Tangani Limbah Waduk SIER, DLH Kota Surabaya Lamban, Ada Apa?


Waduk SIER yang diduga terjadi pencemaran limbah hingga mengakibatkan ribuan ikan mati

MERAH PUTIH|Surabaya – Peristiwa matinya ribuan ikan di Waduk PT SIER (Surabaya Industrial Estate Rungkut) sudah terjadi pekan lalu. Namun Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Surabaya tak kunjung menyelesaikan uji laboratorium air dan ikan yang mati. Ada apa di balik ini?

Banyak pihak yang meyakini air di Waduk SIER tercemar limbah pabrik-pabrik di sana. Bahkan, limbah tersebut diduga termasuk Bahan Beracun dan Berbahaya (B3). Namun lantaran DLH belum mengeluarkan hasil uji laboratorium, Unit Tipiter Polrestabes Surabaya belum bisa melanjutkan penyelidikannya atas dugaan pencemaran limbah yang mengakibatkan ikan-ikan itu mati.

Ketua Komunitas Jurnalis Peduli Lingkungan (KJPL) Teguh Ardi Srianto menyatakan bahwa di Waduk PT SIER sering sekali terjadi kasus matinya ikan. Namun, kata ,Teguh hingga saat ini belum ada penindakan tegas. Baik dari Pemkot Surabaya maupun pihak Kepolisian. "Dulu pernah juga terjadi hal sama mas, tapi gak ada penindakan tegas," kata Teguh, Rabu (10/6).

Ia menyesalkan kasus pencemaran di kawasan SIER tak pernah diselesaikan dengan penegakan hukum. Padahal masalah pelanggaran limbah sudah diatur dalam Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup (PPLH).  "KJPL Indonesia menyesalkan tidak adanya penindakan tegas dengan kasus pencemaran di kawasan SIER," tandasnya.

Terkait ini, Komisi C DPRD Kota Surabaya akan memanggil Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Surabaya maupun PT SIER selaku pengelola waduk. “Pasti kita panggil, ini PSBB sudah selesai juga. Kita hearing secara langsung. Tapi nunggu hasil sampelnya dulu,” kata Sekretaris Komisi C DPRD Kota Surabaya, Agoeng Prasodjo, saat ditemui di gedung DPRD Kota Surabaya, kemarin.

Nantinya, Agoeng pihaknya meminta DLH Kota Surabaya dan PT SIER mempublikasikan hasil uji laboratorium yang sudah diteliti. Ini untuk menghindari silang pendapat pada masyarakat. “Sekarang kan masyarakat bertanya-tanya apakah ini pencemaran atau memang perubahan iklim. Jadi harus dijawab,” tandas dia.

Jika terbukti terjadi pencemaran lingkungan, ia meminta untuk mengusut siapa yang melakukannya. Sehingga bisa ditindaklanjuti permasalahan tersebut. “Kalau terbukti ada limbah, itu harus diusut. Dari mana limbah itu. Kalau ketahuan, izin perusahan yang mencemarkan bisa dicabut,” tegas Agoeng.

Masih Ditelusuri

Dihubungi terpisah, Kabid Pengawasan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Surabaya, Andini menyatakan pihaknya masih melakukan penelusuran untuk mengetahui penyebab kematian ribuan ikan di Waduk PT SIER. "Kami masih melakukan penyusuran untuk mengetahui penyebab kematian ikan, apakah murni karena eutrofikasi atau ada indikasi pencemaran limbah. Sudah kami ambil sampel airnya dan sekarang masih tahap uji lab," kata Andini kepada Harian Merah Putih, Rabu (10/6).

Andini menegaskan jika memang ditemukan adanya indikasi pencemaran lingkungan, pihaknya akan memberikan tindakan tegas kepada pelaku pencemaran limbah. "Jika memang ditemukan adanya pencemaran akan kami tindak lanjuti sesuai ketentuan yang berlaku," ungkapnya.

