MERAHPUTIH I SURABAYA - Surabaya kembali menjadi ruang perenungan sejarah. Di tengah dinamika politik nasional dan peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-18 Partai Gerindra, Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Partai Gerindra Surabaya memilih jalan sunyi: berziarah ke makam Pahlawan Nasional Sutomo atau Bung Tomo. Langkah ini bukan sekadar seremoni, melainkan ikhtiar meneguhkan kembali nilai-nilai perjuangan yang menjadi fondasi lahirnya republik.
Ziarah tersebut menjadi bagian dari rangkaian peringatan HUT Partai Gerindra yang ke-18. Ketua DPC Partai Gerindra Surabaya, Cahyo Harjo Prakoso, menegaskan bahwa Bung Tomo bukan hanya simbol heroisme masa lalu, melainkan teladan moral dan ideologis bagi kader partai dalam menjalankan peran politik di tengah masyarakat.
Baca juga: Gerindra Surabaya Pilih Jalan Pengabdian di Usia ke-18, Kader Turun Langsung Layani Warga
“Hari ini kami keluarga besar DPC Gerindra Surabaya berziarah ke makam Bung Tomo sebagai bentuk penghormatan kepada pejuang kemerdekaan sekaligus pejuang kebangsaan asli Surabaya,” ujar Cahyo di Surabaya, Kamis (5/2).
Menurut Cahyo, ziarah ini telah dirancang jauh hari sebelumnya dan tidak berkaitan langsung dengan pernyataan Presiden Prabowo Subianto yang belakangan menyinggung keberadaan rumah radio Bung Tomo. Ia menekankan bahwa agenda tersebut murni dilandasi semangat refleksi sejarah dan penguatan karakter kader.
Bagi Gerindra Surabaya, Bung Tomo adalah representasi keberanian, keberpihakan, dan pengorbanan tanpa pamrih. Nilai-nilai inilah yang dinilai relevan untuk ditanamkan kembali di tengah praktik politik modern yang kerap kehilangan arah dan substansi.
Cahyo yang juga Anggota DPRD Jawa Timur menegaskan, kader Gerindra tidak boleh terjebak dalam politik transaksional semata. Ia mengingatkan pesan Ketua Umum sekaligus Ketua Dewan Pembina Partai Gerindra, Prabowo Subianto, bahwa kader Gerindra adalah pejuang politik—bukan sekadar politisi.
“Kami diingatkan bahwa kami bukan sekadar politisi, melainkan pejuang politik yang harus memperjuangkan kemaslahatan masyarakat,” tegasnya.
Baca juga: Gerindra Jatim Galang Rp805 Juta untuk Korban Banjir Sumatera, Tujuh Truk Bantuan Diberangkatkan
Dalam konteks tersebut, ziarah ke makam Bung Tomo menjadi momentum refleksi kolektif untuk kembali memegang teguh nilai Pancasila, Undang-Undang Dasar 1945, serta menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Pejuang politik, kata Cahyo, dituntut menunjukkan sikap, etika, dan keberpihakan yang jelas kepada rakyat.
“Pejuang politik itu perilakunya harus berbeda. Kepentingan rakyat harus menjadi panglima, dan nilai-nilai kebangsaan harus dijunjung tinggi dalam setiap langkah perjuangan,” ujarnya.
Selain memanjatkan doa, rombongan DPC Gerindra Surabaya juga berupaya menggali kembali spirit perjuangan Bung Tomo sebagai fondasi moral dalam menjalankan tugas-tugas politik di tengah masyarakat Surabaya yang majemuk dan dinamis.
Menanggapi pernyataan Presiden Prabowo Subianto terkait rumah radio Bung Tomo, Cahyo mengakui adanya perbedaan persepsi di tengah masyarakat yang berpotensi menimbulkan kekaburan sejarah. Ia menilai, persoalan sejarah harus disikapi secara jernih, objektif, dan melibatkan seluruh pemangku kepentingan.
Baca juga: Tasyakuran Resmi Digelar, Padahal Jasa Syaikhona Kholil Telah Mengakar Seabad Lebih
Untuk itu, DPC Gerindra Surabaya mendorong anggota DPRD Kota Surabaya dari Fraksi Gerindra agar segera berkoordinasi dengan dinas terkait serta Pemerintah Kota Surabaya. Langkah ini dinilai penting sebagai bagian dari tanggung jawab politik dan moral dalam meluruskan sejarah perjuangan bangsa.
Ke depan, DPRD Kota Surabaya juga direncanakan akan menggelar rapat dengar pendapat (RDP) guna mencari solusi terbaik, sekaligus menindaklanjuti arahan Presiden terkait pelestarian nilai-nilai sejarah Bung Tomo.
Bagi Gerindra Surabaya, ziarah ini bukan sekadar mengenang masa lalu, tetapi meneguhkan arah perjuangan ke depan, bahwa politik sejatinya adalah pengabdian, dan kekuasaan adalah alat untuk memperjuangkan kepentingan rakyat serta menjaga marwah bangsa.(dpr)
Editor : Redaksi