MERAHPUTIH I SURABAYA – Gelaran Big Bad Wolf Books (BBW) Surabaya 2026 kembali menegaskan posisi Jawa Timur sebagai salah satu episentrum gerakan literasi nasional. Bazar buku internasional yang menghadirkan jutaan judul buku berkualitas dengan harga terjangkau itu dinilai mampu memperkuat budaya membaca di tengah masyarakat, sekaligus menjadi jawaban atas mahalnya harga buku di pasaran.
Kepala Dinas Pendidikan Jawa Timur, Aries Agung Paewai, menyampaikan apresiasinya terhadap konsistensi BBW yang kembali menjadikan Surabaya sebagai kota pembuka di awal 2026. Menurutnya, hal tersebut bukan tanpa alasan, melainkan cerminan kuatnya ekosistem literasi di ibu kota Jawa Timur.
Baca juga: Aset Rampasan Negara Kembali ke Rakyat, Pemprov Jatim Terima Hibah KPK Senilai Miliaran Rupiah
“Alhamdulillah, 2026 diawali lagi dengan bazar buku internasional di Jawa Timur. Ini menunjukkan bahwa minat baca dan literasi masyarakat Surabaya sangat kuat, sehingga kembali menjadi pilihan BBW,” ujar Aries saat menghadiri pembukaan BBW Surabaya 2026, Kamis (29/1).
Antusiasme masyarakat pun terlihat nyata sejak hari pertama bazar dibuka. Aries mengaku menyaksikan langsung antrean panjang pengunjung yang datang dari berbagai kalangan, mulai dari pelajar, mahasiswa, hingga keluarga.
“Tadi saya lihat sendiri antreannya panjang sekali. Ini membuktikan bahwa buku masih punya tempat di hati masyarakat. Harapan saya, bukan hanya warga Jawa Timur, tapi juga masyarakat dari luar daerah datang ke Surabaya khusus untuk membaca dan membeli buku,” tuturnya.
Lebih jauh, Aries menilai bazar buku seperti BBW memiliki peran strategis dalam mendorong kebiasaan membaca, terutama di tengah tantangan era digital yang kerap membuat masyarakat lebih banyak menghabiskan waktu untuk menggulir media sosial.
“Tidak bisa dimungkiri, harga buku saat ini relatif tinggi. Dengan adanya bazar seperti ini, harga menjadi jauh lebih kompetitif. Bahkan ada buku seharga Rp10 ribu atau Rp19 ribu. Ini sangat menarik dan bisa menjadi pintu masuk agar masyarakat kembali mencintai buku,” katanya.
Ia juga mendorong agar penyelenggaraan BBW tidak hanya terpusat di Surabaya. Menurutnya, potensi pembaca di daerah-daerah lain di Jawa Timur juga sangat besar dan layak mendapatkan akses serupa.
“Kalau bisa, ke depan BBW juga digelar di Malang atau kabupaten/kota lain. Peminatnya bukan hanya di Surabaya, tapi juga di daerah. Ini penting agar pemerataan literasi bisa benar-benar dirasakan,” ucapnya.
Sejalan dengan itu, Dinas Pendidikan Jawa Timur berencana memperkuat kolaborasi lintas sektor, khususnya dengan Dinas Perpustakaan, untuk memetakan wilayah-wilayah yang masih memiliki tingkat literasi rendah.
“Kita perlu pemetaan bersama, daerah mana yang masih membutuhkan intervensi lebih. Dengan begitu, penguatan literasi bisa dilakukan secara lebih tepat sasaran dan berkelanjutan,” kata Aries.
Sementara itu, Surabaya memiliki makna khusus dalam perjalanan Big Bad Wolf Books Indonesia. Kota Pahlawan ini menjadi pembuka rangkaian BBW 2026 sekaligus penanda satu dekade kiprah BBW Indonesia dalam membangun gerakan literasi nasional.
Founder Big Bad Wolf Books, Andrew Yap, menyebut BBW telah berkembang jauh melampaui konsep bazar buku semata. Selama sepuluh tahun terakhir, BBW hadir sebagai gerakan sosial yang berupaya mendekatkan buku dengan masyarakat luas.
“Selama satu dekade terakhir, BBW berperan membawa perubahan di Indonesia—satu buku dalam satu waktu. Surabaya menjadi kota pembuka yang sangat bermakna karena semangat membaca dan keterlibatan komunitasnya yang luar biasa,” ungkap Andrew.
Hal senada disampaikan Country Director Big Bad Wolf Books Indonesia, Marthius Wandi Budianto. Ia menuturkan bahwa perayaan satu dekade BBW Indonesia menjadi momen refleksi atas perjalanan panjang yang telah dilalui, sekaligus titik awal untuk langkah yang lebih besar ke depan.
“Sepuluh tahun BBW Indonesia berarti puluhan juta buku telah menemukan jalannya ke rumah, sekolah, dan komunitas. Di Surabaya, kami merayakan membaca sebagai pengalaman hidup yang lebih semarak dan membahagiakan,” ujarnya.
Marthius menegaskan, komitmen BBW dalam memperluas akses literasi akan terus berlanjut sepanjang 2026 dengan menyambangi 14 kota di Indonesia.
Dalam gelaran BBW Surabaya 2026 yang berlangsung hingga 8 Februari 2026, pengunjung dimanjakan dengan beragam promo menarik. Mulai dari diskon besar untuk ribuan judul buku internasional, program Serba 50K dan 100K, koleksi Clearance Books, hingga fasilitas gratis kopi dan cokelat. Tak hanya itu, tersedia pula diskon khusus bagi sekolah dan institusi pendidikan.
Melalui rangkaian program tersebut, BBW Surabaya 2026 tak sekadar menjadi ajang berburu buku murah, tetapi juga ruang pertemuan bagi komunitas, keluarga, dan generasi muda untuk kembali merayakan kegembiraan membaca sebagai bagian dari gaya hidup.(dpr)
Editor : Redaksi