Sementara itu, praktisi hukum Abdul Wachid mengatakan jika memang di daerah industri seperti daerah SIER memang rawan terjadi pencemaran lingkungan. Hal itu dikarenakan banyaknya pabrik yang juga berpotensi menyebabkan pencemaran lingkungan dari limbah pabrik.

"Karena memang daerah industri, jadi rawan pencemaran dan seharusnya IPAL juga harus bagus. Seharusnya Dinas LH Surabaya atau yang membawahi melakukan inspeksi atas pencemaran tersebut," kata aktivis Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Surabaya ini.

Untuk mengungkap kebenaran kasus pencemaran lingkungan di SIER, Abdul Wachid mengimbau harus ada investigasi dari pihak Pemkot untuk mengetahui penyebab pasti matinya ribuan ikan di Waduk PT SIER. "Harus ada investigasi dari pemerintah untuk menyimpulkan hal tersebut, dugaan itu (pencemaran lingkungan) berpotensi benar, karena memang daerah industri yang rawan pencemaran," jelasnya.

Abdul Wahid juga meminta aparat kepolisian untuk segera turun melakukan penyelidikan terkait indikasi pencemaran lingkungan di Waduk PT SIER. "Polisi mempunyai kewenangan penyelidikan karena di UU LH tidak perlu ada pengaduan karena masuk tindak pidana biasa," ujarnya.

Jika terbukti adanya praktik pencemaran lingkungan dalam kasus matinya ribuan ikan di Waduk PT SIER, Abdul Wahid menyatakan jika pemilik pabrik yang terbukti melakukan pencemaran lingkungan harus bertanggung jawab, termasuk PT SIER sebagai penanggungjawab. “Ya pemilik pabrik atau yang melakukan pencemaran harus bertanggungjawab mas, termasuk PT SIER karena sebagai penanggung jawab," tukasnya.

Polda Ikut Back Up

Dia-diam Polda Jatim iku memback up kasus matinya ribuan ikan di Waduk SIER. Kanit 3 Subdit IV Tipidter Ditreskrimsus Polda Jatim Kompol Tinton dihubungi melalui selulernya mengatakan pihaknya juga turut melakukan asistensi terkait penyelidikan penyebab matinya ribuan ikan di Waduk PT SIER.  "Kami asistensi mas," jawab Tinton singkat kepada Harian Merah Putih.

Ini menguatkan langkah Satreskrim Polrestabes Surabaya yang sudah melakukan koordinasi dengan DLH Kota Surabaya. Kanit Harda Satreskrim Polreetabes Surabaya Iptu Handa Wicaksana mengatakan

pihaknya sudah berkoordinasi dengan DLH untuk memastikan penyebab ikan-ikan tersebut mati. "Kita sudah koordinasi dengan DLH dan melakukan penyelidikan untuk memastikan ada pelanggaran atau tidak," ucap Handa.

Ditanya jika ada pelanggaran undang-undang lingkungan hidup, siapa yang harus bertanggung jawab,  Handa mengatakan jika memunggu proses penyelidikan dahulu. "Ya nanti, dilihat proses lidik dulu mas," ujarnya.

Sebelumnya, Sekretaris PT SIER Tuadi mengatakan tidak benar jika ikan-ikan tersebut mati karena limbah melainkan kekurangan oksigen. Menurut Tuaji, hal ini biasanya terjadi setiap 5 tahun sekali karena anomali cuaca yaitu hujan deras dengan durasi yang lama dan bersamaan kondisi air laut pasang sehingga lumpur diwaduk tercampur air/keruh sehingga sebagian ikan mati. "Sebagian besar masih hidup pak, di waduk kami luasnya 11 hektare dan jumlah ikannya banyak sekali," kata Tuaji.

Tuaji memastikan penyebab ikan-ikan itu mati bukan karena limbah. Hasil analisa air waduk oleh petugas lab air yang dilakukan PT SIER, airnya memang air hujan. "Kami memiliki tim yang mampu menganalisa kondisi air bahwa air tersebut derajat polutannya seberapa jauh. Jadi sudah dipastikan bukan limbah," terang dia. (her/jim)