Libur Usai, Galau Datang: Post Holiday Blues Mengintai Usai Lebaran, Ini Cara Menghadapinya

Saat rutinitas mulai kembali memanggil, tak sedikit orang justru merasa murung, malas, bahkan kehilangan semangat. Fenomena ini dikenal dengan istilah post holiday blues.
Saat rutinitas mulai kembali memanggil, tak sedikit orang justru merasa murung, malas, bahkan kehilangan semangat. Fenomena ini dikenal dengan istilah post holiday blues.

MERAHPUTIH I SURABAYA — Euforia kumpul keluarga, obrolan hangat di meja makan, serta tawa yang mengiringi malam-malam panjang selama libur Idulfitri, kini tinggal kenangan. Saat rutinitas mulai kembali memanggil, tak sedikit orang justru merasa murung, malas, bahkan kehilangan semangat. Fenomena ini dikenal dengan istilah post holiday blues.

Bukan hal aneh. Uswatun Hasanah, dosen Keperawatan Jiwa dari Fakultas Ilmu Kesehatan (FIK) Universitas Muhammadiyah Surabaya, menjelaskan bahwa kondisi tersebut kerap muncul setelah momen liburan panjang — termasuk usai Lebaran.

"Perasaan sedih itu muncul karena harus berpisah dari suasana nyaman, penuh kasih, bersama keluarga atau teman selama libur panjang. Ketika kembali ke rutinitas yang monoton, muncul rasa hampa dan enggan untuk memulai hari," jelas Uswatun, Selasa (8/4/2025).

Menurutnya, tanda-tanda post holiday blues bisa berbeda pada setiap orang. Namun gejala umum seperti sedih berkepanjangan, tidak bersemangat, sulit konsentrasi, hingga gangguan tidur dan nafsu makan, kerap menjadi alarm awal. Bahkan, beberapa orang bisa merasakan keluhan fisik seperti sakit kepala atau kelelahan akibat stres.

Lantas, bagaimana cara menghadapi rasa blues pasca-liburan ini?

Pertama, kata Uswatun, akui dan terima perasaan tersebut. "Normal kok merasa sedih setelah liburan. Jangan ditolak atau dilawan. Justru dengan menerima, kita bisa lebih cepat mengatasinya," ujarnya.

Kedua, isi hari dengan aktivitas bermakna. Bangun rutinitas baru yang tidak hanya produktif tapi juga menyenangkan. Bisa dimulai dari hal-hal sederhana seperti jalan pagi, menata ulang ruang kerja, atau menulis jurnal harian.

Ketiga, lakukan reminisensi — mengenang kembali momen-momen indah saat liburan. "Mengingat kembali cerita-cerita lucu atau hangat bersama keluarga bisa membuat hati lebih ringan. Kalau perlu, ajak ngobrol teman atau keluarga dan saling berbagi cerita," tuturnya.

Keempat, tetap jalin komunikasi dengan orang-orang terdekat, meskipun terpisah jarak. Hubungan sosial yang baik bisa menjadi penyangga emosi yang kuat.

Kelima, susun rencana liburan berikutnya. Menurut Uswatun, "Memiliki sesuatu untuk dinanti bisa membangkitkan semangat dan memberi motivasi baru dalam menjalani hari."

Dan yang terakhir, jangan lupakan waktu untuk diri sendiri. Luangkan waktu untuk relaksasi seperti meditasi, yoga, atau sekadar membaca buku favorit. Perawatan diri adalah langkah penting dalam menjaga kesehatan mental.

Uswatun menekankan bahwa post holiday blues umumnya bersifat sementara. Namun, jika perasaan tersebut tak kunjung reda hingga lebih dari dua minggu atau satu bulan, ada baiknya mencari bantuan profesional.

"Yang paling penting adalah sadar bahwa kita tidak sendirian dalam perasaan ini. Banyak orang juga mengalaminya, dan itu manusiawi," pungkasnya. (red)

Editor : prass prasetyo