MERAHPUTIH|MALUKU- Disaat para “Operator" dunia pendidikan di Maluku sedang disibukan dengan bagaimana cara menyelesaikan hak dan kewajiban para guru di Maluku dengan berbagai tunjangan kesejahteraan yang belum didapat, dan diselesaikan, dunia pendidikan di Maluku dihebohkan dengan terpergoknya salah satu siswa di SMU ternama dan terlaris di kota Ambon yang diduga mengonsumsi Narkotika.
Menurut sumber yang tidak ingin namanya ditulis mengatakan, kejadian itu terjadi pada 2 Mei 2025 saat para guru dan siswa sedang merayakan hari pendidikan nasional.
Baca juga: Prabowo Minta Pendidikan Lingkungan Masuk Silabus, Pemerintah Gerak Cepat Tangani Bencana
"Siswa yang kini duduk di kelas 11 itu berinisial FSL. Dia dipergoki oleh dua orang guru di toilet sekolah tersebut sedang mengonsumsi dan menikmati narkotika yang diduga masuk kategori golongan 1,” ungkapnya.
"Saat digeledah pada pada saku celana juga ditemukan nota pembelian,” ungkap sumber tersebut.
Sementara itu, kepala sekolah SMU Negeri 1 Ambon Leonora Wemay yang dihubungi oleh media lewat pesan singkat WhatsApp terkait masalah ini mengatakan, pihaknya masih menunggu konfirmasi dari petugas.
"Beta belum mendapatkan info yang jelas , Beta jua seng tahu sapa yang tangkap basa. Sampai sekarang guru yang tangkap jua, seng pernah lapor apa-apa ke beta,” ujarnya.
"Mungkin gurunya mau urus sendiri, maksudnya kalau ada masalah lapor, supaya beta sebagai pimpinan beta tahu , dia juga akan mengurus masalah ini dengan segera,” pungkas Leonora.
Di tempat terpisah, salah satu pemerhati perempuan dan anak di Maluku yang ditemui media ini mengatakan, sangat prihatin dengan kejadian tersebut. Mengapa? “Karena anak itu termasuk anak kita semua. Anak tersebut tentunya akan menjadi sumber daya Maluku ke depan. Tetapi sayangnya dia memakai narkotik, oleh karena itu harus dicari akar permasalahannya,” tutur narasumber yang akrab di sapa ibu Non Sahusilawane ini.
"Anak dalam usia-usia demikian sudah memakai narkotik, tentunya harus berangkat dari keluarga. Sebagai pemerhati perempuan dan anak, sering menghadapi kasus-kasus seperti ini, sebab dari hasil penelitian yang memakai narkotik atau narkoba terbanyak adalah anak-anak yang memilik orang tua lengkap, dan oleh karena kesibukan dari orang-orang tua itulah sehingga perhatian kepada anak itu tidak menjadi prioritas alias full seluruhnya,” beber ibu Non.
"Semua itu sering ditumpahkan ke guru disekolah atau contohnya kalau di agama Kristen ada guru sekolah Minggu mungkin saja pada agama Islam ada remaja masjid begitupun dengan agama lainnya pada umumnya,” jelasnya.
"seyogyanya waktu terbanyak itu ada pada orang tua, memang dalam kondisi ekonomi saat ini semua orang tua sibuk dengan pekerjaannya untuk kebutuhan masa depan anak. Tetapi kita jangan lupa, edukasi serta literasi kepada anak-anak itu harus diutamakan sebagai orang tua supaya anak jangan salah "melangkah".
Menurutnya, kemungkinan anak tersebut mendapatkan barang "haram" tersebut dari dari teman atau penjualan lewat sosmed.
"Terkait dengan peristiwa ini guru harus memegang peranan penting melakukan Razia di sekolah. Karena dengan melakukan razia ini, para guru dapat memberikan edukasi sekaligus literasi kepada anak didik,” paparnya.
Baca juga: Prabowo Tegaskan Distribusi IFP Prioritas untuk Sekolah 3T
Lebih labjut dia menambahkan, walaupun anak-anak ksudah dibina lewat pembagunan kerohanian, tapi perlu juga diwaspadai terhadap pergaulan. Baik di lingkungan sendiri atau lingkungan luar dimana mereka berada.
"Harus bekerjasama dengan pihak kepolisian dalam hal ini polres atau Polsek untuk menyosialisasikan, dan mengedukasi anak-anak ini tentang bahaya narkoba,” imbuhnya.
"Dalam undang-undang perlindungan anak, anak ini tidak bisa ditahan sebab masih dibawah umur, jadi tidak serta-merta ditangkap untuk dipenjarakan, tetapi dia harus dibina diedukasi oleh mereka-mereka yang berkompeten misal psikolog, guru BK dan orangtuanya harus dipanggil untuk memberikan perhatian yang lebih,” harapnya.
"SMU ini kan SMU bergengsi dan alumni dari SMU ini banyak menduduki posisi jabatan penting dan strategis di Maluku. Jangan sampai kata pepatah "nila setitik merusak susu sebelanga," tutup salah satu Guru besar pada Universitas Pattimura Ambon ini. (boy)
Editor : prass prasetyo