MERAHPUTIH| JAKARTA-Total anggaran Kartu Prakerja senilai Rp 20 Triliun dengan mekanisme pelatihan digital dari BLK atau LPK yang diharuskan bekerjasama melalui 7 platform online Bukalapak, Tokopedia Pintaria, Sekolahmu, MauBelajarApa, Pijar, Skill academy : Ruangguru seolah menjadi “bancakan”.
Dari anggaran Rp 20 triliun tersebut, sebesar Rp. 5,6 triliun tender pemenang proyek adalah Skill Akademy Ruangguru sebagaimana diketahui CEO merupakan staffsus millenial Adamas Belva Syah Devara yang akhirnya mundur.
Baca juga: Kartu Prakerja Harus Mendorong Kreatifitas TKI yang Pulang ke Desa
Meski mundur, banyak gunjingan yang dialamatkan kepada Belva. Karena meski mundur, dia sudah mendapatkan proyek triliunan. Gajinya yang “hanya” Rp 51 juta per bulan sebagai staf khusus tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan proyek yang sudah didapatkan.
Baca juga: Kalahkan Jokowi, Harta Kekayaan CEO Ruangguru Rp 1,3 T
Ironisnya, saham Ruangguru ternyata banyak dimiliki oleh pengusaha Singapura. Dinukil dari tempo.co, ada tujuh entitas asal Singapura yang tercatat sebagai pemilik Ruangguru. Entitas yang beralamat di Singapura ini merupakan venture capital atau perusahaan penyertaan penanaman modal. Lalu ada juga satu perusahaan penanaman modal asal Malaysia dan satu perusahaan sejenis beralamat di Amerika.
Dari dokumen yang dikeluarkan pada Kamis, 23 April 2020 ini, ada juga dua pemegang saham yang menggunakan alamat di Cayman Islands dan tiga entitas di British Virgin Islands. Kedua kepulauan di Karibia yang termasuk Persemakmuran Inggris ini dikenal sebagai ‘surga pajak’ bagi para pengusaha. (*)
Baca juga: Polemik Kartu Prakerja, Sudahkah Tepat Sasaran?
Editor : Eko Yudiono