MERAHPUTIH | SURABAYA – Ada kejutan di tengah khidmatnya peringatan Hari Jadi ke-80 Provinsi Jawa Timur yang digelar di halaman Gedung Negara Grahadi, Minggu (12/10) pagi. Bukan hanya parade budaya dan prosesi seremonial yang menarik perhatian, namun juga aksi tak terduga dari Kepala Dinas Pendidikan Jawa Timur (Kadindik Jatim), Aries Agung Paewai, yang tampil memukau.
Alih-alih berdiri di barisan pejabat atau menyampaikan sambutan resmi, Aries memilih membaur dengan para pelajar, menjadi bagian dari pertunjukan orkestra kolosal bertajuk “Jatim Bersimfoni”. Dengan mengenakan pakaian adat khas Jawa Timuran lengkap dengan ikat kepala, ia memegang kendang Jimbe, alat musik perkusi yang menjadi simbol ritme dan semangat nusantara.
Baca juga: Satpol PP Sisir Jalan Johar–Sulung, Pemkot Surabaya Tertibkan PKL dan Parkir Liar
Dentuman kendang dari tangan Aries berpadu dengan irama biola, cello, hingga tiupan logam dari ratusan pelajar yang turut serta. Energi yang muncul di panggung terasa menggema ke seluruh penjuru lapangan, membuat penonton bersorak sekaligus larut dalam harmoni kebersamaan.
“Asik sekali bisa bermain dengan siswa-siswa bertalenta luar biasa dan berprestasi,” ucap Aries sambil tersenyum usai penampilannya.
Bagi Aries, musik bukan hal asing. Sejak muda, dunia nada dan irama sudah menjadi bagian dari hidupnya.
“Dulu waktu masih sekolah, saya sering ikut ekstrakurikuler musik. Tapi baru kali ini saya tampil bersama para siswa, dan rasanya luar biasa,” tuturnya mengenang.
Pertunjukan “Jatim Bersimfoni” sendiri merupakan kolaborasi besar antara pelajar dari berbagai kabupaten dan kota, termasuk Surabaya, Sidoarjo, Gresik, Banyuwangi, dan Madiun. Sebanyak 230 instrumen musik dimainkan oleh 260 pelajar, menampilkan perpaduan unik antara musik modern dan tradisional Jawa Timur.
Baca juga: Surabaya Kokohkan Komitmen Jaga Anak dari Ancaman Digital
Selama sekitar 10 menit, penonton disuguhkan medley lagu-lagu penuh semangat seperti Opening Theme, Kita Bisa, Semanggi Suroboyo, Indonesia Pusaka, Tanah Air, Kopi Dangdut, hingga Ekspresi. Aransemen yang dinamis membuat setiap bait lagu seolah bercerita tentang perjalanan panjang Jawa Timur menuju usia ke-80.
Menurut Aries, konsep “Jatim Bersimfoni” lahir dari semangat kolaborasi dan kreativitas generasi muda Jawa Timur. Ia menegaskan bahwa pendidikan sejatinya tidak hanya membangun kecerdasan akademik, tetapi juga mengasah rasa, kepekaan, dan karakter melalui seni.
“Pertunjukan ini membuktikan bahwa pendidikan dan seni dapat berjalan beriringan dalam membangun karakter serta identitas daerah,” ujarnya.
Baca juga: Wisuda SOTH 2025 Surabaya: Eri Cahyadi Tekankan Peran Orang Tua sebagai Fondasi Kemajuan Kota
Aksi panggung Aries pun menjadi simbol kepemimpinan yang dekat dan membumi. Ia tak sekadar hadir sebagai birokrat, melainkan sosok yang memahami denyut semangat peserta didik. Dengan memegang kendang Jimbe di tengah para pelajar, Aries seolah ingin menegaskan bahwa pemimpin pendidikan sejati adalah mereka yang mampu turun ke panggung, menyatu, dan memberi teladan lewat tindakan nyata.
“Musik menyatukan, begitu juga pendidikan. Keduanya mengajarkan harmoni,” pungkasnya penuh makna.
Harmoni yang dimainkan Aries Agung Paewai pagi itu bukan sekadar lantunan musik, melainkan simbol dari spirit pendidikan Jawa Timur yang terus bergerak dinamis, kreatif, dan berjiwa muda. Dari panggung “Jatim Bersimfoni”, gema kendang Jimbe-nya menjadi nada pembuka bagi perjalanan baru dunia pendidikan Jatim menuju masa depan yang lebih harmonis dan berdaya.(red)
Editor : Redaksi