MERAHPUTIH I SURABAYA – Dinas Pendidikan Jawa Timur tengah mendorong sekolah-sekolah di wilayahnya untuk lebih kreatif dan produktif memanfaatkan lahan kosong yang ada. Melalui program School Food Care (SFC), sekolah diminta tidak hanya menjadi ruang transfer ilmu, tetapi juga pusat pembelajaran ketahanan pangan.
Kepala Dinas Pendidikan Jawa Timur, Aries Agung Paewai, menegaskan bahwa program ini merupakan bentuk nyata kontribusi dunia pendidikan dalam mendukung ketahanan pangan nasional.
Baca juga: Jatim Mantapkan Diri sebagai Lumbung Ekspor Desa, 73 Desa Devisa Baru Diresmikan di TPS Surabaya
“Kalau lahannya luas tapi dibiarkan menganggur, itu sangat disayangkan. Program SFC ini menghadirkan laboratorium alam di sekolah. Hasil pertanian, perkebunan, atau bahkan budidaya ikan bisa dibagikan kepada guru dan murid untuk perbaikan gizi. Bisa juga dijual ke masyarakat sekitar,” ujarnya saat ditemui di Surabaya, Selasa (26/8).
Program SFC bukan sekadar kegiatan tambahan sekolah, melainkan bagian dari visi besar pemerintah. Aries menegaskan, SFC sejalan dengan Asta Cita Presiden Prabowo Subianto yang menempatkan ketahanan pangan sebagai salah satu pilar utama pembangunan bangsa.
Saat ini, setidaknya 29 Sekolah Menengah Atas Negeri (SMAN) di Jawa Timur sudah menjadi pilot project program ini. Jika terbukti sukses, program akan diperluas ke seluruh sekolah menengah atas, dengan syarat satuan pendidikan memiliki lahan memadai.
Menurut Aries, dunia pendidikan tidak boleh berhenti pada tataran teori di ruang kelas. SFC dihadirkan sebagai jembatan antara kurikulum dan praktik nyata.
Baca juga: Imam Utomo Kembali Pimpin PMI Jawa Timur: Aklamasi yang Menegaskan Soliditas dan Kepercayaan Publik
“Lebih dari sekadar bercocok tanam, SFC juga menanamkan nilai produktivitas, tanggung jawab, hingga jiwa wirausaha kepada murid. Ini akan jadi bekal berharga, terutama bagi mereka yang tidak melanjutkan ke perguruan tinggi,” tegasnya.
Aries menambahkan, sektor pertanian merupakan ruang besar untuk membangun semangat kewirausahaan di kalangan pelajar. Dengan demikian, murid tidak hanya terlatih dalam ilmu akademis, melainkan juga memiliki keterampilan hidup yang relevan dengan kebutuhan masa depan.
Lebih lanjut, Aries menekankan bahwa keberhasilan program ini sangat bergantung pada peran kepala sekolah. Menurutnya, kepemimpinan yang visioner dan kolaboratif akan menciptakan iklim sekolah yang produktif.
Baca juga: Jatim Ciptakan Lompatan Ekonomi, TransJatim Jadi Sorotan: Khofifah Raih Dua Penghargaan Sekaligus
“Ketika kepala sekolah bisa menggerakkan guru, tenaga kependidikan, dan murid dalam satu visi, maka sekolah bukan hanya menjadi tempat belajar, tapi juga pusat tumbuhnya kemandirian dan kreativitas,” tandasnya.
Program SFC diharapkan menjadi bukti bahwa sekolah mampu bertransformasi menjadi agen perubahan di bidang pangan. Dengan memanfaatkan lahan sekolah, murid tidak hanya memperoleh pengalaman belajar, tetapi juga ikut merasakan manfaat gizi, ekonomi, dan kemandirian.
“Sekolah adalah ruang tumbuh nilai. Dengan SFC, kita ingin sekolah hadir sebagai kekuatan baru yang memperkuat ketahanan pangan bangsa,” tutup Aries.(dpr)
Editor : Redaksi