Jatim Perkuat Pariwisata Berbasis Desa, 700 Desa Wisata Jadi Motor Pergerakan Wisatawan Nusantara

harianmerahputih.id
Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Jawa Timur, Evy Afianasari

MERAHPUTIH i SURABAYA - Pemerintah Provinsi Jawa Timur terus memperkuat sektor pariwisata berbasis masyarakat melalui pengembangan desa wisata yang kini jumlahnya telah mencapai sekitar 700 desa. Langkah tersebut menjadi bagian dari strategi untuk menjaga dominasi wisatawan nusantara sebagai pasar utama pariwisata Jawa Timur sekaligus meningkatkan kualitas layanan destinasi di berbagai daerah.

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Jawa Timur, Evy Afianasari, mengatakan bahwa wisatawan domestik masih menjadi tulang punggung industri pariwisata di Jawa Timur. Besarnya jumlah kunjungan wisatawan nusantara didukung oleh keragaman destinasi yang tersebar di berbagai wilayah serta kemudahan akses antarobjek wisata yang relatif berdekatan.

Baca juga: Wisman Meningkat, Pemprov Jatim Siapkan Regulasi Ketat Jip Bromo dan Wisata Berisiko Tinggi

"Pasar terbesar kita memang wisatawan nusantara. Jawa Timur memiliki banyak pilihan destinasi wisata, mulai dari wisata alam, budaya, sejarah hingga desa wisata yang terus berkembang. Karena jarak antar destinasi cukup dekat dan biaya perjalanan masih terjangkau, mobilitas wisatawan domestik sangat tinggi," ujar Evy kepada awak media di Gedung Negara Grahadi Surabaya, Jumat (19/6).

Menurutnya, perkembangan desa wisata menjadi salah satu fenomena positif dalam beberapa tahun terakhir. Desa-desa yang sebelumnya belum dikenal kini mulai mampu menarik perhatian wisatawan karena menawarkan pengalaman berbeda yang mengedepankan kearifan lokal, budaya, kuliner, hingga keindahan alam pedesaan.

Pemprov Jatim pun terus mendorong peningkatan kapasitas pengelola desa wisata melalui program Empowerment and Resilience Desa Wisata. Program tersebut difokuskan pada penguatan sumber daya manusia, peningkatan kualitas pelayanan kepada wisatawan, serta pembenahan aspek kebersihan yang menjadi salah satu indikator utama kenyamanan pengunjung.

Evy menjelaskan bahwa daya saing sebuah destinasi tidak hanya ditentukan oleh keindahan alam semata, tetapi juga oleh kualitas pelayanan yang diberikan kepada wisatawan. Karena itu, pelatihan dan pendampingan kepada pengelola desa wisata menjadi agenda penting yang terus dilakukan secara berkelanjutan.

"Kita memberikan penguatan kepada SDM desa wisata agar mereka mampu memberikan pelayanan yang baik kepada wisatawan. Selain itu, aspek kebersihan juga menjadi perhatian utama karena wisatawan saat ini semakin kritis terhadap kualitas lingkungan destinasi yang mereka kunjungi," katanya.

Baca juga: Pemprov Jatim Gandeng Sekolah dan Kampus Swasta Sediakan Puluhan Ribu Beasiswa

Lebih lanjut, Evy menilai tren wisata saat ini telah mengalami perubahan. Wisatawan tidak lagi sekadar mencari lokasi yang menarik untuk dikunjungi, tetapi juga pengalaman yang autentik dan berkesan. Desa wisata dinilai mampu menjawab kebutuhan tersebut karena menawarkan interaksi langsung dengan masyarakat lokal.

Keberadaan desa wisata juga memberikan dampak ekonomi yang signifikan bagi masyarakat setempat. Mulai dari sektor penginapan, kuliner, kerajinan hingga jasa pemandu wisata memperoleh manfaat dari meningkatnya kunjungan wisatawan.

Selain menggerakkan ekonomi lokal, pengembangan desa wisata juga menjadi instrumen penting dalam menjaga kelestarian budaya dan lingkungan. Masyarakat didorong untuk mempertahankan tradisi lokal sekaligus menjaga kebersihan dan kelestarian alam sebagai aset utama pariwisata.

Di tengah berbagai tantangan ekonomi global, sektor pariwisata Jawa Timur dinilai masih memiliki prospek yang cerah. Evy menegaskan bahwa keputusan seseorang untuk berwisata tidak semata-mata dipengaruhi kondisi nilai tukar mata uang asing atau faktor ekonomi makro lainnya.

Baca juga: OPOP Jatim dan Unair Dorong Koperasi Pesantren Bertransformasi Jadi Kekuatan Ekonomi Modern

Menurutnya, pariwisata kini telah menjadi bagian dari kebutuhan masyarakat yang memiliki segmentasi pasar tersendiri. Banyak wisatawan tetap melakukan perjalanan karena memang memiliki kebutuhan untuk berlibur, mencari pengalaman baru, maupun melepas penat dari rutinitas sehari-hari.

"Pariwisata saat ini sudah menjadi kebutuhan tersier yang memiliki pasar sendiri. Jadi faktor kunjungan wisatawan tidak hanya dipengaruhi oleh nilai tukar dolar atau kondisi ekonomi global, tetapi karena mereka memang ingin melakukan perjalanan wisata," ungkapnya.

Dengan dukungan ratusan desa wisata yang terus berkembang, Pemprov Jatim optimistis sektor pariwisata daerah akan semakin kompetitif dan mampu menjadi salah satu penggerak utama pertumbuhan ekonomi daerah dalam beberapa tahun mendatang.(pps)

Editor : Redaksi

Politik
Berita Populer
Berita Terbaru