MERAHPUTIH I SURABAYA – Ketua KONI Jawa Timur Muhammad Nabil menegaskan bahwa pembinaan atlet tidak bisa berhenti pada latihan rutin dan training camp semata. Prestasi, menurutnya, harus dibuktikan secara objektif melalui keikutsertaan atlet dalam single event, baik di level nasional maupun internasional.
Hal itu disampaikan Nabil dalam refleksi akhir tahun KONI Jatim. Ia menilai kejuaraan menjadi tolok ukur paling nyata untuk membaca perkembangan atlet sekaligus menentukan arah kebijakan pembinaan ke depan.
Baca juga: Muhammad Nabil Dipercaya Lagi Pimpin KONI Jatim, Aklamasi Warnai Musorprov 2025
“Kalau hanya latihan, prestasinya belum terukur. Harus ada rekam jejak dari kejuaraan yang diikuti,” tegasnya.
KONI Jatim, lanjut Nabil, akan memperketat pemantauan kualitas latihan serta melakukan pendekatan khusus terhadap cabang olahraga (cabor) yang dalam beberapa tahun terakhir belum menunjukkan hasil maksimal. Perhatian serius diberikan pada cabor dengan jumlah peserta besar, namun perolehan medalinya masih jauh dari target.
Baca juga: KONI Surabaya Resmi Dilantik, Wali Kota Eri Pasang Target Tinggi untuk Porprov 2027
Untuk itu, KONI Jatim mendorong pembenahan sistem rekrutmen atlet yang lebih terbuka, objektif, dan berbasis prestasi. “Satu-satunya alat ukur adalah prestasi. Rekrutmen harus sportif, tanpa sekat,” ujarnya.
Nabil juga menegaskan komitmen menjadikan Jawa Timur sebagai pusat pembinaan dan pembibitan atlet nasional. Kontribusi atlet Jatim pada ajang SEA Games selama ini disebut menjadi bukti nyata peran strategis daerah dalam menopang prestasi olahraga Indonesia.
Baca juga: Jawa Timur Kokoh di Puncak: Raih Juara Umum Jujitsu di PON Bela Diri 2025 Kudus
Menutup refleksi akhir tahun, Nabil berharap prestasi olahraga Jawa Timur ke depan semakin meningkat dan terukur jelas melalui capaian di berbagai kejuaraan. “Ukurannya bukan sekadar latihan, tapi prestasi di event,” pungkasnya. (sub)
Editor : Redaksi