Arum Sabil: Khofifah Tak Hanya Bangun Ekonomi, Tapi Juga Kemanusiaan

harianmerahputih.id
Ketua Kwartir Daerah (Kwarda) Gerakan Pramuka Jawa Timur, Arum Sabil

MERAHPUTIH I PASURUAN - Negara tidak selalu hadir dalam rupa angka-angka pertumbuhan ekonomi atau deretan proyek infrastruktur. Di Pasuruan, Jawa Timur, negara hadir dalam bentuk yang lebih sunyi namun bermakna: rumah yang layak bagi mereka yang lama terpinggirkan, perhatian bagi jiwa-jiwa yang pernah dianggap tak lagi penting.

Peresmian Unit Pelaksana Teknis (UPT) Rehabilitasi Sosial Bina Laras (RSBL) Pasuruan di Kecamatan Grati, Kabupaten Pasuruan, Rabu (21/1), menjadi penanda kuat bahwa arah pembangunan Jawa Timur tidak semata bertumpu pada pertumbuhan, tetapi juga pada kemanusiaan. Fasilitas tersebut diresmikan langsung oleh Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa.

Baca juga: UPT RSBL Pasuruan, Bukti Negara Masih Peduli pada Mereka yang Disisihkan

Ketua Kwartir Daerah (Kwarda) Gerakan Pramuka Jawa Timur, Arum Sabil, memberikan apresiasi mendalam atas langkah tersebut. Menurutnya, kepemimpinan Khofifah tidak berhenti pada urusan ekonomi dan eksploitasi potensi daerah, melainkan menyentuh sisi paling dasar dari kehidupan manusia.

“Artinya, Ibu Khofifah ini memimpin bukan hanya bagaimana ekonomi tumbuh dan potensi alam Jawa Timur membawa manfaat. Tapi dari sisi kemanusiaan, beliau benar-benar menanamkan itu dari hati,” ujar Arum Sabil.

Ia menegaskan, kelompok Orang Dengan Gangguan Kejiwaan (ODGJ) selama ini kerap hidup dalam kondisi yang jauh dari kata layak. Banyak dari mereka terlantar, tidak jelas tempat tinggalnya, bahkan mengalami pemasungan. Kehadiran RSBL Pasuruan, menurutnya, memutus rantai panjang pengabaian tersebut.

“Sekarang mereka punya rumah yang layak dan benar-benar dimanusiakan. Bisa dilihat sendiri bagaimana tempat tinggalnya, kantin makannya, pengelolaannya. Ini konkret, bukan sekadar wacana,” tegasnya.

Lebih dari sekadar fasilitas rehabilitasi, RSBL Pasuruan juga menjadi ruang refleksi sosial. Arum Sabil menyebut, kunjungan ke tempat tersebut seolah menjadi ajakan untuk menanamkan rasa syukur sekaligus bercermin tentang makna kewarasan itu sendiri.

Baca juga: Khofifah Resmikan UPT Rehabilitasi Sosial Bina Laras Pasuruan, Tegaskan Negara Hadir untuk Pemulihan Mental ODGJ

“Setelah melihat ini, kita jadi bertanya-tanya. Kita ini seharusnya bersyukur karena diberi kesehatan jasmani, rohani, mental, dan kekuatan spiritual. Ibu Gubernur seakan mengajak kita semua menanamkan rasa syukur di tempat ini,” ungkapnya.

Namun refleksi itu tidak berhenti di sana. Arum bahkan melontarkan pertanyaan filosofis yang menggugah nurani banyak orang. Ia menyoroti bagaimana para penghuni RSBL, yang sering dilabeli “tidak waras”, justru mampu hidup tertib dan teratur.

“Coba lihat, wong jarene orang edan, tapi tertib dia. Antre, rapi. Kadang-kadang orang yang mengaku waras, diminta tertib malah susahnya bukan main,” ujarnya dengan nada reflektif.

Pertanyaan itu pun mengemuka: siapa sebenarnya yang waras, dan siapa yang sesungguhnya kehilangan kewarasan? Ketertiban, kedisiplinan, dan kepatuhan yang ditunjukkan para penghuni RSBL seakan menjadi potret terbalik dari realitas sosial di luar tembok panti.

Baca juga: Pemprov Jatim Tancap Gas Awal Tahun, Pasar Murah Digelar untuk Jaga Daya Beli Warga

“Wong edan diajak tertib, tertib. Wong waras diajak tertib, kadang kalah tertib. Akhirnya sing edan sing endi sakjane?” kata Arum, menyentil realitas sosial dengan lugas.

Peresmian RSBL Pasuruan tidak hanya menambah deretan fasilitas sosial di Jawa Timur, tetapi juga mempertegas arah kebijakan Pemerintah Provinsi Jawa Timur yang menempatkan nilai kemanusiaan sebagai fondasi pembangunan. Di tengah hiruk-pikuk politik dan ekonomi, langkah ini menjadi pengingat bahwa ukuran keberhasilan negara juga ditentukan oleh sejauh mana ia merawat mereka yang paling lemah.

Di Pasuruan, pembangunan berbicara dengan bahasa yang sederhana namun dalam: memanusiakan manusia.(dpr) 

Editor : Redaksi

Politik
Berita Populer
Berita Terbaru