Uri Rotstock, Salah Satu Puncak Swiss Alpen Terindah

Krisna Diantha tengah mendaki Uri Rotstock. HMP/ Krisna Diantha
Krisna Diantha tengah mendaki Uri Rotstock. HMP/ Krisna Diantha

 

Krisna Diantha

Laporan dari Swiss

 MERAHPUTIH| SWISS- Swiss saat ini juga memasuki New Normal seperti halnya Indonesia. Roda kehidupan di negara Eropa paling kaya itu bergeliat. Termasuk sektor wisata. Negeri yang dikenal juga dengan coklatnya itu mempunyai pemandangan alam yang luar biasa indah. Salah satunya adalah pegunungan Alpen.

Kontributor Harian Merah Putih dan harianmerahputih.id, Krisna Diantha baru-baru ini mendaki Uri Rotstock, salah satu puncak Swiss Alpen. Seperti apa lika-liku dan perjuangan Krisna bersama teman-temannya?

URI Rotstock namanya. 2927 meter tingginya. Sesuai namanya, gunung ini ada di Provinsi Uri, Swiss agak ke Selatan. Sesuai ketinggiannya, hiking kesini masuk katagori hoch tour. Akan ada salju abadi, bahkan gletser.  Jika dengkul ringkih bersiap siaplah menginap di sana.

Bertiga, saya, Patrick dan Stefan, sudah lama ingin mencapainya. Jika bukan karena cuaca, ya waktu kami bertiga yang tidak pas. Namun, pada akhirnya, tiba juga saatnya. Usia kami sudah mencapai 50 tahunan, dikerkah asam urat dan otot bisa kejang setiap saat. Menginap adalah pilihan mutlak.

Perjalanan kali ini disambut cuaca yang berubah-ubah. Namun tidak akan hujan. Mendung iya, angin kencang ada. Saya, Patrick , dan Stefan pun memilih bergegas agak awal dari biasa. Meskipun hampir 3000 m dpl, mendaki di gunung di Swiss, bisa dilakukan seharian. Naik turun pun bisa dalam sehari. Sesuatu yang agak agak mustahil untuk pendakian di Indonesia.

Adakah karena jalurnya mudah, hingga pendakian 3000 meter bisa dilakukan seharian? Tidak demikian. Jalurnya sulit, bahkan sangat sulit. Tapi kemudahan itu didukung dengan adanya cable car yang mendekatkan kami ke tujuan.  Dan tentu saja info tentang gunung itu, sangat lengkap.

Kami tahu akan menghadapi medan seperti apa. Padang salju sekitar  3 km, akan kami lalui. Jalanan berbatu, seperti mendarat di bulan, juga sudah ada di kepala. Toh, saya agak gemetar ketika ada pendaki lain membawa pickel, sejenis gancu.

 “Memang perlu itu?“ tanyaku.

“Mungkin, 400 meter sebelum puncak,“ katanya.

Kami bertiga melewati jalur salju itu, 400 meter sebelum puncak,  tanpa menggunakan gancu. Selamat sehat walafiat. Jatuh tidak. Tapi terselip sesekali. Setelah itu adalah bibir jurang yang kanan kirinya mengangah. Siap menelan pendaki yang lengah.

 “Aku tidak kuat lagi, kalian teruslah, aku tunggu di sini,“ kata Patrick, tiba tiba.

“Ayo, jalan perlahan. Tinggal 200 meteran,“ kataku.

 Stefan sudah di puncak, kami berdua ngesot di antara kerikil dan pasir. Tapi akhirnya sampai juga di tujuan. Hanya kabut datang, angin juga makin kencang.

Saya minta Stefan nengisi Gipflebuch, sebuah buku tamu untuk mencatatkan nama kami di sana. Dia ogah, sambil menggerutu tak tentu arah. Tapi dia mau menuliskan nama saya. “Krisna pernah disini, begitu ya tulisannya,“ katanya sambil menorehkan nama saya di buku hitam yang dibungkus plastik.

Boleh jadi, saya satu satunya orang Indonesia yang sampai kemari. Hiking di Swiss, apalagi hochtour, nyaris hanya didominasi orang Swiss asli. Kalau pun ada orang asing, biasanya kalangan akademis.  Saya tak pernah berjumpa orang Asia di jalur seperti ini.

 “Ayo turun, besok ke sini lagi,“ kata Patrick. (bersambung)

 

Editor : Eko Yudiono