MERAHPUTIH I SURABAYA - Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya kembali menunjukkan komitmennya dalam menekan angka stunting melalui rapat evaluasi Tim Percepatan Penurunan Stunting (TPPS) yang berlangsung di Graha Sawunggaling, Kamis (14/11/2024). Dalam pertemuan ini, Penjabat Sementara (PJs) Wali Kota Surabaya, Restu Novi Widiani, mengapresiasi hasil signifikan yang dicapai Kota Surabaya selama empat tahun terakhir, yang mana prevalensi stunting berhasil ditekan dari 28,9 persen pada 2021 menjadi 1,6 persen pada 2024.
"Kota Surabaya berhasil menurunkan angka stunting hingga 1,6 persen, sebuah capaian luar biasa yang turut berkontribusi pada penurunan angka stunting di Jawa Timur secara keseluruhan. Terima kasih atas dedikasi semua pihak yang terlibat," ujar Restu Novi dalam sambutannya.
Baca juga: Satpol PP Sisir Jalan Johar–Sulung, Pemkot Surabaya Tertibkan PKL dan Parkir Liar
Namun, Restu Novi mengingatkan bahwa perjuangan belum usai. Ia menekankan pentingnya pemantauan intensif bagi anak-anak pra stunting agar mereka tidak jatuh ke dalam kategori stunting. Selain itu, ia juga menegaskan pentingnya perhatian bagi anak-anak yang berada di lembaga kesejahteraan sosial, baik milik pemerintah maupun swasta, untuk memastikan kebutuhan gizi mereka tercukupi.
"Surabaya tidak boleh lengah meskipun prevalensinya rendah. Kita masih memiliki anak-anak pra stunting yang memerlukan pendampingan. Begitu juga dengan anak-anak di lembaga kesejahteraan sosial yang mungkin rentan terhadap stunting," jelasnya.
Menurut Restu Novi, keberhasilan mencapai target zero stunting juga perlu didukung oleh kesiapan ketahanan pangan. Ia menilai, pemanfaatan lahan kosong untuk pertanian perkotaan (urban farming) di Surabaya merupakan langkah positif dalam memastikan asupan gizi bagi masyarakat.
Baca juga: Surabaya Kokohkan Komitmen Jaga Anak dari Ancaman Digital
“Saya optimis, dengan urban farming, Surabaya mampu menyokong kebutuhan pangan masyarakat untuk menuju Indonesia emas tahun 2045,” tambah Restu Novi.
Pada kesempatan yang sama, Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk, dan Keluarga Berencana (DP3APPKB) Surabaya, Ida Widayati, menjelaskan pendekatan pentahelix yang diterapkan Pemkot Surabaya dalam menurunkan stunting, termasuk melalui program bapak asuh, orang tua asuh, dan Corporate Social Responsibility (CSR).
"Saat ini, tersisa 205 anak stunting di Surabaya, dengan 188 di antaranya warga Surabaya dan 17 lainnya warga luar kota yang berdomisili di sini. Semua anak tersebut telah mendapat intervensi dan pendampingan," kata Ida.
Baca juga: Wisuda SOTH 2025 Surabaya: Eri Cahyadi Tekankan Peran Orang Tua sebagai Fondasi Kemajuan Kota
Melalui aplikasi Sayang Warga (ASW), semua data terkait intervensi terhadap stunting terekam secara detail. Ida menambahkan bahwa hasil pendampingan tercatat secara khusus oleh Tim Pendampingan Keluarga (TPK), dan seluruh proses dilakukan secara terintegrasi serta didukung oleh berbagai pihak.
Pemkot Surabaya berharap dengan pendekatan terintegrasi dan sinergi yang kuat, angka stunting di Kota Pahlawan dapat mencapai titik nol, menjadikan Surabaya sebagai model penurunan stunting di tingkat nasional. (red)
Editor : prass prasetyo