MERAHPUTIH I JAKARTA - Tiga puluh tahun lebih Indonesia berjalan dalam sistem politik yang terkekang. Namun di tengah malam yang panas pada 27 Juli 1996, sejarah mencatat dentuman besar yang mengguncang Jakarta dan kemudian membelah jalan menuju reformasi. Kini, 29 tahun setelah peristiwa kelam itu, para kader PDI Perjuangan kembali berkumpul di Jalan Diponegoro No. 58, Menteng, Jakarta Pusat. Mereka menabur bunga dan mengirim doa untuk para korban yang gugur dalam peristiwa yang kini dikenal sebagai Kudatuli, Kerusuhan Dua Puluh Tujuh Juli.
Ketua DPP PDI Perjuangan, Ribka Tjiptaning, tak mampu menyembunyikan getar suaranya saat berbicara di depan barisan kader dan simpatisan partai. Ia menyebut Kudatuli bukan sekadar insiden politik, melainkan titik tolak sejarah, poros yang memutar arah bangsa menuju reformasi.
Baca juga: Dua Legislator PDIP Jatim Mundur, Satu Terseret Kasus Korupsi, Satu Terpeleset Isu Narkoba
“Tanpa 27 Juli, tidak ada reformasi,” ujar Ribka penuh penekanan, Minggu (27/7), dalam peringatan yang digelar tepat di halaman kantor DPP PDIP, lokasi yang juga menjadi saksi bisu kekerasan hampir tiga dekade silam.
Kudatuli pecah ketika massa bersenjata menyerang kantor PDI yang kala itu dikuasai oleh kubu pendukung Megawati Soekarnoputri. Kerusuhan menjalar, api melahap bangunan, dan darah mengalir. Sejumlah aktivis hilang, tak sedikit yang ditangkap dan disiksa, bahkan dilaporkan meninggal. Namun, bagi Ribka, luka itu bukan alasan untuk menyerah. Justru menjadi api penyulut perjuangan.
“Reformasi ini masih sekadar angan-angan. Tetapi, Banteng PDIP tidak boleh ngambek, tidak boleh cengeng! Kita harus bangun kekuatan basis rakyat, seperti dulu. Mega menang bukan karena partai besar, tapi karena rakyat!” tegasnya.
Ribka juga mengingatkan bahwa perjuangan tak berhenti hanya karena partai memenangkan pemilu atau memiliki kursi di parlemen. Ia mengkritik sikap kader yang dinilainya lupa pada akar perjuangan, lupa pada darah dan air mata yang mengaliri jalan kemenangan.
Baca juga: Hasto Kristiyanto Kembali Didapuk Jadi Sekjen PDIP 2025–2030, Megawati Kukuhkan Susunan DPP Baru
“Masih banyak yang tidak tahu apa itu Kudatuli, apa arti Diponegoro 58. Kita minta DPP lebih selektif menilai kader. Jangan sampai ada yang menikmati kemenangan tetapi lupa perjuangan berdarah-darah,” katanya.
Peringatan Kudatuli ke-29 tahun ini tidak hanya berupa seremoni. Setelah prosesi tabur bunga, acara dilanjutkan dengan talkshow reflektif bertajuk Peristiwa 27 Juli 1996 Sebagai Tonggak Demokrasi Indonesia. Ketua DPP PDIP Djarot Saiful Hidayat dan Ribka Tjiptaning hadir sebagai narasumber, menyampaikan narasi sejarah yang tak boleh dilupakan.
“Kami ingin generasi muda tahu, bahwa demokrasi yang mereka nikmati hari ini lahir dari jerit dan perlawanan,” ujar Djarot dalam diskusi yang berlangsung hangat namun penuh keprihatinan.
Reformasi bukanlah akhir dari perjuangan. Demikian kira-kira pesan yang ingin ditekankan dalam peringatan ini. Meski sistem sudah berubah, banyak hal yang menurut para kader PDIP masih jauh dari cita-cita reformasi. Korupsi masih merajalela, kekuasaan masih kerap dipakai untuk menekan, dan kepentingan rakyat kadang tersisih oleh pragmatisme politik.
Baca juga: Di Balik Pertemuan Dasco dan Megawati: Dari Museum Bung Karno hingga Pesan Prabowo
Bagi Ribka dan generasi 1996, Kudatuli adalah akar moral. Maka, mereka terus mengingatkan bahwa sejarah bukan hanya untuk dikenang, tapi dijadikan pedoman dalam menentukan arah masa depan.
Di tengah senja Jakarta yang berangsur gelap, nyala lilin dinyalakan satu per satu di halaman kantor partai. Masing-masing menyimbolkan nyawa yang melayang, harapan yang tumbuh, dan semangat yang tak padam.
“Kami tidak akan melupakan,” bisik seorang kader muda sambil menunduk di depan lilin-lilin kecil itu.
Editor : Redaksi