Kemenlu Turki Ucapan Duka Mendalam terkait Jatuhnya Sriwijaya Air

Prajurit TNI AU melakukan pencarian korban dan puing pesawat Sriwijaya Air SJ 182 dari helikopter NAS-332 Super Puma dengan pilot Letkol Penerbang Risdiyanto dari Skadron Udara 6 Lanud Atang Sendjaja di atas perairan Kepulauan Seribu, Jakarta, Minggu (10/
Prajurit TNI AU melakukan pencarian korban dan puing pesawat Sriwijaya Air SJ 182 dari helikopter NAS-332 Super Puma dengan pilot Letkol Penerbang Risdiyanto dari Skadron Udara 6 Lanud Atang Sendjaja di atas perairan Kepulauan Seribu, Jakarta, Minggu (10/

MERAHPUTIH|JAKARTA-Jatuhnya pesawat Sriwijaya SJ-182 mendapatkan simpati dari berbagai kalangan. Termasuk Kementerian Luar Negeri Turki yang menyampaikan dukacita atas kecelakaan pesawat Sriwijaya Air di Kepulauan Seribu, Sabtu (9/1).

Dalam keterangan tertulis yang dirilis melalui akun Twitter resminya pada Sabtu(9/1) malam, Kemlu Turki menyatakan duka mendalam atas jatuhnya pesawat rute Jakarta-Pontianak, yang membawa sedikitnya 60 orang di dalamnya.

“Kami berbagi duka dengan saudara kami di Indonesia. Kami berharap rahmat Allah bagi mereka yang kehilangan nyawa dalam kecelakaan tragis itu dan menyampaikan belasungkawa yang tulus kepada orang-orang yang mereka cintai yang sedang berduka,” demikian pernyataan tersebut, demikian seperti dilansir ANTARA.

Pesawat Sriwijaya Air rute Jakarta-Pontianak dilaporkan hilang kontak pada Sabtu pukul 14.40 WIB dan jatuh di perairan Kepulauan Seribu, di antara Pulau Lancang dan Pulau Laki.

Pesawat mengalami keterlambatan keberangkatan dari jadwal semula pukul 13.35 WIB. Penundaan keberangkatan dari Bandara Soekarno-Hatta disebut karena faktor cuaca.

Berdasarkan data manifes, pesawat yang diproduksi tahun 1994 itu membawa 62 orang yang terdiri atas 50 penumpang dan 12 kru. Penumpang yang tercatat terdiri dari 40 orang dewasa, tujuh anak-anak, dan tiga bayi.

Hingga saat ini, operasi pencarian terus dilakukan untuk mencari titik jatuhnya pesawat, yang diperkirakan berada di kedalaman kurang lebih 20 meter sampai dengan 30 meter di bawah laut.(red)

Editor : Eko Yudiono