Dinas Pendidikan Jatim tekankan pentingnya filosofi pembelajaran mendalam yang humanis dan adaptif di era digital

harianmerahputih.id
Dinas Pendidikan Jatim bersama para guru dari Jatim dalam seminar deep learning berbasis teknologi. Foto: Dinas Pendidikan Jatim

MERAHPUTIH I SURABAYA – Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur (Disdik Jatim) terus mendorong para guru untuk bertransformasi dalam proses pembelajaran dengan menerapkan konsep deep learning atau pembelajaran mendalam yang berlandaskan teknologi. Pesan tersebut mengemuka dalam seminar Deep Learning Berbasis Teknologi yang digelar bersama para pendidik se-Jatim pada Minggu (26/10/2025).

Kepala Dinas Pendidikan Jatim, Aries Agung Paewai, menegaskan bahwa deep learning bukan sekadar metode pembelajaran, melainkan filosofi yang menempatkan siswa sebagai subjek aktif. Menurutnya, guru tetap menjadi pusat kendali pendidikan, sementara teknologi hadir untuk memperkuat peran guru sebagai fasilitator yang reflektif, adaptif, dan transformatif.

Baca juga: Jatim Mantapkan Diri sebagai Lumbung Ekspor Desa, 73 Desa Devisa Baru Diresmikan di TPS Surabaya

“Teknologi bukan pengganti guru, tetapi penguat peran guru. Pembelajaran mendalam adalah proses yang menumbuhkan daya pikir, empati, dan kreativitas peserta didik,” ujar Aries.

Aries juga menambahkan, Jawa Timur telah memulai langkah konkret dalam mengintegrasikan teknologi ke dalam sistem pendidikan. Namun, integrasi tersebut baru akan bermakna jika tetap berpijak pada nilai-nilai kemanusiaan.

“Seminar ini menjadi ruang refleksi dan kolaborasi untuk memperkuat ekosistem pendidikan Jatim yang adaptif, inklusif, dan berdaya saing,” imbuhnya.

Baca juga: Imam Utomo Kembali Pimpin PMI Jawa Timur: Aklamasi yang Menegaskan Soliditas dan Kepercayaan Publik

Dalam seminar tersebut, Warsono, Ketua Dewan Pendidikan Jatim yang juga menjadi narasumber, memaparkan bahwa deep learning mendorong pembelajaran yang lebih bermakna, menyenangkan, dan berkesadaran. Ia menilai, pendidikan masa kini perlu beranjak dari pola lama yang hanya mengejar nilai dan ujian.

“Kita harus mengubah orientasi belajar. Bukan sekadar mengejar nilai, tetapi menumbuhkan cara berpikir kritis dan kemampuan memecahkan masalah,” jelasnya.

Warsono menegaskan, solusi untuk memperbaiki budaya belajar adalah dengan menumbuhkan sistem pembelajaran berbasis proyek, diskusi kritis, eksperimen, serta aktivitas kolaboratif yang melibatkan siswa secara aktif.

Baca juga: Jatim Ciptakan Lompatan Ekonomi, TransJatim Jadi Sorotan: Khofifah Raih Dua Penghargaan Sekaligus

“Budaya belajar mendalam akan melahirkan generasi pembelajar sejati yang mampu menghadapi tantangan masa depan,” tutupnya.

Melalui seminar ini, Disdik Jatim berharap semangat inovasi pendidikan berbasis deep learning dapat menular ke seluruh sekolah di Jawa Timur, sehingga lahir generasi muda yang bukan hanya cerdas secara akademis, tetapi juga tangguh secara moral dan sosial. (red) 

Editor : Redaksi

Politik
Berita Populer
Berita Terbaru