Kick Off Sensus Penduduk 2020 Dimulai Hari Ini

KENALI PETUGAS SENSUS - Dua orang petugas berpose saat pemotretan pada acara Kick Off Sensus Penduduk September 2020 di Gedung Negara Grahadi, Surabaya, Senin (31/8}. 
FOTO :  OM PRASS
KENALI PETUGAS SENSUS - Dua orang petugas berpose saat pemotretan pada acara Kick Off Sensus Penduduk September 2020 di Gedung Negara Grahadi, Surabaya, Senin (31/8}. FOTO : OM PRASS

MERAHPUTIH|SURABAYA-Tahap pendataan lapangan Sensus Penduduk 2020 (SP2020) siap dimulai pada September 2020 dan akan dilaksanakan selama sebulan dengan menerapkan protokol kesehatan. Sebelumnya, tahapan SP online sudah dilakukan sejak 15 Februari sampai 29 Mei 2020.

Kepala BPS Jatim, Dadang Herdiawan menyampaikan kegiatan kick off sensus penduduk 2020 merupakan penanda dimulainya pendataan sensus penduduk pada September 2020. Tujuannya yang pertama, menyediakan data jumlah, komposisi, distribusi, dan karakteristik penduduk Indonesia. Kedua, menyediakan parameter demografi (fertilitas, mortalitas, dan migrasi) serta karakteristik penduduk lainnya untuk keperluan proyeksi penduduk dan berbagai indikator tujuan pembangunan berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs)

“Sensus penduduk 2020 merupakan sensus penduduk ke 7, setelah kemerdekaan RI. Sensus penduduk diselenggarakan tidak hanya memenuhi amanat undang-undang nomor 16 tahun 1997 tentang statistik, namun merupakan rekomendasi dari UN atau PBB, dimana setiap negara harus melakukan sensus penduduk minimal 10 tahun sekali,” jelasnya.

Berbeda dengan sensus penduduk sebelumnya, menurutnya, sensus penduduk 2020 menggunakan metode kombinasi. Dimana dasar-dasar yang digunakan berasal dari Direktorat Jenderal Kependudukan dan Catatan Sipil Kemendagri.

“Dengan cara sensus penduduk 2020, dapat menghasilkan dasar-dasar kependudukan yang sangat strategis dan terkini dalam rangka menuju satu kependudukan Indonesia sebagai salah satu perwujudan Perpres nomor 39 tahun 2019 tentang satu data Indonesia,” katanya.

Jumlah petugas sensus penduduk yang diterjunkan sebanyak 32 ribu lebih. Terdiri dari 30 ribu petugas sensus dan 2 ribu koordinator sensus tingkat kecamatan.

Pada pelaksanaan nanti, petugas sensus dilengkapi dengan identitas diri, alat pelindung diri (APD) sesuai protokol kesehatan. Bahkan kami lakukan rapid test.

“Dalam melakukan pendataa nanti, petugas sensus penduduk akan dibantu satuan lingkungan setempat, seperti RT maupun dusun untuk melakukan pendataan dan verifikasi penduduk yang tinggal di Jatim,” ujarnya.

Proses pengumpulan Sensus Penduduk September akan dibagi ke dalam tiga zona. Di zona satu, setiap rumah tangga akan mengisi kuesioner yang dibagikan oleh petugas sensus didampingi ketua Satuan Lingkungan Setempat (SLS) atau ketua RT. Pada zona dua, petugas sensus akan berkeliling dengan ketua SLS untuk mengonfirmasi data yang sudah tercatat pada Dukcapil. Sementara di zona tiga, petugas akan mewawancarai penduduk dengan daftar pertanyaan lengkap seperti kuesioner pada SP Online.

Sementara itu Gubernur Jawa Timur dalama sambutannya menyampaikan verifikasi dan validasi jumlah penduduk yang dilakukan oleh Badan Pusat Statistik (BPS) Jatim harus cermat. Salah mencatat dalam melakukan verifikasi dan validasi bisa menghilangkan bantuan sosial (bansos) seseorang.

“Betapa verifikasi dan validasi menjadi penting, karena salah catat bisa menghilangkan bantuan sosial (bansos) seseorang. Atau mereka yang inclusion eror dan exclusion eror,” kata Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa pada acara Kick Off Sensus Penduduk September 2020 di Gedung Negara Grahadi, Surabaya, Senin (31/8/2020).

Sedangkan exclusion error, harusnya mereka menerima, tapi belum tercatat. “Selalu inclusion error dan exclusion error menjadi diskusi yang mendalam pada saat bansos turun dan beragam bantuan lainnya, seperti PKH,” ujarnya.

Secara rinci, Khofifah menyebut berdasar data BPS Jatim pada September, jumlah penduduk di Jatim pada semester 1 tahun 2020 hampir mendekati 41 juta. Tepatnya, 40,9 juta. Yang sudah melakukan sensus penduduk dan mengisi aplikasi secara online, ternyata masih relatif kecil.

“Jadi angka 40,9 juta yang sekarang ini masih tersisa untuk dilakukan sensus penduduk secara ofline masih 34,12 juta. Jadi yang kemarin itu 6 juta dari 40,9 juta,” jelasnya. (prs/red)

Editor : Eko Yudiono