MERAHPUTIH I JAKARTA – PT Kereta Api Indonesia memperkuat barisan. Memasuki akhir Januari 2026, saat potensi curah hujan ekstrem melanda sejumlah wilayah, KAI memastikan seluruh layanan perjalanan kereta api tetap aman dan andal melalui penguatan sumber daya manusia hingga kesiapan alat dan material di jalur rawan.
Langkah antisipatif ini dilakukan untuk menjaga keselamatan perjalanan kereta api di tengah dinamika cuaca yang kian tak menentu. KAI menyiagakan personel lapangan, peralatan teknis, serta sistem manajemen krisis yang terintegrasi melalui skema Manajemen Alat Material Untuk Siaga (AMUS).
Baca juga: KA Gajayana Perkuat Mobilitas Malang–Jakarta, Layani 380 Ribu Penumpang Sepanjang 2025
Vice President Corporate Communication KAI, Anne Purba, menegaskan bahwa keselamatan perjalanan menjadi prioritas utama perusahaan dalam menghadapi potensi gangguan akibat hujan ekstrem, khususnya risiko banjir dan pergerakan tanah di lintas kereta api.
“KAI tidak menunggu kejadian. Seluruh jajaran sudah disiagakan untuk merespons cepat setiap potensi gangguan, agar perjalanan kereta api tetap aman dan lancar,” ujar Anne.
Sebagai bagian dari penguatan kesiapsiagaan, KAI mengerahkan 355 tenaga ekstra, 861 Petugas Jaga Lintasan (PJL) tambahan, serta petugas penjaga daerah rawan yang ditempatkan di titik-titik dengan tingkat risiko tinggi di berbagai wilayah operasional.
Para petugas tersebut bekerja dengan sistem siaga 24 jam non-stop, terbagi dalam tiga shift, sehingga pengawasan kondisi jalur rel dapat dilakukan secara berkelanjutan, baik siang maupun malam.
Tak hanya mengandalkan sumber daya manusia, KAI juga menyiapkan Alat Material untuk Siaga (AMUS) di lokasi-lokasi strategis. Sistem ini memungkinkan alat dan material penting sudah berada di titik rawan sebelum gangguan terjadi, sehingga proses penanganan dapat dilakukan lebih cepat dan efektif.
Baca juga: KAI Mulai Jual Tiket Mudik Lebaran 2026, Puluhan Ribu Kursi Sudah Terpesan
AMUS sendiri ditopang oleh empat pilar utama, mulai dari kesiapan alat kerja seperti mesin pemadat badan jalan rel, ekskavator, hingga genset; ketersediaan material seperti karung pasir, batu balas, bantalan dan rel; kesiapan sarana angkut khusus pemeliharaan jalur; hingga siaga personel dengan sistem komando terintegrasi dari pusat hingga wilayah.
“Dengan AMUS, KAI tidak hanya bersifat reaktif, tapi juga preventif. Setiap potensi gangguan sudah dipetakan dan disiapkan skenario penanganannya,” jelas Anne.
Selain itu, KAI secara rutin memantau prakiraan cuaca dari instansi terkait serta melakukan inspeksi intensif di titik rawan banjir, genangan, dan pergerakan tanah. Langkah ini memungkinkan tindakan dini dilakukan sebelum gangguan berkembang menjadi krisis operasional.
Baca juga: KA Brantas Angkut Hampir 489 Ribu Penumpang Sepanjang 2025
Anne menegaskan, seluruh upaya tersebut merupakan bentuk komitmen KAI dalam menjaga keselamatan, keamanan, dan kenyamanan pelanggan, sekaligus memastikan mobilitas nasional tetap berjalan di tengah tantangan perubahan iklim.
“Kami ingin masyarakat bepergian dengan tenang. Di balik setiap perjalanan kereta api yang lancar, ada ratusan Insan KAI yang bekerja siaga 24 jam. Hujan boleh ekstrem, tapi kesiapan KAI harus selalu maksimal,” tegasnya.
Dengan sistem kesiapsiagaan yang semakin terintegrasi dan berbasis manajemen risiko, KAI optimistis dapat terus menjaga keandalan layanan transportasi rel serta mendukung pergerakan masyarakat dan perekonomian nasional secara berkelanjutan.(red)
Editor : Redaksi