Rombongan Dikepung Gletser Berselimut Debu
Krisna Diantha
Laporan dari Swiss
MERAHPUTIH|SWISS- Swiss mulai menggeliat setelah negara ini mulai memberlakukan New Normal. Lihat saja di pegunungan Alpen yang mulai diserbu wisatawan. Termasuk kontributor Harian Merah Putih dan harianmerahputih.id yang turut mendaki Uri Rotstock, salah satu puncak Swiss Alpen.
Saya kira dia bercanda, atau setidaknya sedang halu. Tapi saya diam saja, dan kami turun alon-alon. Tujuannya adalah sebuah huma tanpa listrik dan air di lereng gunung ini, sekitar sejam perjalanan.
Kami berjalan di antara jurang berpasir, atau merayap di antara dinding karang. Tidak sulit, tapi kaki sudah gemetaran.
Berkali kali saya bertanya, di mana humanya? Berkali-kali pertanyaan itu tidak dijawab. Kami hanya mengikuti jalan setapak, seperti berjalan di atas punggung dinosaurus. Ada gletser di kanan, juga di kiri. Dan kabut. Juga angin.
Setelah menembus kabut, sampailah kami di huma itu. “Akan datang juga rombongan lain, kalian booking tempat merebahkan badan dulu,“ kata Aladin, yang sudah datang duluan.
Ketika Aladin menyebut akan ada lagi delapan orang menginap, saya agak putus asa. Akan ada 12 orang tidur dalam ruang sempit. Tapi tidak ada pilihan. Tidur di luar, di atas ketinggian 2.500 meter, harakiri namanya. Dinginnya akan luar biasa.
Keesokan harinya, dari rombongan lain, delapan orang yang datang belakangan itu, kami tahu, gletser yang mengepung kami saat ini, adalah Bluemialps namanya. “Dulu sampai ke sini, sekarang lihat sendiri, di mana lidahnya,“ ucap salah satu anggota kelompok delapan.
Gletser itu tidak lagi putih, namun hitam, terselimuti debu, dari pasir yang berterbangan. Tidak indah, bahkan mengenaskan jika mengingat akan nasibnya, beberapa tahun kemudian.
Lidah yang yang makin menyusut, tentu saja, akibat pemanasan global. Bahkan ada satu atau dua gletser di pegunungan Alpen, yang punah. “Sampai kapan bertahan, saya kurang tahu. Tapi lambat laun akan mati juga,“ imbuhnya.
Saya lihat Patrick sudah siap dengan rangselnya. Saya pun bergegas mengerjakan yang sama. Tapi ketika langkah kami menuju jalan kembali ke puncak, saya pun mengingatkan. “Kita memang mau ke puncak lagi,“ tegasnya.
Saya ingin pingsan. Juga ingin menangis. Ke atas lagi, perlu dua jam. Jika ingin kembali ke rumah lagi hari ini, artinya harus turun selama delapan jam, hingga halte bus terdekat.
“Kan sudah kubilang kita akan kembali,” katanya. Rupanya, dia ingin melihat Brunnen, desa tempat tinggalnya dari puncak Uri Rotstock. “Kemarin kabut, tidak bisa melihatnya,“ imbuhnya.
Saya akhirya tetap mengikutinya. “Tapi kalau tidak kuat, aku menunggu disini,“ kataku.
Kami kembali terseok-seok menuju puncak, namun lewat jalur yang landai. Mirip aliran sungai, tapi isinya salju. Sering terpeleset, namun tetap melangkah. Sesekali berhenti, menarik nafas, minum sisa air lelehan salju.
Sampai pada sebuah tebing dengan jurang menganga. Dari situ, Alhamduillah, Brunnen terlihat jelas. Patrick pun memutuskan tidak lagi ke puncak untuk kedua kalinya. “Sudah terlihat dari ini,“ katanya.
Di dasar jurang itu, terlihat sekawanan Gamse, kambing gunung, mencari sisa sisa rumput di antara timbunan salju.
Uri Rotstock menjadi salah satu perjalanan yang menghabiskan tenaga. Saya tiba di kaki desa Isenthal setelah Stefan. Patrick datang paling akhir. “Berapa jam kita jalan kaki hari ini,“ desisnya. Sepuluh jam termasuk istirahat, dan hampir 2000 meter ketinggian kami jelajahi. (*)
Editor : Eko Yudiono
Harian Merah Putih