MERAHPUTIH I SURABAYA – Prestasi membanggakan kembali ditorehkan seniman Jawa Timur. Grup Reog Kyai Lodra asal Surabaya sukses menjadi Juara Umum pada Festival Nasional Reog Ponorogo (FNRP) XXXI Tahun 2026 sekaligus membawa pulang Piala Bergilir Presiden Republik Indonesia.
Atas capaian tersebut, Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa, menerima langsung rombongan tim Reog Kyai Lodra dan memberikan apresiasi atas keberhasilan mereka mengharumkan nama Jawa Timur di ajang bergengsi tingkat nasional tersebut.
Baca juga: Pemprov Jatim Gandeng Sekolah dan Kampus Swasta Sediakan Puluhan Ribu Beasiswa
Sebagai bentuk penghargaan, Pemerintah Provinsi Jawa Timur memberikan uang pembinaan sebesar Rp40 juta kepada tim Reog Kyai Lodra. Selain itu, setiap talent yang terlibat dalam pertunjukan juga mendapatkan apresiasi berupa bantuan sebesar Rp1 juta per orang.
Khofifah mengaku bangga atas pencapaian luar biasa yang diraih para seniman muda tersebut. Menurutnya, kemenangan ini bukan hanya menjadi kebanggaan bagi Surabaya, tetapi juga bagi seluruh masyarakat Jawa Timur karena menunjukkan bahwa regenerasi pelaku seni tradisional berjalan dengan baik.
“Prestasi ini membuktikan bahwa kesenian tradisional Jawa Timur mampu tampil kompetitif dan menjadi yang terbaik di tingkat nasional. Ini adalah hasil kerja keras, dedikasi, dan kecintaan generasi muda terhadap budaya bangsa,” ujarnya.
Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Jawa Timur, Evy Afianasari, menjelaskan bahwa kelompok kesenian tersebut tampil pada FNRP XXXI dengan nomor urut dua pada 13 Juni 2026. Hasilnya, Reog Kyai Lodra tidak hanya meraih Juara Umum, tetapi juga memborong sejumlah penghargaan bergengsi lainnya.
“Mereka berhasil meraih Juara Umum, Penyaji Terbaik, Penata Tari Terbaik, dan Penata Musik Terbaik sehingga berhak membawa Piala Presiden Republik Indonesia,” kata Evy.
Ia menyampaikan bahwa keberhasilan tersebut merupakan buah dari pembinaan yang dilakukan secara konsisten serta dukungan berbagai pihak, termasuk sponsor seperti Bank Jatim dan Wings Group Indonesia.
Menurut Evy, Paguyuban Reog Kyai Lodra selama ini menjadi wadah pembelajaran sekaligus laboratorium budaya yang profesional. Mereka aktif melakukan regenerasi pelaku seni dengan melibatkan para maestro, akademisi, dan tenaga pendidik dalam proses pembinaan.
“Yang hadir hari ini sebagian besar adalah seniman-seniman muda yang sebelumnya belum pernah merasakan tampil di panggung nasional. Mereka berasal dari berbagai sekolah dan perguruan tinggi, seperti SMK Negeri 12 Surabaya, STKW, Unesa, hingga SMK Hang Tuah,” ujarnya.
Baca juga: Khofifah Pimpin Panen dan Tanam Tebu Serentak, Jatim Perkuat Langkah Menuju Swasembada Gula
Evy menambahkan, pembinaan tersebut merupakan implementasi program prioritas Pemprov Jatim melalui Nawa Bhakti Satya, khususnya program Seni Waris yang berfokus pada pelestarian kebudayaan daerah.
Program itu juga menjadi bagian dari upaya memperkuat eksistensi Reog Ponorogo sebagai warisan budaya dunia melalui berbagai langkah lanjutan, termasuk pemberdayaan desa wisata dan pelestarian habitat burung merak hijau yang menjadi bagian penting dari kesenian reog.
Sementara itu, Ketua Tim Reog Kyai Lodra Jawa Timur, Joko Winarko, menyampaikan rasa terima kasih atas kepercayaan dan dukungan yang diberikan Gubernur Jawa Timur kepada paguyuban yang dipimpinnya.
Ia menjelaskan bahwa program regenerasi yang dilakukan tidak hanya bertujuan mencetak penampil reog berkualitas, tetapi juga menanamkan nilai keberanian, disiplin, tanggung jawab, serta kecintaan terhadap budaya bangsa kepada generasi muda.
“Kami merekrut talent-talent yang sebelumnya belum pernah mendapatkan pendampingan khusus dalam kesenian reog. Karena itu, kami harus menyusun metode pelatihan yang tepat dan menjalankan proses pembinaan secara serius serta berkelanjutan,” ungkapnya.
Baca juga: Khofifah Raih Penghargaan KPK, Jatim Lampaui Target Program ASN Berintegritas
Joko mengungkapkan, sebanyak 77 talent yang terdiri atas penari dan pengrawit terlibat dalam program pelatihan intensif tersebut. Hasil pembinaan kemudian diuji melalui partisipasi pada Festival Nasional Reog Ponorogo ke-31.
“Alhamdulillah kami berhasil meraih Juara Umum, sekaligus memperoleh penghargaan Penata Musik Terbaik dan Penata Tari Terbaik. Prestasi ini merupakan buah kerja keras seluruh tim, peserta, pelatih, serta dukungan berbagai pihak,” katanya.
Keberhasilan itu semakin lengkap karena Paguyuban Reog Kyai Lodra juga mendapat kehormatan menerima tawaran tampil dalam pentas spesial peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia di Istana Presiden, Jakarta.
Momentum tersebut menjadi bukti bahwa kesenian tradisional Jawa Timur tidak hanya mampu bertahan di tengah perkembangan zaman, tetapi juga terus berkembang melalui sentuhan generasi muda yang berkomitmen menjaga warisan budaya leluhur. Dengan dukungan pemerintah, dunia pendidikan, dan masyarakat, Reog Ponorogo diyakini akan terus menjadi identitas budaya yang membanggakan Indonesia di tingkat nasional maupun internasional. (pps)
Editor : Redaksi