Lebaran 2025: Kereta Api Bukan Sekadar Transportasi, Tapi Gaya Hidup Mobilitas Baru

harianmerahputih.id
KAI Group kembali menunjukkan perannya sebagai tulang punggung transportasi publik nasional

MERAHPUTIH I JAKARTA  - Lebaran bukan cuma soal pulang kampung, salam tempel, atau ketupat opor. Di balik hiruk-pikuk tradisi tahunan itu, ada satu moda transportasi yang makin bersinar terang: kereta api. Ya, di tengah padatnya lalu lintas jalan raya dan penuhnya jadwal penerbangan, KAI Group tampil sebagai "jalan ninja" jutaan masyarakat Indonesia.

Selama masa Angkutan Lebaran 2025 yang berlangsung dari 21 Maret hingga 7 April 2025, sebanyak 23 juta lebih pelanggan dilayani oleh KAI Group. Bukan angka sembarangan. Ini adalah bukti bahwa kereta api dan seluruh jaringannya kini bukan cuma alternatif—melainkan pilihan utama dalam mobilitas nasional.“Tingginya jumlah pelanggan ini menunjukkan kepercayaan yang luar biasa dari masyarakat terhadap moda berbasis rel,” ujar Anne Purba, Vice President Public Relations KAI.

Baca juga: Pemprov Jatim Kebut Pemasangan Palang Pintu, Upaya Redam Fatalitas di Perlintasan Kereta

Mari kita kupas datanya. Sebanyak 3,8 juta lebih pelanggan menggunakan Kereta Api Jarak Jauh dan Lokal. Tapi yang mencuri perhatian adalah KAI Commuter—dengan angka fantastis 17,3 juta pelanggan. Wilayah aglomerasi seperti Jabodetabek, Bandung Raya, dan Joglosemar seolah tak pernah tidur selama musim mudik.

Puncak-puncaknya? Tercatat pada 24 Maret dan 7 April, dengan masing-masing lebih dari 1 juta penumpang per hari. Bisa dibayangkan betapa padat dan sibuknya stasiun-stasiun saat itu.

Dari selatan Pulau Sumatera hingga timur Sulawesi, geliat rel makin terasa. LRT Palembang mencatat 31.579 pelanggan pada 3 April, menjadi bukti bahwa rel bukan lagi hak istimewa Pulau Jawa.

Sementara itu, KA Makassar–Parepare yang relatif baru pun tak kalah garang. Tanggal 5 April mencatatkan rekor 1.567 pelanggan, angka yang makin menegaskan bahwa Sulawesi kini juga punya akses rel yang menjanjikan.

Baca juga: KA Batara Kresna Catat Lonjakan Penumpang, Makin Kokoh sebagai Ikon Wisata Solo Raya

Tak ketinggalan, si pendatang baru nan modern: Whoosh Jakarta–Bandung. Pada 6 April, kereta cepat ini mencetak rekor 23.462 penumpang. Cepat, nyaman, dan tentu saja—instagramable.

“Whoosh bukan cuma soal kecepatan, tapi pengalaman. Masyarakat kita sudah siap bertransformasi ke transportasi masa depan,” kata Anne.

Kereta wisata, kereta bandara, bahkan KRL Prameks Yogyakarta-Solo pun ikut mencicipi euforia. Ini bukan hanya tentang pergi dari titik A ke titik B. Ini soal bagaimana transportasi menjadi bagian dari gaya hidup—cepat, terjadwal, ramah lingkungan, dan terjangkau.

Baca juga: Tiket Kereta Api Libur Nataru Mulai Diserbu, KAI Siapkan Operasi Khusus Jelang

KAI bahkan menyediakan lebih dari 59 juta kursi, dengan 98 persen di antaranya adalah kelas ekonomi. Ini bukan hanya strategi, tapi wujud nyata dari komitmen untuk menyediakan layanan yang inklusif.

Lebaran 2025 mencatatkan sejarah baru. Rel bukan lagi sekadar rel. Ia menjelma jadi nadi mobilitas nasional. Di tengah tantangan urbanisasi, lonjakan populasi, dan tekanan iklim, moda berbasis rel terbukti paling efisien dan berkelanjutan.“Ke depan, kami akan terus berinovasi dan meningkatkan layanan. Kereta bukan hanya solusi hari ini, tapi juga harapan masa depan,” pungkas Anne. (red)

Editor : prass prasetyo

Politik
Berita Populer
Berita Terbaru