MERAHPUTIH I PACITAN — Pagi di pesisir selatan Pacitan terasa berbeda. Deru ombak bersahut dengan langkah warga yang berdatangan ke Watumejo Mangrove Park, Desa Kembang. Di antara mereka, terlihat sosok Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa berjalan menyusuri pematang berlumpur, sesekali menyapa warga. Tak jauh darinya, rocker sekaligus pegiat lingkungan Akhadi Wira Satriaji, atau lebih dikenal Kaka Slank menggulung lengan baju, ikut menancapkan bibit mangrove ke tanah pesisir, Senin (22/12/2025).
Tak ada jarak antara pemimpin, musisi, politikus dan masyarakat pagi itu. Semua menyatu dalam satu tujuan: menjaga pesisir agar tetap hidup di tengah ancaman perubahan iklim.
Baca juga: Dana Desa 2026 Disiapkan Lebih Fleksibel, Yandri Susanto Dorong Kemandirian Ekonomi Lewat KOPDES
Bagi Khofifah, mangrove bukan sekadar tanaman. Ia adalah pelindung sunyi yang bekerja tanpa suara, menahan abrasi, menjaga kualitas udara, sekaligus menopang kehidupan nelayan. Karena itu, menurutnya, menanam mangrove berarti menanam masa depan.
“Kita boleh bangga dengan penghargaan, tapi yang lebih penting adalah niat menjaga alam. Mangrove ini menyumbang oksigen dan melindungi Ibu Pertiwi,” ucap Khofifah dengan nada reflektif.
Kegiatan penanaman ini menjadi bagian dari Festival Mangrove Jawa Timur ke-9 yang bertepatan dengan peringatan Hari Ibu. Momentum tersebut memberi makna tersendiri, tentang merawat, menjaga, dan mewariskan kehidupan, seperti peran seorang ibu bagi anak-anaknya.
Festival ini menghadirkan wajah keberagaman. Pelajar, pegiat lingkungan, aparatur pemerintah, hingga warga pesisir duduk dan berdiri bersama. Mereka tidak hanya menyaksikan, tetapi terlibat langsung dalam berbagai kegiatan, mulai dari edukasi mangrove hingga pameran produk olahan berbasis ekosistem pesisir.
Sekretaris Direktorat Jenderal Pengelolaan Daerah Aliran Sungai dan Rehabilitasi Hutan Kementerian Kehutanan RI, Muhammad Zainal Arifin, menyampaikan capaian Jawa Timur dengan nada optimistis. Dalam empat tahun terakhir, luas kawasan hutan di provinsi ini bertambah sekitar 5.000 hektare.
“Capaian ini lahir dari kerja bersama, dari pemerintah sampai masyarakat di akar rumput,” ujarnya.
Bupati Pacitan, Indrata Nur Bayuaji, tak menutupi rasa bangganya. Ia melihat Festival Mangrove sebagai ruang harapan baru bagi daerahnya, bukan hanya untuk lingkungan, tetapi juga kesejahteraan warga.
Baca juga: Jawa Timur Jadi Percontohan Nasional, Ribuan Desa Terima Hibah Komputer dari Pemerintah Korea
“Kalau Bu Gubernur sering ke Pacitan, saya yakin daerah ini cepat maju,” katanya berseloroh, memecah suasana hangat di tengah kerumunan.
Pada festival ini juga menjadi pesta rakyat kecil yang sarat makna. Musik D’Wana Band mengalun dengan pesan “Lestari Hutanku”. Busana batik organik berwarna alami mangrove melenggang di panggung sederhana. Di sudut lain, warga memamerkan produk turunan mangrove hasil olahan tangan mereka sendiri.
Sore hari, ribuan pasang mata tertuju ke panggung saat Kaka Slank tampil. Lagu-lagu tentang alam dan kemanusiaan dinyanyikan, disambut koor penonton yang bertahan hingga senja. Di sela lagu, Kaka berbicara dari hati.
“Lingkungan ini rumah kita. Kalau rumah rusak, kita semua yang terdampak,” ucapnya.
Menurut Kaka, mangrove adalah penjaga pantai yang setia. Karena itu, ia percaya pesan pelestarian akan lebih mudah diterima jika disampaikan lewat bahasa yang dekat dengan masyarakat, seperti musik.
Baca juga: Khofifah Pastikan OMC Jatim Maksimalkan Mitigasi Bencana Musim Hujan
Khofifah pun sepakat. Ia menilai kehadiran figur publik mampu menjembatani pesan lingkungan kepada generasi muda dan komunitas yang lebih luas.
“Semua bahasa kita gunakan. Musik, budaya, edukasi yang penting pesannya sampai,” katanya.
Melalui festival ini, Pemprov Jatim berharap kesadaran kolektif masyarakat terhadap pentingnya ekosistem mangrove semakin menguat. Mangrove bukan hanya benteng alami dari abrasi dan bencana pesisir, tetapi juga sumber kehidupan bagi masyarakat sekitar serta penopang ekonomi hijau yang berkelanjutan.
Menjelang petang, aktivitas di Watumejo Mangrove Park mulai mereda. Namun bibit-bibit mangrove yang tertanam hari itu menyimpan cerita tentang kebersamaan, kepedulian, dan harapan. Dari Pacitan, pesan sederhana itu mengalir ke pesisir lain: menjaga alam adalah tugas bersama, demi masa depan yang lebih manusiawi dan berkelanjutan.(cit)
Editor : Redaksi