Sendoko Tour, Upaya Lestarikan Kesenian Tradisional Borobudur


Kesenian tradisional Jathilan Kudo Sendoko, merupakan seni yang sudah berpuluh tahun dimiliki masyarakat Dusun Sendaren 2 Desa Karangrejo, Kecamatan Borobudur, Kabupaten Magelang.

MERAHPUTIH I MAGELANG - Kesenian tradisional Jathilan Kudo Sendoko, merupakan seni yang sudah berpuluh tahun dimiliki masyarakat Dusun Sendaren 2 Desa Karangrejo, Kecamatan Borobudur, Kabupaten Magelang. Berbagai upaya terus dilakukan agar seni ini tidak punah ditelan zaman yang serba modern.

Salah satu hal yang dilakukan, yakni dengan menggelar Sendoko Tour. Pagelaran ini merupakan perpaduan antara wisata walking tour, dengan edukasi kesenian Jathilan.

“Pagelaran Sendoko Tour atau walking tour ini, sebagai upaya untuk nguri-uri kesenian Jathilan Kudo Sendoko,” ujar Khoirul Anam, Ketua Panitia Pagelaran Sendoko Tour, Senin, (20/6/2022).

Khoirul menjelaskan, Jathilan Kudo Sendoko merupakan kesenian Jathilan tertua di Magelang, bahkan Jawa Tengah, sebab sudah ada sejak 1930.

“Maka menjadi penting bagi kami, untuk mengenalkan warisan budaya ini ke masyarakat banyak,” ujar Khoirul.

Sendoko Tour dilaksanakan selama dua hari mulai Sabtu (18/6/2022) hingga Minggu (19/6/2022), di Dusun Sendaren 2.

Sendoko Tour mendapat perhatian penuh dari mahasiswa Untidar, Nur Ahmad. Ia ditunjuk dari Kemenristekdikti untuk menjadi pendamping Kebudayaan di Dusun Sendaren Karangrejo.

Nur Ahmad mengatakan, aktivitas ini merupakan upaya masyarakat untuk menggaet wisatawan, yang berkunjung ke Borobudur, untuk turun ke desa.

“Jadi kita berusaha membidik wisatawan yang berkunjung ke Candi Borobudur, untuk selanjutnya berkunjung ke desa-desa sekitar, yang memiliki aneka macam kebudayaan,” ujarnya.

Bersama Andi Ansha, pemandu lokal dalam kegiatan ini, ia menjelaskan konsep acara ini adalah “ngangsu kaweruh”, dengan berjalan kaki menuju pos-pos Edukasi Jathilan yang telah disiapkan.

Ada lima pos yang disiapkan oleh panitia, yang pertama merupakan pos sejarah kesenian Jathilan Kudo Sendoko, Pos Gerak, Pos Bedah Filosofi Jathilan, Pos Tembang: Nandur Gadung dan pos terakhir merupakan Pos Gendurenan, di mana masyarakat, panitia dan pengunjung berbaur menjadi satu menikmati hidangan masakan ingkung ayam, yang biasa ada dalam ritual kesenian Jathilan Kudo Sendoko.

Andi Menambahkan, acara ini merupakan uji coba pertama travel pattern yang difasilitasi oleh Eksotika Desa dan Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Kemenristekdikti), dan rencananya akan terus dilakukan uji coba demikian setiap bulan secara bertahap.

“Sampai September insyaallah uji coba travel pattern ini akan ada terus, karena kami memang basisnya adalah penguatan di masyarakat. Jadi perlu banyak uji coba seperti ini. Bulan-bulan ke depan akan ada lagi, bisa dengan tema yang sama, atau mengangkat kesenian yang lainnya,” imbuh Andi Ansha.

Acara berjalan dengan lancar dan berhasil memikat antusiasme masyarakat lokal bahkan pengunjung. Selama 2,5 jam mengikuti tour, pengunjung merasa terhibur karena mendapatkan experience baru.

Dinin Rahayu, salah satu pengunjung dari Jawa Timur mengatakan ia mendapatkan pengalaman baru mengetahui Jathilan.

“Kalau biasanya kan nonton Jathilan itu ya nonton aja, tapi setelah dari sini jadi tahu kalau ternyata Jathilan sendiri itu ada maknanya, Jaranan ada maknanya dan suasananya asik sekali, alamnya masih natural juga,” ujar Dinin.

Dinin berjanji akan mengabarkan kegiatan semacam ini ke teman-temannya, supaya mereka yang berwisata tidak mendapat senang saja, namun juga pemahaman tentang seni tradisional khususnya Jathilan. (red)