PKKMB Untag Surabaya 2025: Menyemai Patriotisme dalam Balutan Teknologi

harianmerahputih.id

MERAHPUTIH I SURABAYA — Semangat nasionalisme kembali dikobarkan di lingkungan Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Surabaya. Melalui Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru (PKKMB) 2025, perguruan tinggi ini menegaskan komitmennya membentuk generasi muda yang cinta Tanah Air dan siap menjawab tantangan zaman.

PKKMB Untag Surabaya akan berlangsung selama empat hari, yakni pada 2, 3, 4, dan 6 September 2025. Sementara itu, Expo Campus sebagai acara puncak akan digelar sebulan kemudian, pada 4 Oktober. Tahun ini, tema "Merah Putih Mengakar, Patriotisme Berkobar" dipilih sebagai benang merah kegiatan, menggambarkan semangat kebangsaan yang tak lekang oleh waktu.

Baca juga: Satpol PP Sisir Jalan Johar–Sulung, Pemkot Surabaya Tertibkan PKL dan Parkir Liar

Tema tersebut, menurut Koordinator Seksi Acara PKKMB 2025, Dinda Lisna Amilia, S.Sos., M.A., bukan sekadar slogan. Ia merupakan cerminan tekad Untag untuk menanamkan nilai patriotisme sebagai pondasi karakter mahasiswa sejak hari pertama mereka menginjakkan kaki di kampus merah putih itu.

“Untag ingin mahasiswa baru tidak hanya menjadi pembelajar yang cerdas, tapi juga manusia Indonesia yang utuh yang mencintai bangsanya, baik dalam kondisi jaya maupun ketika sedang terpuruk. Nasionalisme bukan sekadar atribut simbolik, tapi menjadi cara pandang dan sikap hidup,” ujar Dinda ketika ditemui di sela-sela persiapan kegiatan, Jumat (12/7/2025).

PKKMB 2025 tidak hanya mengedepankan nilai-nilai kebangsaan. Di tengah kemajuan teknologi yang melesat cepat, kampus ini juga memberi ruang penting untuk pembekalan keterampilan abad ke-21. Salah satunya melalui materi tentang penggunaan kecerdasan buatan (AI) secara etis.

Untag menjadi salah satu perguruan tinggi yang merespons cepat terbitnya Panduan Penggunaan Generative Artificial Intelligence pada Pembelajaran di Perguruan Tinggi yang dirilis oleh Kemendikti Saintek pada Juni lalu.

“Kami ingin mahasiswa baru memiliki pemahaman yang bijak dalam menggunakan AI. Mereka tidak hanya jadi konsumen teknologi, tapi juga menjadi pengguna yang etis dan kritis,” tutur Dinda. Materi AI akan disampaikan secara teoritis dan praktis, dengan harapan membangun kesadaran bahwa kecanggihan teknologi harus selalu dibarengi dengan tanggung jawab moral.

Dalam gelaran PKKMB tahun ini, Untag Surabaya juga membidik capaian monumental: pencatatan rekor Museum Rekor Indonesia (MURI) untuk pembuatan komik berbasis AI bertema patriotisme yang dikerjakan serentak oleh ribuan mahasiswa baru.

Dinda menyebut langkah ini sebagai simbol konkret dari semangat kolaborasi antara nasionalisme dan kemajuan teknologi.

Baca juga: Surabaya Kokohkan Komitmen Jaga Anak dari Ancaman Digital

“Kami ingin menunjukkan bahwa nasionalisme tidak berarti menolak modernitas. Justru, teknologi harus menjadi sarana untuk memperkuat identitas kebangsaan,” ujarnya.

Mewujudkan PKKMB yang membumi sekaligus membangkitkan semangat mahasiswa baru, panitia menghadirkan kembali permainan treasure hunt kini dengan aplikasi digital hasil pengembangan tim internal kampus.

Tak hanya berorientasi pada keseruan, permainan ini dirancang untuk mengasah kerja sama, kecermatan, serta kreativitas peserta. “Dengan teknologi buatan sendiri, kami ingin menunjukkan bahwa inovasi bisa dimulai dari kampus. Harapannya, ini jadi pengalaman awal mahasiswa untuk terus berpikir solutif dan kolaboratif,” kata Dinda.

Sebagai penutup, PKKMB 2025 akan dimeriahkan oleh penampilan grup musik Juicy Luicy. 

“Pemilihan bintang tamu bukan hanya tentang hiburan. Ini menjadi cara kami membangun keterlibatan emosional dan menumbuhkan rasa memiliki di antara mahasiswa baru terhadap kampus,” jelasnya.

Baca juga: Wisuda SOTH 2025 Surabaya: Eri Cahyadi Tekankan Peran Orang Tua sebagai Fondasi Kemajuan Kota

Lebih dari sekadar orientasi kampus, PKKMB Untag Surabaya ingin menjadi pijakan awal dalam pembentukan karakter generasi penerus. Dinda menekankan bahwa mahasiswa baru diharapkan keluar dari kegiatan ini bukan hanya dengan kenangan, tetapi juga dengan kesadaran akan peran mereka sebagai bagian dari masa depan Indonesia.

“Mahasiswa Untag adalah akar perubahan. Kami ingin mereka memiliki karakter yang kuat, berpikir adaptif, dan terbuka terhadap dunia global tanpa kehilangan jati diri keindonesiaan,” pungkasnya. (dpr) 

 

 

Editor : Redaksi

Politik
Berita Populer
Berita Terbaru