Tragedi di Selat Bali: Lima Nyawa Melayang, Puluhan Masih Hilang

harianmerahputih.id
Kepala Pelaksana BPBD Jatim, Gatot Soebroto

MERAHPUTIH I BANYUWANGI — Duka menyelimuti perairan Selat Bali. Kapal Motor Penumpang (KMP) yang belum disebutkan identitas resminya, tenggelam dalam perjalanan antara Pelabuhan Ketapang, Banyuwangi, dan Gilimanuk, Bali, pada Kamis (3/7/2025) malam. Hingga Kamis sore pukul 15.23 WIB, sebanyak lima orang dipastikan meninggal dunia, 29 orang selamat, dan 31 lainnya masih dalam pencarian.

Laporan resmi terbaru dari Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jawa Timur, Gatot Soebroto, menyebutkan total korban sebanyak 65 jiwa. Tim pencarian dan pertolongan gabungan masih menyisir perairan dengan harapan menemukan korban yang hilang.

Baca juga: Tarif Murah, Fasilitas Nyaman: Trans Jatim Gajayana Jadi Idola Baru Malang Raya

“Adanya perubahan data karena pembaruan pencatatan dari operator layanan posko ASDP Ketapang. Data terakhir yang kami terima pada pukul 14.45 WIB, korban selamat berjumlah 29 orang, korban meninggal lima orang, dan 31 lainnya dalam pencarian,” ujar Gatot saat dikonfirmasi di Surabaya, Kamis sore.

Salah satu korban terbaru yang ditemukan dalam keadaan tidak bernyawa adalah Fitri April Lestari (33), warga Dusun Sumbar 1, Desa Tampo, Kecamatan Cluring, Kabupaten Banyuwangi. Jenazahnya ditemukan pada pukul 13.54 WITA dan langsung dibawa ke RSU Negara, Kabupaten Jembrana, Bali, untuk proses identifikasi lebih lanjut.

Hingga Kamis sore, lima korban meninggal dunia telah berhasil diidentifikasi. Mereka adalah:

Anang Suryono (59) – warga Jl. Serma ABD. Rahman 35, Kabupaten Probolinggo
Eko Satriyo (51) – warga Lingkungan Sukowidi, Kabupaten Banyuwangi
Elok Rumantini (34) – warga Lingkungan Sritanjung, Kabupaten Banyuwangi
Cahyani (45) – warga Dusun Krajan Kulon, Kabupaten Banyuwangi
Fitri April Lestari (33) – warga Dusun Sumbar 1, Desa Tampo, Kecamatan Cluring, Banyuwangi
Jenazah para korban tersebar di sejumlah titik, mulai dari Polsek Gilimanuk, Pos ASDP Gilimanuk, hingga RSU Negara. Tim DVI dari kepolisian juga dikerahkan untuk mempercepat proses identifikasi dan pengembalian jenazah ke keluarga.

Selain korban jiwa, sebanyak 22 unit kendaraan dilaporkan turut tenggelam bersama kapal. Belum diketahui pasti jumlah kendaraan berat dan ringan dalam insiden tersebut.

Tim SAR gabungan yang terdiri dari berbagai unsur kini bekerja tak kenal waktu. Kantor SAR Surabaya, Pos SAR Banyuwangi, BPBD Provinsi Jawa Timur dan Bali, BPBD Kabupaten Jembrana dan Banyuwangi, hingga unsur TNI-Polri dan relawan turut ambil bagian dalam operasi pencarian dan penyelamatan.

Baca juga: Jatim Kirim Bantuan Rp5 Miliar untuk Sumatera, Khofifah: Ini Amanah dari Warga Kami

“Personel kami di lapangan mendukung penuh upaya pencarian dan pertolongan. Ambulans relawan siaga di Pelabuhan Ketapang untuk membantu proses evakuasi korban yang selamat maupun yang meninggal dunia,” ujar Gatot menambahkan.

BMKG Banyuwangi juga turut mendukung upaya pencarian dengan menyediakan data cuaca dan gelombang laut di Selat Bali yang menjadi perhatian utama selama proses penyisiran dilakukan. Cuaca perairan yang fluktuatif dan arus laut yang kuat menjadi tantangan tersendiri dalam proses pencarian.

Di sekitar Pelabuhan Ketapang dan Gilimanuk, suasana duka menyelimuti para keluarga korban. Tangis dan harapan menyatu dalam ketidakpastian, menunggu kabar dari para anggota keluarga yang hingga kini belum ditemukan.

Sejumlah keluarga tampak terus berjaga di area posko informasi, berharap ada kabar baik dari laut. Petugas BPBD dan relawan menyediakan layanan pendampingan psikologis bagi keluarga korban, terutama mereka yang kehilangan lebih dari satu anggota keluarga.

Baca juga: Kendal Kian Berlari: Gelaran Fun Run Picu Ekonomi, Gairahkan Wisata, dan Tanamkan Budaya Sehat

Hingga kini, pihak berwenang masih melakukan penyelidikan terhadap penyebab tenggelamnya kapal. ASDP, yang mengelola layanan penyeberangan Ketapang-Gilimanuk, belum memberikan keterangan resmi terkait kronologi kejadian. Investigasi lebih lanjut juga akan melibatkan Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT).

Di tengah kesibukan pencarian, evaluasi menyeluruh terhadap prosedur keselamatan pelayaran di lintasan padat ini menjadi sorotan publik. Selat Bali yang menjadi jalur utama penghubung Pulau Jawa dan Bali menyimpan potensi bahaya yang membutuhkan mitigasi ekstra ketat.

Tragedi ini menjadi peringatan keras akan pentingnya penerapan standar keselamatan pelayaran secara konsisten. Terlebih, rute penyeberangan ini dilalui ribuan penumpang setiap harinya. (red)

Editor : Redaksi

Politik
Berita Populer
Berita Terbaru