Fenomena Ribuan Ikan Mati

Ecoton: Ada Bahan Beracun di Waduk SIER


Gedung SIER yang mengelola pabrik-pabrik di kawasan Rungkut, Kota Surabaya.

MERAH PUTIH | Surabaya- Banyaknya ikan mati di Waduk SIER Rungkut, Surabaya mengundang perhatian dari berbagai pihak. Kali ini Direktur Lembaga Ecoton Prigi Arisandi mengatakan kemungkinan penyebab ribuan ikan mati di waduk yang dikelilingi sejumlah pabrik itu karena adanya bahan kimia di dalam dasar sungai.

"Kita belum sempat turun sih mas, tapi kalau dilihat dari kejadian itu kemungkinan besar adanya bahan beracun yang ada didalam waduk tersebut, sehingga menyebabkan banyak ikan mati," kata Prigi kepada Harian Merah Putih, kemarin.

Kemungkinan kedua menurut Prigi, yaitu karena minimnya oksigen didalam waduk tersebut. "Bisa juga karena kondisi air waduk yang miskin oksigen. Untuk pastinya harus menunggu dulu hasil penelitian oleh Dinas Lingkungan Hidup Surabaya," ujar Prigi yang pernah mendapat penghargaan internasional The Goldman Environmental Prize.

Prigi juga meminta agar jangan sampai masyarakat mengkonsumsi ikan yang ada di waduk tersebut. "Perlu kewaspadaan dan kehati-hatian agar masyarakat tidak mengkonsumsi ikannya," tukasnya.

Sebelumnya diberitakan ribuan bangkai ikan mengapung di waduk SIER Surabaya. Tentu saja ribuan ikan tersebut membuat bau menyegat saat melintas disekitar waduk, dan membuat pedagang sekitar waduk mengeluh. Murjani, salah satu pedagang sekitar waduk, mengatakan jika ikan-ikan tersebut sudah dalam keadaan mabuk sejak Selasa (2/6/2020) .

Ketika ia hendak membuka warungnya, Mujani melihat ikan tersebut dalam keadaan mabuk atau sekarat. "Itu sejak selasa pagi sudah banyak yang mabuk. Itu banyak warga yang ambil ikannya waktu itu. Lha sekarang banyak yang busuk hingga menyebabkan bau menyengat," kata Mujani, kemarin.

Akibatnya, lanjut Mujani, selain membuat pelanggan jijik untuk makan di warungnya, Mujani mengaku istrinya sering sakit kepala dan tak makan selama dua hari karena teringat bau tersebut. "Pastinya, baunya ini kan membuat pelanggan jijik mas. Belum lagi istri saya sakit karena gak makan akibat sering mencium aroma busuk ini," keluh Mujani.

Menurut Mujani, ikan-ikan tersebut mati diduga karena tercemarnya air limbah yang sengaja dibuang oleh pabrik secara diam-diam. Ia menduga, pabrik-pabrik sekitar waduk harus bertanggung jawab atas peristiwa ini. "Mungkin airnya tercemar limbah mas, disini kan ada pabrik Unilever, Baigon dan banyak yang lainnya. Tapi saya gak tau juga mas, soalnya gak sekali ini ikan banyak yang mati sebanyak ini. Mereka pasti membuangnya diam-diam, apalagi pas hujan beberapa hari kemarin," cetus Mujani.

Sementara itu, Tuaji, Sekretaris Perusahaan PT SIER saat dikonfirmasi melalui pesan Whastapp mengatakan tidak benar jika ikan-ikan tersebut mati karena limbah melainkan kekurangan oksigen. Menurut Tuaji, hal ini biasanya terjadi setiap 5 tahun sekali karena anomali cuaca yaitu hujan deras dengan durasi yang lama dan bersamaan kondisi air laut pasang sehingga lumpur diwaduk tercampur air/keruh sehingga sebagian ikan mati.

"Sebagian besar masih hidup pak, diwaduk kami luasnya 11 hektare Dan jumlah ikannya banyak sekali mayoritas jenis nila dan mujahir, jadi ikan disana yang mati karena kekurangan oksigen," jelas Tuaji.

Hal ini, lanjut Tuaji, bisa dipastikan dengan hasil analisa air waduk oleh petugas lab air yang dilakukan oleh PT Sier yang mana airnya memang air hujan. Uji waduk tersebut, oleh tim lab air PT SIER yang mana PT SIER memiliki pengolahan limbah komunal yang saat ini diolah secara biologi sebesar 6500m3 per hari.

"Kami memiliki tim yang mampu menganalisa kondisi air bahwa air tersebut derajat polutannya seberapa jauh. Jadi sudah dipastikan bukan limbah," tambah Tuaji.

Tuaji menambahkan, yang sedang dilakukan PT SIER saat ini adalah membersihkan ikan yang mati dan dikubur ditempat yang aman. Serta memasang airator agar oksigen pada air waduk semakin kaya sehingga ikan yang ada disana bisa hidup.

"Kami bersihkan ikan yang mati dan memasang airator agar oksigen air wasuk semakin banyak hingga ikan yang disana bisa tetap hidup," tutup Tuaji. (her/jim)