Wapres Ajak Ulama Berjuang Bersama Tangani Pandemi Covid-19


Wakil Presiden K.H. Ma’ruf Amin. dok/HMP

MERAHPUTIH|JAKARTA-Dalam sepekan terakhir jumlah kasus harian Covid-19 di Indonesia mengalami kenaikan cukup signifikan, bahkan mencapai rekor tertinggi selama pandemi berlangsung. Tidak hanya itu, dilansir dari data Worldometer, angka kematian harian akibat Covid-19 di Indonesia pada Minggu (11/07/2021) menjadi yang tertinggi di dunia dengan 1.007 jiwa. Menyikapi bahaya yang semakin mengancam ini, Wakil Presiden (Wapres) K.H. Ma’ruf Amin mengajak para ulama untuk berjuang bersama pemerintah menanggulangi pandemi Covid-19.

“Pertama atas nama pemerintah, kedua atas nama sahabat daripada para ulama, saya ingin mengajak sahabat-sahabat saya semua, untuk bersama-sama pemerintah menanggulangi bahaya Covid-19 yang demikian besar dan dahsyatnya,” ajak Wapres saat menghadiri acara Pertemuan Virtual Wakil Presiden RI dengan Para Ulama dan Tokoh Agama Islam di Istana Wapres, Jl. Medan Merdeka Selatan No. 6, Jakarta Pusat, Senin (12/07/2021).

Lebih lanjut, Wapres menegaskan bahwa bahaya Covid-19 di tanah air saat ini kian mengancam. Korban semakin banyak berjatuhan termasuk dari kalangan paramedis dan ulama.

“Tenaga kesehatan yang wafat karena Corona per 6 Juli 2021, telah mencapai 1.000 (orang) lebih, tenaga dokter sebanyak 405 orang, perawat sejumlah 399 orang, 166 bidan, 43 dokter gigi, 32 ahli tenaga laboratorium (ATLM), 9 apoteker, 6 petugas rekam radiologi,” paparnya.

“Selain itu, lebih dari 541 ulama meninggal karena Covid-19, yang terdiri dari 451 laki-laki dan 90 perempuan,” imbuhnya.

 

Hal ini, kata Wapres, merupakan kehilangan besar bagi bangsa Indonesia sebab mencetak dokter dan paramedis lainnya tidak mudah dan membutuhkan waktu yang lama.

“Untuk jadi dokter itu tidak mudah, bukan satu atau dua tahun. Tapi sekarang banyak jadi korban. Ini juga kehilangan besar. Mencetak ulama itu tidak gampang, tidak mudah juga,” ujarnya menyayangkan.

Di sisi lain, Wapres juga menyesalkan bahwa saat ini masih ada masyarakat yang abai terhadap protokol kesehatan sehingga menjadi salah satu pemicu naiknya kasus Covid-19.

“Dari laporan Satgas (Covid-19) bahwa di antara yang menyebabkan tingginya (kasus Covid-19), antara lain kurang patuhnya masyarakat melaksanakan protokol kesehatan, kurang patuhnya menggunakan masker, dan kurang patuhnya menaati jaga jarak,” paparnya.

Di samping itu, lanjut Wapres, banyak juga masyarakat yang belum mau di-testing dan divaksin, serta sudah tahu dirinya positif Covid-19 tetapi enggan melakukan isolasi mandiri.

“Pemerintah sekarang juga pontang-panting menyiapkan perawatan, sampai banyak sekarang yang pasang tenda rumah sakit, kekurangan oksigen, kekurangan tenaga kesehatan, sebenarnya ini bertumpuk-tumpuk masalah yang dihadapi,” ungkapnya.

Oleh sebab itulah, kata Wapres, tugas para ulama saat ini adalah melindungi masyarakat dengan cara mengimbau agar terus mematuhi aturan pemerintah termasuk dalam menyongsong Hari Raya Idul Adha 1442 H yang masuk dalam periode Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Darurat.

“Kita ajak masyarakat untuk mematuhi, mengikuti ajakan pemerintah, termasuk juga saya minta nanti sesuai dengan ketentuan, jangan melakukan kerumunan termasuk salah satunya yaitu melakukan shalat Idul Adha baik di masjid maupun di luar masjid, sampai keadaan nanti sudah memungkinkan lagi” ujarnya.

Terakhir, Wapres mengajak para ulama untuk menjaga umat dari berita-berita bohong (hoaks). Menurutnya, di era post truth sekarang ini banyak masyarakat yang tidak bisa membedakan antara informasi yang benar dan yang tidak benar.

“Termasuk informasi bahwasanya Covid-19 adalah konspirasi, padahal ini nyata. Oleh karena itu, saya menamakan era ini (sebagai) “istibah” yang artinya terserupakan, sehingga orang bisa keliru, bisa salah menerima kalau tidak teliti, tidak tabayyun,” paparnya.

Sebelumnya, dalam acara yang bertajuk “Peningkatan Peran Ulama dan Tokoh Agama Islam Dalam Mendukung Pelaksanaan PPKM Darurat Covid-19” ini, K.H. Miftachul Akhyar, Ketua Umum MUI yang juga Rais Am Syuriyah PBNU dalam sambutannya mengatakan bahwa tugas ulama di masa pandemi ini bukan hanya menjelaskan kepada umat bahwa virus ini adalah ujian, tetapi juga menghadapi orang-orang yang menyebarkan berita-berita bohong (hoaks) yang disebutnya sebagai virus-virus fitnah di tengah masyarakat.

“Semoga pertemuan ini betul-betul membawa pencerahan dan pada akhirnya dengan upaya yang maksimal ini, Allah segera mengangkat musibah yang berat ini, dan segera anak bangsa yang tercinta ini bisa mengalami kehidupan yang normal,” doanya.

Di akhir acara, Wapres sempat melakukan dialog dengan para ulama di antaranya Ketua MUI Pusat Abdullah Zaedi, Ketua MUI Jawa Tengah Ahmad Daroji, Sekretaris Umum MUI Jambi Supian Ramli, Sekretaris Umum MUI Kalimantan Selatan Nasrullah, serta Rektor UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten Fauzul Iman.

Tampak hadir secara virtual dalam acara ini Menteri Agama (Menag) Yaqut Cholil Qoumas, Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo, Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa, Sekretaris Jenderal (Sekjen) Kemendagri Muhammad Hudori dan sejumlah Ormas Islam diantaranya K.H. Amirsyah Tambunan Sekjen MUI yang juga Tokoh Muhammadiyah, Ketua Umum PP Rabithah Alawiyin Habib Zein bin Smith, K.H. Marsudi Syuhud, Wakil Ketua Umum MUI/Ketua PBNU dan Ketua Dewan Syura PP Al Irsyad Al-Islamiyah K.H. Abdullah Jaidi, Wakil Ketua Umum PP PERSIS (Persatuan Islam) K.H. Jeje Zainudin, Pengasuh Pesantren Cendekia Amanah Depok K.H. Cholil Nafis, serta Dosen UIN Jakarta K.H. Asrorun Niam dan Pimpin Majelis Rasulullah Habib Nabiel Al Musawa dan Ketua Dewan Pertimbangan PP Al Washliyah K.H. Yusnar.

Sementara, Wapres didampingi oleh Kepala Sekretariat Wapres Mohamad Oemar, Staf Khusus Wapres Masduki Baidlowi, Masykuri Abdillah, Lukmanul Hakim, dan Bambang Widianto, serta Asisten Staf Khusus Sholahudin Al Aiyub dan Saiful Huda. (red)