MERAHPUTIH I SURABAYA – Polemik antara Founder Bani Insan Peduli (BIP), Ali Zainal Abidin, dengan Arief Rakhman Hakim atau yang lebih dikenal sebagai Arief Camra memasuki babak baru. Setelah ramai menjadi perbincangan di media sosial akibat unggahan mengenai batalnya bantuan senilai Rp2 miliar untuk Griya Lansia Husnul Khotimah, Malang dan Griya Yatim SYD Indonesia, Sidoarjo, kedua belah pihak akhirnya menyampaikan penjelasan masing-masing kepada awak media.
Persoalan tersebut menjadi perhatian luas masyarakat. Video dan unggahan yang beredar di berbagai platform media sosial memperoleh ribuan tanda suka dan komentar, sehingga memunculkan beragam persepsi di tengah publik mengenai penyebab batalnya komitmen bantuan yang sebelumnya telah diumumkan.
Menanggapi situasi tersebut, Founder Bani Insan Peduli (BIP), Ali Zainal Abidin, menggelar konferensi pers untuk memberikan klarifikasi. Ia menegaskan bahwa penyampaian kepada media merupakan penjelasan pertama sekaligus yang terakhir dari pihaknya mengenai persoalan tersebut.
Ali mengawali keterangannya dengan menyampaikan bahwa sejak polemik mencuat dirinya sengaja memilih diam. Bahkan, ia mengaku tidak pernah membuka berbagai video maupun unggahan yang beredar di media sosial karena tidak ingin larut dalam polemik.
"Sebetulnya saya sangat enggan memberikan klarifikasi seperti ini. Saya bukan orang yang suka berpolemik. Tetapi banyak relawan meminta saya menjelaskan duduk persoalannya supaya tidak muncul berbagai asumsi di masyarakat," ujar Ali kepada awak media di Surabaya, Minggu (12/7).
Menurutnya, klarifikasi tersebut juga merupakan bentuk tanggung jawab kepada para relawan BIP yang selama ini ikut menjalankan berbagai kegiatan sosial.
Pilih Menahan Diri
Dalam konferensi pers itu, Ali berkali-kali menegaskan bahwa dirinya tidak memiliki rasa benci kepada Arief Camra meskipun dalam beberapa unggahan media sosial muncul berbagai tudingan terhadap dirinya maupun lembaga yang dipimpinnya.
Ia justru memilih mencontoh ajaran Nabi Muhammad SAW yang mengedepankan kesabaran ketika menghadapi perlakuan yang tidak menyenangkan.
Pengusaha asal Pamekasan itu mengutip sejumlah kisah keteladanan Rasulullah SAW yang menurutnya mengajarkan umat Islam untuk membalas keburukan dengan doa dan kebaikan, bukan permusuhan.
"Saya tidak pernah mengajak relawan membalas. Dari awal saya hanya meminta mereka diam dan bersabar. Saya juga tidak pernah meminta siapa pun menyerang Pak Arief," katanya.
Menurut Ali, dirinya telah menginstruksikan seluruh relawan BIP agar tidak memperpanjang polemik di media sosial.
"Saya hanya ingin semuanya menyampaikan apa adanya. Tidak perlu memperkeruh keadaan," tuturnya.
Tetap Menghormati Arief Camra
Dalam kesempatan tersebut, Ali bahkan menyampaikan penghormatan kepada Arief Camra. Ia mengaku masih menganggap Arief sebagai sosok yang memiliki pengalaman dalam mengelola lembaga sosial, khususnya Griya Lansia.
Ali mengatakan apabila suatu saat diundang, dirinya tetap bersedia datang ke Griya Lansia untuk belajar mengenai pengelolaan lembaga sosial.
"Saya tetap menghormati Pak Arief. Saya bahkan siap datang kalau diundang. Saya merasa masih banyak yang bisa dipelajari dari beliau," ujarnya.
Ia juga berharap Arief maupun timnya dapat menyaksikan konferensi pers yang digelar sehingga mengetahui secara langsung isi klarifikasi yang disampaikan.
Menurut Ali, dirinya tidak memiliki keinginan menghubungi Arief untuk meminta agar berbagai unggahan di media sosial dihapus.
"Saya tidak akan menelepon meminta video dan unggahan yang beredar di berbagai platform media sosial diturunkan (take down). Saya percaya hati kecil beliau baik. Saya berharap beliau melihat klarifikasi ini dan semuanya bisa menjadi lebih baik," katanya.
Sebut BIP Belum Pernah Bermasalah
Ali menegaskan bahwa sejak Bani Insan Peduli berdiri pada akhir 2023, lembaga tersebut tidak pernah menghadapi persoalan seperti yang terjadi saat ini.
"BIP ini masih sangat muda. Selama hampir tiga tahun berjalan tidak pernah ada masalah seperti ini. Saya tidak ingin masyarakat kemudian berpikir buruk kepada siapa pun," ujarnya.
