun saja tata caranya tetap seperti orang jual beli dan jaga jarak/physical distancing," kata Tri Eko, Minggu (31/5).
 
Di momen ini, warga melibatkan anak-anak sebagai penjual dan pembelinya. Karena Hari raya kali ini menggambarkan identik dengan kebahagiaan dan kemeriahan dengan simbol-simbol yang melekat dengan sosok anak-anak.
 
Meskipun sajian ini gratis, namun aneka menu makanan ini di masak dengan sungguh-sungguh. Aneka rempah dan bumbu-bumbunya sangat terasa. Bahkan rasanya juga gak kalah dengan yang ada di kedai-kedai makanan.
 
“Tradisi "Riyoyo Kupat" Mini ini sudah ada sejak jaman mbah buyutku,” imbuh Bunda Tri yang merupakan salah satu warga di kawasan Sukolilo baru ini. “Dari gang 1 sampe gang 8 bisa di temui warga yang melaksanakan tradisi ini,” tandasnya.
 
Tradisi Rioyo Kupat Mini ini, menurutnya, memiliki dua filosofi penting untuk dipetik hilmahnya. Yakni pertama adalah cara untuk mengungkapkan rasa syukur karena telah menjalankan ibadah selama sebulan penuh. Kedua adalah untuk mengajarkan anak untuk ber-entrepeneur sejak usia dini. “Sebab itulah, kalimat tuku atau beli selalu di gunakan,” jelas Bunda Tri yang pegiat Kelompok Informasi Masyarakat (KIM) Bahari Sukolilo Baru itu. (ton/tji)
 

Editor : Tudji Martudji