MERAHPUTIH SURABAYA - Hari itu, saya berangkat dari shelter Gunung Anyar dengan niat sederhana: menjajal sendiri bagaimana rasanya menggunakan Wira Wiri Suroboyo, layanan angkutan feeder terbaru yang diperkenalkan Pemerintah Kota Surabaya sejak Maret 2023 lalu. Tujuan saya adalah Terminal Bus Joyoboyo, simpul penting transportasi kota yang terhubung dengan berbagai moda angkutan lain.
Perjalanan memakan waktu sekitar 60 menit. Tidak tergesa-gesa, tidak juga lamban. Dalam tempo itu, saya sempat merekam lebih dari sekadar pemandangan jalan dan arus lalu lintas; saya mencicipi pengalaman transportasi publik yang mungkin menjadi cermin masa depan kota ini.
Baca juga: Satpol PP Sisir Jalan Johar–Sulung, Pemkot Surabaya Tertibkan PKL dan Parkir Liar
Wira Wiri Suroboyo memang tidak sekadar angkutan umum biasa. Armada ini dilengkapi dengan AC dan tempat duduk ergonomis yang terasa nyaman, bahkan saat perjalanan cukup panjang. Tak ada suara bising knalpot yang menusuk telinga, tak ada debu masuk dari jendela terbuka. Semuanya tertata, terawat, dan tertib.
Lebih dari itu, sistem pembayaran cashless—baik lewat QRIS maupun kartu uang elektronik seperti Flazz, e-money, BRIZZI, dan TapCash—memberi kesan modern sekaligus efisien. Saya cukup menyerahkan kartu e-money kepada petugas untuk dibantu tap dan duduk tenang menikmati perjalanan. Tidak ada drama kembalian receh, tidak ada percakapan soal tarif yang biasa kita temui di angkot konvensional.
Namun yang paling mengesankan bagi saya adalah perhatian terhadap kelompok rentan. Lantai rendah pada kendaraan membuat aksesibilitas jauh lebih mudah bagi lansia dan penyandang disabilitas. Hal ini bukan hanya soal teknis, tapi juga tentang komitmen inklusivitas dalam layanan publik. Di dalam kendaraan, terpasang pula CCTV yang memastikan keamanan setiap penumpang.
Baca juga: Surabaya Kokohkan Komitmen Jaga Anak dari Ancaman Digital
Saya sempat berbincang dengan Ari Astuti (47), seorang ibu rumah tangga yang duduk di dekat saya. “Tarifnya murah, kendaraannya bersih, dan pelayanannya nyaman,” ujarnya. Ia mengaku hampir tiap pekan memanfaatkan Wira Wiri untuk belanja atau sekadar berkunjung ke rumah kerabat.
“Bisa dibilang saya pelanggan tetap,” tambahnya sembari tersenyum.
Memang, tarifnya ramah di kantong: Rp 5.000 untuk umum, Rp 2.500 bagi pelajar dan mahasiswa. Bahkan, layanan ini digratiskan untuk veteran, lansia, anak di bawah 5 tahun, dan penyandang disabilitas. Sebuah kebijakan yang patut diapresiasi dan dijadikan standar layanan publik lainnya.
Baca juga: Wisuda SOTH 2025 Surabaya: Eri Cahyadi Tekankan Peran Orang Tua sebagai Fondasi Kemajuan Kota
Sejak mulai beroperasi pada awal Maret 2023, Wira Wiri telah menjadi pelengkap bagi layanan Suroboyo Bus dan Trans Semanggi Suroboyo. Kehadirannya mempertegas arah baru transportasi kota: aman, nyaman, modern, dan manusiawi.
Ketika saya turun di Terminal Joyoboyo, matahari mulai condong ke barat. Saya menoleh sejenak ke arah kendaraan yang mengantar saya. Wira Wiri tidak hanya mengantarkan penumpang dari satu titik ke titik lain, tapi juga membawa harapan akan wajah transportasi umum yang lebih layak dan bermartabat di Surabaya. Dan mungkin, di kota-kota lain suatu saat nanti.(DPR)
Editor : Redaksi