Menurut Ali, konflik yang terjadi justru harus dipandang sebagai ujian yang dapat menjadi pembelajaran bagi semua pihak.
Ia meminta masyarakat tidak terburu-buru memberikan penilaian negatif kepada Arief maupun kepada BIP.
"Bisa jadi ini adalah ujian untuk kami berdua agar setelah ini menjadi lebih baik," ucapnya.
Akhiri Klarifikasi dengan Ayat Al-Qur'an
Menjelang akhir konferensi pers, Ali membacakan Surah Ali Imran ayat 134 yang berisi tentang keutamaan orang-orang yang gemar berinfak, mampu menahan amarah, dan memaafkan sesama.
Ia menjelaskan bahwa ayat tersebut menjadi pegangan bagi seluruh relawan BIP dalam menghadapi persoalan yang sedang terjadi.
Menurutnya, nilai-nilai tersebut harus menjadi landasan dalam menjalankan kegiatan sosial agar tidak mudah terprovokasi oleh situasi yang berkembang.
Ali kemudian mengajak semua pihak untuk tetap berlomba-lomba dalam berbuat kebaikan dan berharap polemik yang terjadi dapat segera berakhir.
Arief Camra Beri Penjelasan
Sementara itu, usai konferensi pers, sejumlah wartawan menghubungi Arief Camra melalui sambungan telepon untuk meminta tanggapan atas berbagai pernyataan yang disampaikan oleh Ali Zainal Abidin.
Dalam penjelasannya, Arief mengungkapkan bahwa persoalan bermula ketika tim BIP beberapa kali melakukan survei ke Griya Lansia Malang terkait rencana pemberian bantuan.
Menurut Arief, dalam proses pembahasan tersebut muncul syarat agar sejumlah fasilitas yang dibangun menggunakan bantuan BIP menggunakan nama atau label "Bani".
Ia mengaku sejak awal tidak menyetujui ketentuan tersebut.
"Saya tidak keberatan kalau ditulis bantuan dari Bani Insan Peduli. Tetapi kalau nama masjid atau pemakaman harus menggunakan nama Bani, saya tidak setuju. Saya menawarkan cukup ditulis bantuan dari Bani Insan Peduli, bukan mengganti nama fasilitasnya," ujar Arief.
Menurutnya, perbedaan pandangan mengenai hal tersebut menjadi salah satu awal munculnya persoalan.
Bantuan Disebut Dibatalkan
Arief juga menjelaskan bahwa dirinya sempat menerima dana sebesar Rp250 juta yang kemudian dibagikan kepada puluhan karyawan sesuai arahan yang diterimanya saat itu.
Ia mengatakan dana tersebut telah disalurkan kepada 49 karyawan Griya Lansia masing-masing sebesar Rp2,5 juta dan kepada 22 karyawan Griya Yatim masing-masing Rp1 juta.
Namun, ketika menanyakan kelanjutan program bantuan, Arief mengaku menerima informasi bahwa komitmen bantuan dibatalkan dan diminta mengembalikan sisa dana yang belum digunakan.
"Saya hanya meminta kepastian apakah program ini diteruskan atau tidak. Yang saya terima justru pemberitahuan bahwa bantuan dibatalkan dan sisanya diminta dikembalikan," katanya.
Tolak Disebut Guru
Dalam konferensi pers, Ali beberapa kali menyebut dirinya masih menganggap Arief sebagai guru.
Namun pernyataan tersebut ditanggapi berbeda oleh Arief.
Ia menyatakan tidak layak disebut sebagai guru dan memilih merendahkan diri.
"Jangan dijadikan guru. Saya ini orang biasa saja dan tidak pantas disebut seperti itu," ujarnya.
Soal Nomor Rekening dan Pembebasan Lahan
Arief juga menjelaskan alasan dirinya sempat meminta nomor rekening BIP.
Menurutnya, permintaan tersebut dilakukan karena dirinya diminta mengembalikan sisa dana bantuan sehingga membutuhkan rekening tujuan pengembalian.
Selain itu, Arief membantah pernyataan mengenai nilai pembebasan lahan yang disebut mencapai Rp450 juta.
Ia menegaskan bahwa sejak awal harga yang ditawarkan pemilik lahan berada di kisaran Rp900 juta.
"Itu sejak awal sudah saya sampaikan. Jadi menurut saya angkanya bukan seperti yang disebutkan," kata Arief.
Harapan ke Depan
Arief berharap apabila ada kerja sama bantuan sosial di masa mendatang, seluruh persyaratan dan mekanisme disampaikan secara terbuka sejak awal sehingga tidak memunculkan perbedaan persepsi.
"Kalau memang ada syarat tertentu, sebaiknya dijelaskan dari awal. Jadi semua pihak memahami komitmen masing-masing," ujarnya.
Ketika ditanya mengenai kemungkinan dilakukan islah atau perdamaian, Arief menyatakan tetap berpegang pada pengalaman yang dialaminya selama proses komunikasi berlangsung.(pps)
Editor : Redaksi